• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Distribusi Tidak Merata An...

Distribusi Tidak Merata Ancam Peningkatan Kematian

Rabu, 03 Jun 2026, 07:27 WIB

ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa dunia masih menghadapi tantangan serius dalam ketersediaan darah untuk kebutuhan medis. Meskipun hampir 120 juta kantong darah didonorkan setiap tahun di seluruh dunia, namun jumlah tersebut dinilai belum cukup untuk memenuhi kebutuhan pasien yang memerlukan transfusi secara tepat waktu dan aman.

Dalam laporan terbaru mengenai keamanan dan ketersediaan darah, WHO menyebutkan bahwa ketimpangan pasokan darah masih menjadi persoalan utama, terutama di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah. Kesenjangan ini berpotensi menyebabkan keterlambatan penanganan pasien dan meningkatkan risiko kematian yang sebenarnya dapat dicegah.

Ket. Foto: Pengambilan sampel darah. — Sumber: Miguel MEDINA / AFP

“Darah yang aman dan tersedia merupakan fondasi penting dari setiap sistem kesehatan,” tulis WHO dalam laporannya. Namun, organisasi tersebut menegaskan bahwa banyak pasien di berbagai belahan dunia masih belum memiliki akses terhadap transfusi darah yang aman ketika dibutuhkan.

WHO mencatat sekitar 118,5 juta donor darah terkumpul setiap tahun secara global. Namun distribusinya sangat tidak merata. Sebanyak 40 persen dari total donor darah dunia berasal dari negara-negara berpendapatan tinggi yang hanya dihuni sekitar 16 persen populasi dunia. Sebaliknya, negara-negara berpendapatan rendah dan menengah yang menampung mayoritas penduduk dunia harus berbagi pasokan darah yang jauh lebih terbatas.

Perbedaan tersebut juga terlihat dari tingkat donor darah per 1.000 penduduk. Di negara berpendapatan tinggi, rata-rata terdapat 31,5 donor per 1.000 penduduk. Angka itu turun menjadi 16,4 donor di negara berpendapatan menengah atas, 6,6 donor di negara berpendapatan menengah bawah, dan hanya 5 donor per 1.000 penduduk di negara berpendapatan rendah.

Data WHO menunjukkan sedikitnya 60 negara mengumpulkan kurang dari 10 donor darah per 1.000 penduduk. Hampir seluruh negara tersebut merupakan negara berpendapatan rendah dan menengah.

Anak-anak dan Ibu Hamil Paling Terdampak

Kelangkaan darah memiliki dampak besar terhadap kelompok rentan. WHO mencatat bahwa di negara-negara berpendapatan rendah, hingga 54 persen transfusi darah diberikan kepada anak-anak berusia di bawah lima tahun. Banyak di antara mereka membutuhkan transfusi akibat anemia berat yang disebabkan malaria, kekurangan gizi, atau penyakit lainnya.

Selain itu, darah juga sangat dibutuhkan untuk menangani komplikasi kehamilan dan persalinan yang masih menjadi penyebab utama kematian ibu di berbagai negara berkembang. Ketersediaan darah yang terbatas dapat memperburuk risiko kematian akibat perdarahan pascapersalinan.

Sementara di negara-negara maju, transfusi darah lebih banyak digunakan untuk operasi jantung, transplantasi organ, penanganan trauma berat akibat kecelakaan, serta terapi kanker.

Darah Tidak Bisa Disimpan Selamanya

Salah satu tantangan terbesar dalam pengelolaan darah adalah masa simpan yang terbatas. Tidak seperti obat-obatan yang dapat disimpan selama bertahun-tahun, darah memiliki umur simpan yang relatif singkat sehingga membutuhkan pasokan donor secara berkelanjutan.

WHO menegaskan bahwa sistem kesehatan tidak dapat mengandalkan stok darah jangka panjang. Rumah sakit dan bank darah harus terus mendapatkan donor baru untuk menjaga ketersediaan pasokan bagi pasien yang membutuhkan transfusi setiap hari.

Kondisi ini menjadi semakin sulit ketika terjadi bencana alam, konflik, wabah penyakit, atau penurunan jumlah pendonor akibat faktor musiman. Dalam situasi tersebut, stok darah dapat menurun secara drastis dalam waktu singkat.

WHO terus mendorong negara-negara anggota untuk meningkatkan jumlah donor darah sukarela yang tidak dibayar. Menurut data organisasi tersebut, jumlah donor sukarela meningkat sekitar 10,7 juta orang antara 2008 hingga 2018. Saat ini terdapat 79 negara yang memperoleh lebih dari 90 persen pasokan darahnya dari donor sukarela.

Namun tantangan masih besar. Sebanyak 54 negara masih bergantung pada donor keluarga atau donor berbayar untuk memenuhi lebih dari separuh kebutuhan darah nasional mereka. Kondisi ini dinilai dapat memengaruhi keberlanjutan dan keamanan pasokan darah. hay

  • Donor Darah

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

Berita Terbaru

Diboikot BTS, Grammy Tetap akan Masukkan Kategori Penghargaan Pop Asia

Trump Unggah Foto Bersama Kim Jong Un, Mengklaim Ia dan Kim "Bergaul dengan Baik"

BIGBANG Jadi Duta Kehormatan Badan Antariksa Korea Selatan

Pesta Rakyat HUT RI ke-81, 20.578 Slot Parkir Disiapkan di Sekitar Monas.

"Smartwatch" Bukan Hanya Gaya & Tren, Kini Bergeser pada Kesehatan dan Olahraga

Kualitas Udara Jakarta Terburuk Kedua di Dunia Minggu Pagi Ini

Rhoma Irama Obati Kerinduan Fans Setelah 20 Tahun, Goyang Publik Malaysia di Latihan Pestapora

MagangHub Buka Peluang Peserta Berlanjut Jadi Pekerja.

Presiden Prabowo Tegaskan Penguatan Pelindungan dan Kesejahteraan Pekerja.

Gempa Flores, TNI Kerahkan 1.267 Personel untuk Bantu Warga Terdampak.

Plan Indonesia Terima Kunjungan Puluhan Relawan Muda dari Korea Selatan-Indonesia Perbaiki Sekolah dan Lingkungan di Jakarta

Punggawa Timnas Indonesia Romeny & Hubner Antarkan Fortuna Sittard Bantai Cambuur 3-1

Panglima TNI Hadiri Pengukuhan Paskibraka Tingkat Pusat 2026

Gubernur Kalsel Terbang dengan F-16, Sensasi Dunia Tempur Jadi Daya Tarik Expo 2026.

Siswa SRMP 20 Budi Luhur Intip Lebih Dekat Dunia TNI AU di Lanud Sjamsudin Noor.

Inter Milan Menang Dramatis atas Real Betis, Gol John Stones Jadi Pahlawan di Laga Pramusim

Pos Polisi Lalu Lintas Margorejo Surabaya Diduga Dilempar Bom Molotov

Viral Kasus Perundungan di Blora! Korban Pilih Keputusan Mengejutkan, Berdamai dan Cabut Laporan

Kota Wina Digugat soal Tarif Toilet Umum Khusus Perempuan Tapi untuk Pria Gratis

Krisis Air Makin Parah! Warga Swiss Dilarang Cuci Mobil dan Siram Taman

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.