Distribusi Tidak Merata Ancam Peningkatan Kematian
Rabu, 03 Jun 2026, 07:27 WIBORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa dunia masih menghadapi tantangan serius dalam ketersediaan darah untuk kebutuhan medis. Meskipun hampir 120 juta kantong darah didonorkan setiap tahun di seluruh dunia, namun jumlah tersebut dinilai belum cukup untuk memenuhi kebutuhan pasien yang memerlukan transfusi secara tepat waktu dan aman.
Dalam laporan terbaru mengenai keamanan dan ketersediaan darah, WHO menyebutkan bahwa ketimpangan pasokan darah masih menjadi persoalan utama, terutama di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah. Kesenjangan ini berpotensi menyebabkan keterlambatan penanganan pasien dan meningkatkan risiko kematian yang sebenarnya dapat dicegah.
âDarah yang aman dan tersedia merupakan fondasi penting dari setiap sistem kesehatan,â tulis WHO dalam laporannya. Namun, organisasi tersebut menegaskan bahwa banyak pasien di berbagai belahan dunia masih belum memiliki akses terhadap transfusi darah yang aman ketika dibutuhkan.
WHO mencatat sekitar 118,5 juta donor darah terkumpul setiap tahun secara global. Namun distribusinya sangat tidak merata. Sebanyak 40 persen dari total donor darah dunia berasal dari negara-negara berpendapatan tinggi yang hanya dihuni sekitar 16 persen populasi dunia. Sebaliknya, negara-negara berpendapatan rendah dan menengah yang menampung mayoritas penduduk dunia harus berbagi pasokan darah yang jauh lebih terbatas.
Perbedaan tersebut juga terlihat dari tingkat donor darah per 1.000 penduduk. Di negara berpendapatan tinggi, rata-rata terdapat 31,5 donor per 1.000 penduduk. Angka itu turun menjadi 16,4 donor di negara berpendapatan menengah atas, 6,6 donor di negara berpendapatan menengah bawah, dan hanya 5 donor per 1.000 penduduk di negara berpendapatan rendah.
Data WHO menunjukkan sedikitnya 60 negara mengumpulkan kurang dari 10 donor darah per 1.000 penduduk. Hampir seluruh negara tersebut merupakan negara berpendapatan rendah dan menengah.
Anak-anak dan Ibu Hamil Paling Terdampak
Kelangkaan darah memiliki dampak besar terhadap kelompok rentan. WHO mencatat bahwa di negara-negara berpendapatan rendah, hingga 54 persen transfusi darah diberikan kepada anak-anak berusia di bawah lima tahun. Banyak di antara mereka membutuhkan transfusi akibat anemia berat yang disebabkan malaria, kekurangan gizi, atau penyakit lainnya.
Selain itu, darah juga sangat dibutuhkan untuk menangani komplikasi kehamilan dan persalinan yang masih menjadi penyebab utama kematian ibu di berbagai negara berkembang. Ketersediaan darah yang terbatas dapat memperburuk risiko kematian akibat perdarahan pascapersalinan.
Sementara di negara-negara maju, transfusi darah lebih banyak digunakan untuk operasi jantung, transplantasi organ, penanganan trauma berat akibat kecelakaan, serta terapi kanker.
Darah Tidak Bisa Disimpan Selamanya
Salah satu tantangan terbesar dalam pengelolaan darah adalah masa simpan yang terbatas. Tidak seperti obat-obatan yang dapat disimpan selama bertahun-tahun, darah memiliki umur simpan yang relatif singkat sehingga membutuhkan pasokan donor secara berkelanjutan.
WHO menegaskan bahwa sistem kesehatan tidak dapat mengandalkan stok darah jangka panjang. Rumah sakit dan bank darah harus terus mendapatkan donor baru untuk menjaga ketersediaan pasokan bagi pasien yang membutuhkan transfusi setiap hari.
Kondisi ini menjadi semakin sulit ketika terjadi bencana alam, konflik, wabah penyakit, atau penurunan jumlah pendonor akibat faktor musiman. Dalam situasi tersebut, stok darah dapat menurun secara drastis dalam waktu singkat.
WHO terus mendorong negara-negara anggota untuk meningkatkan jumlah donor darah sukarela yang tidak dibayar. Menurut data organisasi tersebut, jumlah donor sukarela meningkat sekitar 10,7 juta orang antara 2008 hingga 2018. Saat ini terdapat 79 negara yang memperoleh lebih dari 90 persen pasokan darahnya dari donor sukarela.
Namun tantangan masih besar. Sebanyak 54 negara masih bergantung pada donor keluarga atau donor berbayar untuk memenuhi lebih dari separuh kebutuhan darah nasional mereka. Kondisi ini dinilai dapat memengaruhi keberlanjutan dan keamanan pasokan darah. hay
- Donor Darah
Redaktur: Haryo Brono
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Kemnaker Perkuat Pembekalan Mahasiswa Hadapi AI dan Green Jobs
-
Donor Darah Serentak Wanita TNI dan Dharma Pertiwi Raih Rekor MURI
-
Tokoh Lintas Parsadaan Tabagsel Gelorakan Provinsi Sumatera Tenggara
-
Gempa Tektonik Jauh Mendominasi Kegempaan di Gunung Soputan
-
Budaya dan Wisata Singkawang Tampil di Ajang Timeless Harmony
-
Mensos Larang Rumah Sakit Tolak Pasien Cuci Darah
-
Cedea Umumkan Pemenang Undian “Eomuk Chill In Seoul,” Berhadiah Liburan ke Korea
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.