Alarm Harga Pangan Menyala! Inflasi Mei Naik Tajam Dipicu Lonjakan Cabai dan Bawang Merah
Selasa, 02 Jun 2026, 14:17 WIBJAKARTA â Inflasi nasional pada Mei menunjukkan tren menghangat dibandingkan bulan sebelumnya, menandakan tekanan harga di tingkat konsumen belum sepenuhnya mereda.
Kenaikan ini terutama dipicu oleh lonjakan harga sejumlah komoditas pangan strategis seperti cabai merah, minyak goreng, dan bawang merah yang masih menghadapi tantangan pasokan dan distribusi.
Meski dampak musiman pasca-Ramadan dan Idulfitri mulai berkurang, tingginya volatilitas harga pangan menunjukkan bahwa inflasi Indonesia masih sangat dipengaruhi faktor sisi pasokan.
Kondisi ini menjadi sinyal penting bagi pemerintah dan otoritas terkait untuk menjaga stabilitas pasokan pangan guna mencegah tekanan inflasi yang lebih luas terhadap daya beli masyarakat.
Badan pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Indonesia mengalami inflasi sebesar 3,08 persen secara tahunan (year-on-year/ yoy) pada Mei 2026 atau lebih tinggi dibandingkan capaian pada April lalu sebesar 2,42 persen (yoy).
Secara bulanan atau month to-month (mtm), inflasi pada Mei lalu tercatat sebesar 0,28 persen atau meningkat dari bulan sebelumnya sebsar 0,13 persen. Dengan begitu, inflasi nasional secara tahun kalender (year-to-date/ ytd) tercatat sebesar 1,35 persen.
âIndeks Harga Konsumen (IHK) mengalami kenaikan dari 111,09 pada April 2026 menjadi 111,40 pada Mei 2026,â ujar Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Pudji Ismartini dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (2/6).
Pudji mengungkapkan kenaikan inflasi tersebut terutama didorong oleh meningkatnya harga sejumlah komoditas pangan, seperti cabai merah, minyak goreng, dan bawang merah, meskipun tekanan harga pasca Ramadan dan Idulfitri mulai berangsur normal.
BPS mencatat kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan tingkat inflasi 0,39 persen (mtm) dan andil terhadap inflasi umum sebesar 0,12 persen.
Inflasi Mei 2026 terutama didorong oleh kenaikan harga pangan, dengan cabai merah menjadi penyumbang terbesar sebesar 0,08 persen, disusul minyak goreng dan bawang merah masing-masing 0,04 persen.
Tomat dan beras juga turut mendorong inflasi. Selain itu, kenaikan harga bahan bakar rumah tangga, bensin, dan tarif angkutan udara ikut memperkuat tekanan inflasi.
Di sisi lain, daging ayam ras, emas perhiasan, dan telur ayam ras menjadi faktor penahan inflasi karena mengalami deflasi.
Berdasarkan komponennya, inflasi inti menjadi kontributor terbesar dengan andil 0,14 persen, didorong oleh kenaikan harga minyak goreng, telepon seluler, laptop, jasa servis kendaraan, dan makanan jadi.
Sementara itu, komponen harga yang diatur pemerintah menyumbang inflasi 0,10 persen akibat kenaikan harga energi dan tarif transportasi, sedangkan kelompok harga bergejolak menyumbang 0,04 persen yang terutama berasal dari komoditas hortikultura.
Secara regional, mayoritas provinsi mengalami inflasi, dengan Maluku mencatat inflasi tertinggi 0,93 persen, sementara Gorontalo mengalami deflasi terdalam sebesar 0,96 persen.
- Inflasi
- Harga Cabai
- Badan Pusat Statistik (BPS)
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Mal Pelayanan Publik Kota Bandung Jadi Andalan Warga untuk Pengurusan Paspor
-
Kenaikan Bensin hingga Tarif Pesawat Dorong Inflasi Juni ke 0,44 Persen
-
Bea Cukai Soekarno-Hatta Gagalkan Pemasukan 350 Ribu Dolar AS Tanpa Izin
-
Gandeng Choi Minho SHINee, LG Perkenalkan Konsep Rumah Pintar Modern di Indonesia
-
InJourney Airports Mulai Tambah Petugas Avsec Jelang Reaktivasi Bandara Husein
-
Hasil Pertandingan Grup E Piala Dunia 2026: Pantai Gading Lolos ke 32 Besar Usai Menaklukkan Curacao 2-0
-
Transmigrasi Patriot Diminati Anak Muda, Mentrans Ungkap Pendaftar Mencapai 10.395 Sarjana dari 1.952 Kampus
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.