- Home
-
- Megapolitan
-
- Jelaga-jelaga Jakarta Menu...
Jelaga-jelaga Jakarta Menuju Kota Global
Kamis, 28 Mei 2026, 10:40 WIBMungkin orang-orang tua sudah lupa atau untuk era sekarang anak muda belum tahu yang disebut jelaga. Istilah ini untuk lampu penerang (teplok) di mana kaca-kaca pengaman apinya mulai hitam karena kotoran api yang bersumberkan minyak tanah.
Makin banyak jelaga, apinya semakin gagal sebagai penerang karena tertutup jelaga. Terjadi begitu banyak kendala (ibarat jelaga) yang menutup (jalan) Jakarta menuju kota global.
Kendala klasik yang tak mampu diatasi siapa pun yang menjadi Gubernur Jakarta dari waktu ke waktu antara lain: banjir, macet, sampah, polusi, dan kriminalitas. Tentu itu sekadar contoh, di luar kendala-kendala tersebut, jelas masih banyak lagi. Namun, itu yang boleh dikata sebagai main problems yang bisa menghambat perjalanan Jakarta menuju Kota Global.
Era Gubernur Pramono mungkin baru mampu memberantas ikan sapu-sapu, tapi ini tidak signifikan menjadi kendala. Banjir dan macet menjadi ujian utama di antara main problems tadi.
âSerahkan kepada ahlinya,â yang diungkapkan Fauzi Bowo saat kampanye. Setelah menjadi gubernur, dia ternyata juga tidak bisa apa-apa menghadapi banjir dan macet, walau menyebut diri âahlinya.â
Begitu seterusnya berbagai cara ditempuh tiap gubernur Jakarta untuk mengatasi macet dan banjir, tapi tak ada yang mampu. Ini benar-benar bakal menjadi masalah krusial yang menghambat cita-cita membawa Jakarta sebagai Kota Global. Sebab salah satu ciri kota global: lalu lintas lancar, bebas banjir, udara bersih, dan sampah terkelola dengan baik.
Gubernur hanya mampu mencita-citakan Jakarta sebagai kota global, tapi tak dapat membuang jelaga-jelaganya. Jakarta akan tetap sebagai kota yang selalu banjir, macet semakin menjadi-jadi, polutif, sampah berserakan di mana-mana, dan kriminal tak terbendung.
Seluruh gubernur gagal karena semua mengatasi. Mereka bekerja sesuai dengan selera, bukan melalui studi dan perencanaan matang untuk 20-30 tahun ke depan. Era Anies Baswedan, misalnya, hanya mampu membuat pagar jalan untuk jalur sepeda dalam rangka mengurangi polusi. Itu pun hanya berumur jagung, sekarang sudah tak bermanfaat. Kalaupun ada rombongan orang bersepeda, tak mau masuk jalur sepeda. Mereka menggoes di luar jalur sepeda.
Problem yang malah menjadi-jadi adalah kriminal kota dan masalah sampah. Kejahatan penodongan, jambret, penikaman, dan begal menjadi berita sehari-hari. Warga Jakarta hidup dalam ketakutan luar biasa. Kejahatan seperti itu merajalela hingga masuk ke gang-gang. Anak-anak tak aman lagi bermain di halaman rumah sendiri. Penjahat selalu mengintai.
Dalam kondisi seperti itu, tampaknya cita-cita Jakarta Kota Global akan tetap tinggal mimpi. Jakarta sulit untuk mewujudkan kualitas kehidupan yang nyaman, aman, dan damai. Akses pendidikan gratis mungkin bisa diperluas, tapi belum menyeluruh. Contoh Jakarta Utara saja masih memiliki 22.000 anak putus atau tidak sekolah. Sebanyak 75.000 anak Jakarta putus sekolah.
Akses kebebasan menjalankan agama juga masih belum sepenuhnya. Masih saja ada sekelompok di berbagai titik merasa kebebasan beragama hanya milik mereka. Orang lain tak boleh beribadah, jika perlu dibubarkan. Keadilan menjalankan keyakinan imannya belum sama. Masih ada yang tertindas.
Akses kebudayaan di Jakarta juga harus diperluas. Panggung-panggung terbuka untuk mengekspresikan batin, daya, cipta, dan karsa, perlu terus diperbanyak.
Kemudian kemiskinan juga menjadi problem tersendiri. Mereka dikatakan miskin bila pendapatan perbulan di bawah  Rp825.288 per kapita. Di Jakarta yang seperti ini sekitar setengah juta orang. Tapi itu yang resmi tercatat di BPS, tidak tahu jumlah yang tidak tercatat, biasanya lebih banyak.
Terkait polusi, Jakarta berulang kali masih mengalami udara terburuk di kawasan regional. Hal ini memperburuk tingkat kesehatan. Sumber utama polusi adalah transportasi, pembangkit listrik, pabrik, dan debu konstruksi. Kendala ini mesti diatasi dengan mendorong penggunaan angkutan umum untuk menekan pemakaian kendaraan pribadi. Perbanyak uji emisi, yang tak lolos jangan diajak âmain mata.â Manfaatkan energi baru terbarukan.
Masih ada waktu menuju tahun 2045, batas akhir Jakarta menuju Kota global. Dengan kata lain, gubernur dan staf perlu terus membersihkan jelaga-jelaga tersebut agar Jakarta layak disebut Kota Global.
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Aloysius Widiyatmaka
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.