Revolusi Ekonomi Daerah Tak Mudah, Wamenkeu Beberkan Tiga Hambatan Utama
Senin, 25 Mei 2026, 18:20 WIBJAKARTA â Dorongan untuk melakukan revolusi ekonomi daerah mencerminkan kebutuhan mendesak untuk memperkuat basis pertumbuhan ekonomi yang lebih merata di seluruh wilayah.
Selama ini, ketimpangan antar daerah masih menjadi tantangan utama, terutama dalam hal akses investasi, kualitas infrastruktur, dan produktivitas sektor riil.
Melalui transformasi ekonomi daerah, pemerintah berupaya menggeser ketergantungan dari sektor tradisional menuju sektor bernilai tambah lebih tinggi seperti industri pengolahan, ekonomi digital, dan ekonomi kreatif yang berbasis potensi lokal.
Di sisi lain, revolusi ekonomi daerah juga menuntut penguatan kapasitas fiskal daerah, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta tata kelola pemerintahan yang lebih efisien dan transparan.
Kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, dan sektor swasta menjadi kunci agar transformasi ini tidak hanya bersifat slogan, tetapi benar-benar mampu menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru yang berkelanjutan dan inklusif.
Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung mengungkap terdapat tiga tantangan utama yang saat ini dihadapi Indonesia dalam mendorong revolusi ekonomi daerah, antara lain diversifikasi ekonomi daerah, kualitas belanja daerah, dan kapasitas fiskal yang terbatas.
Juda, dalam acara Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah (KNPED) di Jakarta, Senin (25/5), mengatakan diversifikasi dan inovasi ekonomi daerah menjadi kunci yang pertama.
Ia mengatakan bahwa secara spasial, seluruh wilayah memang tumbuh. Namun, tidak semua daerah memiliki daya tahan yang sama karena sejumlah daerah masih sangat bergantung pada sektor ekstraktif, tambang, dan komoditas primer yang rentan terhadap fluktuasi harga.
Selanjutnya, tantangan kedua adalah kualitas belanja daerah. Belanja daerah dinilai masih perlu dibuat lebih produktif karena belanja pegawai dan barang masih mendominasi dengan porsi rata-rata sekitar 70 persen, sementara belanja modal relatif terbatas.
âSelain itu, belanja daerah juga sering rendah di awal tahun dan menumpuk di akhir tahun. Ini mengurangi daya dorong APBD terhadap ekonomi lokal,â imbuh Juda.
Sementara tantangan ketiga adalah kapasitas fiskal yang terbatas. Juda mengatakan, banyak pemerintah daerah masih sangat bergantung pada pemerintah pusat. Di sisi lain, pendapatan asli daerah (PAD) masih terbatas sehingga proyek-proyek strategis daerah terhambat.
âDaya serap anggaran daerah juga seringkali tidak optimal. Dana transfer tidak tepat sasaran dan terserap lambat akibat kapasitas. Kemudian juga prosedur pengadaan yang relatif lama dan sebagainya, yang tentu ini pada akhirnya mengurangi stimulus ekonomi di tingkat lokal,â kata Juda.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, imbuh Juda, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melakukan sejumlah langkah salah satunya melalui alokasi transfer ke daerah (TKD).
Hingga April 2026, realisasi TKD mencapai Rp256 triliun atau 37 persen dari pagu dan transfer keuangan daerah digunakan untuk mendukung layanan dasar.
Kedua, melalui dukungan pembiayaan kreatif. Juda mengatakan, pembangunan daerah tidak harus hanya mengandalkan APBD karena pemerintah memiliki special mission vehicle (SMV) seperti PT SMI yang mendukung percepatan pembangunan infrastruktur daerah melalui skema pembiayaan inovatif dan berkelanjutan dengan bunga relatif murah sekitar 6 persen.
Pembiayaan SMI tersebut antara lain digunakan untuk pembangunan rumah sakit umum daerah, infrastruktur jalan dan jembatan, hingga pengembangan kawasan pariwisata. Cicilan pembiayaan juga dapat bersumber dari dana bagi hasil (DBH) yang diberikan pemerintah pusat setelah terjadi disbursement.
Adapun hingga Maret 2026, komitmen pembiayaan daerah melalui SMI telah mencapai Rp37 triliun.
Terakhir atau ketiga yakni dukungan penguatan PAD melalui modernisasi pajak daerah, pertukaran data pusat dan daerah, hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Selain itu, imbuh Juda, Kemenkeu juga hadir di daerah untuk menyusun kajian fiskal regional, mengevaluasi TKD, memperkuat kapasitas fiskal daerah, serta memberikan rekomendasi berbasis data.
Ia pun menegaskan bahwa daerah yang kuat bukan hanya daerah yang memiliki anggaran besar, melainkan daerah yang mampu mengubah anggaran menjadi layanan, layanan menjadi produktivitas, dan produktivitas menjadi kesejahteraan.
âPertumbuhan tidak dimulai dari tabel dan angka, pertumbuhan dimulai ketika kebijakan pusat dan daerah bergerak bersama, dan manfaatnya dirasakan sampai ke rumah tangga,â tutup Juda.
- ekonomi daerah
- belanja daerah
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Indonesia-Tiongkok Luncurkan QRIS Lintas Perbatasan
-
Inflasi 3,48 Persen Masuk Target, Kemendagri Soroti Harga Pangan Belum Stabil
-
May Day 2026 di Tangerang, Andra Soni Apresiasi Kolaborasi Buruh dan Pemda Dorong Pembangunan
-
DPD RI Minta BPK Audit Anggaran MRP Papua, Nilai Capai Rp181 Miliar per Tahun
-
Sejumlah Prodi Akan Ditutup, Komisi X DPR RI: Perguruan Tinggi Jangan hanya Jadi Pabrik Tenaga Kerja
-
Penumpang KA di Daop 9 Jember Tembus 12 Ribu Jelang Puncak Arus Balik
-
Industri Hulu Migas: Mesin Pertumbuhan Ekonomi Daerah
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.