Perkuat Ekonomi Biru untuk Masa Depan Indonesia
Senin, 25 Mei 2026, 01:00 WIBKekayaan laut Indonesia berpotensi dikembangkan menjadi berbagai sektor strategis seperti industri farmasi, bioteknologi kelautan, EBT, ekonomi karbon biru, hingga produksi pangan.
JAKARTA â Indonesia perlu memperkuat pengembangan ekonomi biru sebagai strategi untuk menjaga ketahanan pangan, energi, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di masa depan. Dengan potensi laut yang sangat besar dan kekayaan biodiversitas yang melimpah, sektor kelautan dinilai dapat menjadi motor baru pembangunan nasional melalui penguatan riset, inovasi, industri maritim, hingga perlindungan ekosistem laut.
Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Megawati Soekarnoputri mendorong agar laut ditempatkan sebagai pusat geopolitik sekaligus inovasi nasional Indonesia.
Hal itu disampaikannya dalam forum National Policy Dialogue Kedaulatan Kelautan Berbasis Kekayaan Hayati Kelautan yang digelar Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta pada akhir pekan lalu.
Megawati menilai Indonesia memiliki kekuatan besar dari sisi geostrategis, geoekonomi, serta kekayaan hayati laut yang dapat menjadi fondasi penting masa depan bangsa.
Menurut dia, biodiversitas laut Indonesia berpotensi dikembangkan menjadi berbagai sektor strategis seperti industri farmasi, bioteknologi kelautan, energi baru terbarukan (EBT), ekonomi karbon biru, hingga produksi pangan.
Ia menegaskan bahwa ilmu pengetahuan dan inovasi harus mampu menjadikan laut sebagai landasan kemajuan peradaban Indonesia.
âKita memerlukan orkestrasi besar antara negara, perguruan tinggi, peneliti, industri, dan masyarakat, karena pembangunan tidak bisa terpisah berjalan sendiri-sendiri. Pembangunan memerlukan irama, arah, tujuan yang sama, yaitu Indonesia yang berdaulat, merdeka, berdikari,â ujarnya sebagaimana diberitakan Antara.
Rektor Universitas Gadjah Mada Ova Emilia mengatakan UGM siap menjadi mitra strategis BRIN dalam membangun ekosistem ekonomi biru yang berkelanjutan dan berdaya saing global.
Menurut dia, geopolitik kelautan menjadi ruang strategis yang menentukan posisi Indonesia di tingkat global.
âSebagai perguruan tinggi nasional, kami berkomitmen untuk terus memperkuat peran dalam pengembangan riset, inovasi, pendidikan, dan hilirisasi di bidang kelautan dan kemaritiman,â kata Ova Emilia.
Belum Optimal
Sementara itu, Dekan Fakultas Biologi UGM Budi Setiadi Daryono menyebut eksplorasi laut Indonesia hingga kini belum mencapai 15 persen dari total potensi wilayah perairan nasional.
âData maritim ini sangat berharga. Laut Indonesia yang dieksplorasi juga belum ada 15 persen,â ujar Budi.
Ia menilai Indonesia sebagai negara megabiodiversity memiliki kekayaan hayati laut yang sangat besar, namun belum dimanfaatkan secara optimal.
Menurut dia, sejumlah satwa laut juga menghadapi ancaman kepunahan akibat perburuan dan penurunan populasi, sehingga pemerintah telah menetapkan perlindungan terhadap berbagai spesies seperti penyu, duyung, hiu paus, pari manta, lumba-lumba, hingga ikan napoleon.
Budi menekankan pentingnya perubahan pola pikir pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada pendapatan per kapita, tetapi juga pemberdayaan masyarakat dengan tetap menjaga kekayaan alam.
âPola pikir dalam melihat pembangunan sudah saatnya digeser dari yang berlandaskan target pendapatan per kapita, menjadi pemberdayaan bagi semua pihak dengan tetap mempertahankan kekayaan dan keanekaragaman alam,â ujarnya.
Kepala Pusat Riset Bioindustri Laut dan Darat BRIN Fahrurozi menambahkan perubahan iklim telah mempengaruhi biodiversitas dan produksi biota laut.
âTidak semua biota yang kita budidayakan mungkin dapat bertahan dengan kondisi sekarang. Ini merupakan isu global yang signifikan,â katanya.
- Biodiversitas Laut
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.