• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Mencari Senjata Baru Melaw...

Mencari Senjata Baru Melawan Bakteri Super

Selasa, 23 Jun 2026, 07:12 WIB

SELAMA puluhan tahun, antibiotik menjadi salah satu penemuan terbesar dalam sejarah kedokteran modern. Obat yang mampu membunuh atau menghentikan pertumbuhan bakteri itu telah menyelamatkan jutaan nyawa, mengubah operasi berisiko tinggi menjadi lebih aman, serta memungkinkan berbagai prosedur medis berjalan dengan tingkat keberhasilan yang jauh lebih besar.

Namun kini, dunia menghadapi ancaman yang tidak terlihat tetapi semakin nyata: bakteri mulai belajar bertahan hidup. Bakteri yang dahulu mudah dihancurkan oleh antibiotik tertentu kini perlahan mengalami perubahan. Melalui proses adaptasi alami, sebagian bakteri mengembangkan kemampuan untuk melawan obat-obatan yang sebelumnya efektif. Fenomena inilah yang dikenal sebagai resistensi antibiotik atau antimicrobial resistance (AMR).

Ket. Foto: Ilustrasi Memasang perban perekat pada kaki atau Ilustrasi pengobatan pada luka. — Sumber: Foto: Wikimedia Commons

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa resistensi antimikroba merupakan salah satu ancaman kesehatan masyarakat terbesar yang dihadapi dunia saat ini. WHO menyebut bahwa “Resistensi antimikroba terjadi ketika bakteri, virus, jamur, dan parasit berubah seiring waktu dan tidak lagi merespons obat-obatan, sehingga infeksi menjadi lebih sulit diobati dan meningkatkan risiko penyebaran penyakit, keparahan penyakit, hingga kematian,” dalam pernyataannya.

Jika tren ini terus berlanjut, dunia medis dapat memasuki era ketika infeksi sederhana kembali menjadi ancaman serius. Luka kecil, operasi rutin, atau infeksi umum yang dahulu mudah ditangani bisa berubah menjadi kondisi yang sulit dikendalikan.

WHO juga memperingatkan bahwa tanpa tindakan yang tepat, era pasca-antibiotik dapat menjadi kenyataan ketika banyak infeksi umum dan cedera ringan kembali berpotensi mematikan. Situasi ini menunjukkan bahwa dunia membutuhkan pendekatan baru untuk mengatasi bakteri yang semakin tangguh.

Tantangan Biofilm pada Luka Kronis

Salah satu medan pertempuran terbesar dalam menghadapi bakteri kebal antibiotik adalah luka kronis. Pada luka biasa, tubuh memiliki mekanisme alami untuk memperbaiki jaringan. Darah membawa oksigen dan nutrisi, sistem imun membersihkan mikroorganisme, sementara sel-sel baru tumbuh untuk menutup luka.

Namun mekanisme tersebut dapat terganggu pada kondisi tertentu seperti diabetes, gangguan pembuluh darah, usia lanjut, atau cedera berat. Luka yang seharusnya sembuh dalam hitungan hari dapat berubah menjadi luka terbuka yang bertahan selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Di dalam luka semacam ini, bakteri menemukan lingkungan ideal untuk berkembang.

Yang membuatnya semakin sulit ditangani adalah kemampuan bakteri membentuk biofilm. Struktur mikroskopis ini bukan sekadar kumpulan bakteri, melainkan komunitas yang terlindungi oleh lapisan zat seperti lendir yang mereka produksi sendiri.

Biofilm membuat bakteri menjadi jauh lebih kuat. Antibiotik sulit menembus lapisan pelindung tersebut, sementara sistem kekebalan tubuh juga mengalami kesulitan untuk menghancurkan seluruh koloni. Akibatnya, pasien dapat mengalami infeksi berulang. Luka menjadi semakin sulit menutup, jaringan terus mengalami kerusakan, dan dalam kondisi tertentu dapat berkembang menjadi gangren yang memerlukan tindakan amputasi.

Kondisi ini menjadi perhatian besar bagi dunia medis karena jumlah penderita penyakit kronis terus meningkat. Diabetes, misalnya, telah menjadi salah satu penyebab utama luka sulit sembuh di seluruh dunia.

Pada penderita diabetes, kadar gula darah tinggi dalam jangka panjang dapat merusak pembuluh darah dan saraf. Akibatnya, aliran darah menuju jaringan luka berkurang dan tubuh kehilangan kemampuan optimal untuk memperbaiki kerusakan.

Selain itu, kerusakan saraf membuat sebagian pasien tidak menyadari adanya luka kecil pada kaki. Luka yang tidak segera ditangani dapat berkembang menjadi infeksi serius. Selama ini, dokter mengandalkan berbagai pendekatan seperti antibiotik, pembersihan jaringan mati, perawatan luka modern, hingga terapi oksigen hiperbarik. Namun ketika bakteri sudah membentuk biofilm dan mengalami resistensi, pilihan pengobatan menjadi semakin terbatas. hay

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.