Kualitas SDM tanpa “Stunting” Harus Jadi Agenda Nasional
Jumat, 22 Mei 2026, 03:17 WIBJAKARTA - Sekretaris Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Sesmendukbangga)/Sekretaris Utama BKKBN Budi Setiyono mengemukakan kualitas sumber daya manusia (SDM) tanpa stunting harus menjadi agenda utama nasional menuju peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Budi menyampaikan hal tersebut untuk menanggapi pidato Presiden Prabowo Subianto di DPR pada Rabu (20/5) terkait Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) RAPBN 2027.
âAgar visi Indonesia Maju 2045 dapat tercapai, kita perlu mendukung Presiden untuk bergerak jauh melampaui pidato dan target angka pertumbuhan. Pertama, kualitas SDM harus dijaga tanpa stunting, reformasi pendidikan dan keterampilan harus menjadi agenda utama nasional,â katanya di Jakarta, Kamis (21/5).
Budi menambahkan, distribusi MBG harus dipertajam untuk menjangkau kelompok sasaran utama ibu hamil-menyusui yang berisiko stunting. Indonesia juga perlu menggeser fokus dari sekadar peningkatan angka partisipasi sekolah menuju peningkatan kualitas sumber daya manusia. âPendidikan matematika, sains, engineering (rekayasa), akal imitasi (AI), dan vokasi industri harus menjadi prioritas,â ujar dia.
Kedua, sambung Budi, reformasi birokrasi harus dilakukan secara serius dan berbasis meritokrasi. Digitalisasi pengadaan pemerintah, integrasi data fiskal nasional, evaluasi ASN berbasis kinerja, dan deregulasi perizinan harus berjalan agresif karena tanpa birokrasi yang efisien, industrialisasi hanya akan menghasilkan kebocoran anggaran dan rente baru.
âKetiga, hilirisasi harus naik kelas. Indonesia tidak cukup hanya membangun smelter (pabrik pengolahan tambang). Indonesia harus masuk ke rantai nilai yang lebih tinggi seperti industri baterai, kendaraan listrik, petrokimia, material maju, hingga industri komponen teknologi,â paparnya.
Keempat, investasi riset dan pengembangan harus ditingkatkan drastis karena negara-negara maju rata-rata mengalokasikan lebih dari 2 persen pendapatan domestik bruto (PDB) untuk riset. âIndonesia masih harus kejar agar menyamai angka tersebut. Tanpa inovasi dan teknologi domestik, Indonesia akan terus bergantung pada teknologi asing,â ucap Budi.
Kelima, lanjut Sesmendukbangga, yakni pembangunan infrastruktur yang harus diarahkan pada penurunan biaya logistik nasional karena negara kepulauan seperti Indonesia membutuhkan konektivitas efisien agar produktivitas ekonomi meningkat secara merata.
Investasi Strategis
Budi menyatakan penurunan angka stunting menjadi investasi strategis untuk mewujudkan generasi unggul di ÂIndonesia.
Menurutnya, Indonesia kini tengah berada di persimpangan sejarah pembangunan, di mana dalam dua dekade ke depan, bangsa ini akan menikmati momentum bonus Âdemografi.
âBonus demografi hanya akan memberikan manfaat apabila ditopang oleh kualitas sumber daya manusia yang sehat, cerdas, dan produktif. Di sinilah persoalan stunting menjadi tantangan serius yang tidak boleh dipandang sebagai isu kesehatan semata. Jika hari ini kita gagal melindungi anak-anak dari stunting, maka kita sedang mempertaruhkan kualitas generasi produktif di masa depan,â ujarnya. Ant/S-2
- SDM
Redaktur: Sriyono
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Hasil Liga Inggris: Chelsea Kalah di Stamford Bridge 0-1 dari Newcastle United
-
Percepatan pembangunan gerai fisik Kopdes Merah Putih
-
Catat, Tersedia 10 Pos Kesehatan di Jalur Mudik Banyuwangi
-
Mengeksplorasi Inovasi Jakarta dalam JID di Dukuh Atas dalam 15-Minute City
-
Harga Gas Elpiji 12 Kg Naik Jadi Rp228.000 dan Elpiji 5,5 Kg Jadi Rp107.000
-
Pertamina Hulu Energi Targetkan Produksi Minyak 2026 Capai 595 Ribu Barel Per Hari
-
Kejar Target, Komisi III DPR Rampungkan RUU Penyesuaian Pidana Awal Desember 2025
Satlap Tri Cakti dan Satgas Gabungan Gagalkan Penyelundupan Bijih Timah Ilegal Senilai Rp1,8 Miliar.
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.