BMKG Ingatkan Potensi El Nino Picu Kemarau Lebih Kering di DIY
Kamis, 21 Mei 2026, 12:45 WIBYOGYAKARTA - Pemerintah daerah dan masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta diminta mulai meningkatkan kesiapan menghadapi kemungkinan musim kemarau 2026 yang diprediksi dipengaruhi fenomena El Nino. Kesiapsiagaan dinilai perlu dilakukan lebih dini untuk mengurangi risiko yang dapat muncul akibat perubahan pola cuaca tersebut.
Kepala Stasiun Klimatologi DIY, Reni Kraningtyas, mengatakan langkah antisipatif penting dilakukan terutama di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, hingga persoalan berkurangnya pasokan air bersih.
"Terutama di wilayah yang rentan terhadap bencana kekeringan meteorologis, kebakaran hutan dan lahan, serta berkurangnya ketersediaan air bersih," kata Reni dalam keterangannya di Yogyakarta, Kamis.
Menurutnya, imbauan tersebut berkaitan dengan proyeksi munculnya El Nino dengan kekuatan lemah sampai moderat yang diperkirakan mulai berkembang pada pertengahan tahun depan.
"Prediksi tersebut muncul setelah pertengahan tahun 2026 dengan peluang 50 sampai 60 persen yang dapat menurunkan curah hujan, utamanya di wilayah DIY," katanya.
Berdasarkan analisis iklim yang dilakukan BMKG, musim kemarau tahun 2026 diperkirakan memiliki curah hujan di bawah rata-rata normal. Situasi ini mengindikasikan kondisi kemarau berpotensi lebih kering dibanding pola musim yang biasanya terjadi di wilayah DIY.
Potensi dampak dari fenomena tersebut diprediksi mulai terlihat pada Juni 2026, sedangkan periode dengan risiko kekeringan yang lebih berat diperkirakan berlangsung pada Juli hingga Oktober 2026. Karena itu, upaya mitigasi dinilai perlu disiapkan sejak awal.
"Bagi petani agar mempersiapkan pola tanam yang sesuai agar tidak mengalami gagal panen dan wilayah-wilayah yang rentan terhadap kekeringan meteorologis untuk mengambil langkah antisipatif melalui pengelolaan sumber daya air yang lebih efisien," katanya.
Selain sektor pertanian, pengelolaan sumber daya air secara lebih terukur juga dinilai penting dilakukan, khususnya di kawasan yang selama ini rawan mengalami penurunan pasokan air saat musim kemarau. BMKG juga meminta masyarakat dan pemerintah daerah rutin memperbarui informasi iklim melalui kanal resmi dan media sosial lembaga tersebut agar langkah penanganan dapat dilakukan lebih cepat.
Berita Terkait:
-
Como vs RB Leipzig: Tim Debutan Liga Champions Tantang Semifinalis 2020
-
Menkeu Purbaya Pastikan Kemenkeu Punya Dana Cukup Bayar Utang Kereta Cepat
-
Sambut HUT ke-81 TNI AL, Pantai Kenjeran Dibersihkan untuk Dorong Wisata Lokal
-
Semarang Siapkan Pawai Ta'aruf MTQ Nasional 2026, 1.000 Peserta Ambil Bagian
-
Ibas Ajak Generasi Muda Kritis di Era AI, Jangan Serahkan Pikiran pada Algoritma.
-
Harga Emas Antam Hari Ini Rp2.670.000/Gram, Naik Rp31.000
-
Ilmuwan Perkirakan El Niño Dahsyat akan Menyebabkan 450.000 Kematian dalam Enam Bulan ke Depan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.