UE Kejar Kesepakatan Dagang AS Sebelum Trump Berlakukan Tarif Baru

Rabu, 20 Mei 2026, 01:00 WIB

STRASBOURG – Uni Eropa (UE) berpacu dengan waktu untuk merampungkan implementasi pakta perdagangan dengan Amerika Serikat (AS) yang telah disepakati hampir setahun lalu. Tekanan semakin besar setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan memberlakukan tarif baru yang lebih tinggi apabila kesepakatan tersebut tidak selesai sebelum tenggat 4 Juli 2026.

Kesepakatan awal antara UE dan AS dicapai pada Juli tahun lalu di Turnberry, Skotlandia. Dalam perjanjian itu, kedua pihak sepakat menetapkan tarif sebesar 15 persen untuk sebagian besar barang asal Eropa yang masuk ke pasar AS. Namun hingga kini, teks final perjanjian tersebut masih belum disahkan sepenuhnya di tingkat internal Uni Eropa.

Ket. Foto: Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen tiba untuk pertemuan Dewan Komisioner di Brussels baru-baru ini. — Sumber: AFP/Nicolas TUCATI

Dilansir dari AFP, pemerintah AS mulai menunjukkan ketidaksabaran terhadap lambatnya proses tersebut. Misi AS untuk AS melalui unggahan di media sosial X pada Senin (18/5), menegaskan bahwa “kesepakatan adalah kesepakatan” dan UE “harus memenuhi” komitmen yang telah dicapai antara Trump dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen.

Pada Selasa (19/5) malam, para negosiator dari parlemen dan negara-negara anggota UE dijadwalkan bertemu di Strasbourg untuk mencari kompromi akhir agar perjanjian bisa disahkan sesuai tenggat waktu yang ditetapkan Washington. Pertemuan tersebut dipandang krusial karena akan menentukan apakah hubungan perdagangan transatlantik dapat kembali stabil setelah lebih dari setahun dilanda ketegangan tarif dan sengketa perdagangan.

Trump sebelumnya telah memperingatkan bahwa UE harus bersiap menghadapi tarif yang “jauh lebih tinggi” jika negosiasi kembali menemui jalan buntu. Bahkan, ia disebut berencana menaikkan tarif impor mobil dan truk asal Eropa dari 15 persen menjadi 25 persen apabila implementasi kesepakatan tidak berjalan sesuai harapan AS.

Ancaman tarif tersebut menambah tekanan bagi perekonomian Eropa yang saat ini masih menghadapi perlambatan pertumbuhan di sejumlah negara anggota. Kebijakan perdagangan agresif Trump sebelumnya telah mencakup tarif tinggi terhadap baja, aluminium, serta suku cadang otomotif dari Eropa. Langkah itu memicu ketegangan perdagangan berkepanjangan dan mendorong UE memperluas kerja sama ekonomi dengan negara-negara lain di luar AS.

Negosiasi Ulang

Di internal parlemen Uni Eropa, proses kompromi masih berlangsung alot. Sejumlah amandemen yang ditambahkan parlemen pada Maret lalu dinilai tidak dapat diterima oleh pihak AS sehingga harus dinegosiasikan ulang.

Ketua Komite Perdagangan Parlemen Eropa Bernd Lange menyampaikan optimisme bahwa kedua pihak telah membuat banyak kemajuan dalam pembahasan terbaru.

“Saya harap kita bisa mencapai kompromi, termasuk usulan-usulan baru,” kata Lange.

Namun demikian, beberapa kelompok politik di parlemen masih belum menyatakan posisi final mereka hingga menjelang perundingan terakhir. Salah satu isu utama yang diperdebatkan adalah klausul penangguhan yang memungkinkan UE mencabut perlakuan tarif istimewa bagi AS apabila Washington dianggap melanggar ketentuan perjanjian.

Selain itu, terdapat pula perdebatan mengenai klausul “matahari terbit” dan “matahari terbenam”, yakni mekanisme yang mengatur bahwa kewajiban UE baru berlaku penuh setelah AS memenuhi seluruh komitmennya, serta ketentuan bahwa perjanjian akan berakhir pada 2028 kecuali diperpanjang kembali.

Anggota parlemen dari Partai Hijau Anna Cavazzini mengingatkan UE agar tidak terlalu mudah mempercayai pemerintahan Trump tanpa perlindungan yang kuat.

  • hubungan dagang

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: AFP, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.