WHO Siaga! Wabah Ebola Baru di Kongo dan Uganda Disebut Sulit Dikendalikan

Selasa, 19 Mei 2026, 05:45 WIB

Kinshasa - Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) menetapkan wabah Ebola terbaru di Afrika sebagai “darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional” pada 17 Mei lalu.

Status tersebut diumumkan setelah wabah Ebola di wilayah timur laut Republik Demokratik Kongo mulai menyebar ke negara tetangga, Uganda.

Ket. Foto: Seorang petugas medis mengenakan alat pelindung diri (APD) sebelum memasuki pusat perawatan Ebola yang dikelola oleh The Alliance for International Medical Action pada 12 Agustus 2018 di Beni. — Sumber: AFP

Kekhawatiran dunia meningkat karena wabah kali ini melibatkan varian langka Bundibugyo ebolavirus, jenis Ebola yang hingga kini belum memiliki vaksin maupun terapi antibodi khusus yang disetujui.

Penyakit Paling Mematikan di Dunia

Ebola dikenal sebagai salah satu penyakit paling mematikan dengan tingkat kematian yang bisa mencapai 90 persen.

Virus ini berasal dari keluarga orthoebolavirus dan banyak ditemukan di kawasan Afrika Sub-Sahara. Penularan diyakini berasal dari hewan yang terinfeksi seperti kelelawar, gorila, dan simpanse sebelum menyebar ke manusia.

Virus Ebola menular melalui kontak langsung dengan cairan tubuh penderita atau benda yang terkontaminasi. Petugas medis dan anggota keluarga yang merawat pasien menjadi kelompok paling berisiko saat wabah terjadi.

Berbeda dengan virus corona penyebab COVID-19, Ebola tidak mudah menyebar melalui udara atau kontak biasa. Penularan umumnya terjadi melalui kontak erat dengan cairan tubuh pasien yang sakit parah atau meninggal dunia.

Varian Bundibugyo

Wabah terbaru ini diidentifikasi sebagai Bundibugyo ebolavirus, varian langka yang pertama kali ditemukan di Uganda pada 2007.

Sejauh ini, dunia baru mencatat dua wabah Bundibugyo sebelumnya, yakni di Uganda pada 2007 dan di Kongo pada 2012. Karena kasusnya sangat jarang, ilmuwan masih memiliki data terbatas dibandingkan varian Zaire yang lebih umum dan lebih mematikan.

Sebagian besar vaksin Ebola yang ada saat ini, termasuk vaksin Ervebo, dikembangkan khusus untuk melawan varian Zaire setelah epidemi besar Afrika Barat pada 2013–2016 yang menewaskan lebih dari 11 ribu orang.

Akibatnya, pilihan pengobatan untuk varian Bundibugyo menjadi jauh lebih terbatas.

Meski dokter masih mempertimbangkan penggunaan antivirus seperti Remdesivir produksi Gilead Sciences, hingga kini belum ada vaksin maupun terapi antibodi monoklonal yang secara khusus disetujui untuk varian tersebut.

Penyebaran di Wilayah Konflik

Pejabat kesehatan menyebut wabah kemungkinan telah menyebar selama berminggu-minggu sebelum akhirnya terdeteksi.

Virus kini menyebar di Provinsi Ituri, wilayah terpencil dan rawan konflik di timur Kongo yang memiliki infrastruktur kesehatan terbatas dan masih diwarnai aktivitas kelompok bersenjata.

Pusat wabah berada di Mongbwalu, kawasan tambang emas dengan mobilitas pekerja yang sangat tinggi. Dugaan kasus infeksi juga ditemukan di Bunia, ibu kota provinsi dengan populasi hampir 700 ribu jiwa.

Perjalanan lintas batas yang tinggi menuju Uganda dan Sudan Selatan juga meningkatkan risiko penyebaran regional. Uganda sendiri telah melaporkan sejumlah kecil kasus dari pelaku perjalanan asal Kongo.

Tingkatkan Kesiapsiagaan

WHO meminta negara-negara memperkuat pengawasan penyakit, pengujian laboratorium, pelacakan kontak, pemeriksaan perbatasan, hingga kesiapan fasilitas pengobatan.

Status darurat global atau Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) merupakan alarm tertinggi WHO dalam hukum kesehatan internasional.

Status serupa sebelumnya pernah diterapkan pada wabah COVID-19, polio, mpox, dan wabah Ebola terdahulu.

Meski demikian, WHO menegaskan penetapan status ini bukan berarti wabah saat ini diperkirakan menjadi pandemi global, melainkan untuk mempercepat dukungan internasional, pendanaan, dan kesiapan penanganan wabah.

Gejala dan Dampak Ebola

Gejala Ebola biasanya muncul mendadak, mulai dari demam, kelelahan, nyeri otot, sakit kepala, hingga radang tenggorokan. Kondisi kemudian dapat berkembang menjadi muntah, diare, serta pendarahan internal maupun eksternal.

Virus Ebola menyerang sistem imun dan berbagai organ tubuh sehingga dapat menyebabkan syok, gagal organ, hingga kematian.

Sebagian penyintas Ebola juga mengalami komplikasi jangka panjang seperti nyeri kronis, gangguan mata, dan masalah neurologis.

Kongo Dinilai Berpengalaman

Republik Demokratik Kongo dianggap sebagai salah satu negara paling berpengalaman dalam menangani Ebola setelah menghadapi lebih dari selusin wabah sejak virus pertama kali ditemukan di dekat Sungai Ebola pada 1976.

Negara tersebut telah memiliki sistem pengujian cepat, pelacakan kontak, vaksinasi cincin, dan pelibatan masyarakat dalam penanganan wabah.

Namun konflik berkepanjangan di wilayah timur Kongo serta berkurangnya bantuan kesehatan internasional disebut dapat memperumit respons terhadap wabah terbaru ini.

  • Wabah Ebola di Kongo dan Uganda

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.