• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Merpati Pos, Sistem Komuni...

Merpati Pos, Sistem Komunikasi Andalan Peradaban Kuno

Senin, 18 Mei 2026, 07:21 WIB

SEBELUM manusia mengenal telepon, radio, internet, atau satelit, komunikasi jarak jauh merupakan tantangan besar bagi peradaban dunia. Pada masa ketika perjalanan antarkota bisa memakan waktu berhari-hari hingga berminggu-minggu, kebutuhan untuk menyampaikan informasi dengan cepat menjadi sangat penting, terutama untuk kepentingan perang, perdagangan, pemerintahan, dan diplomasi.

Di tengah keterbatasan teknologi tersebut, manusia menemukan solusi unik dari alam: burung merpati. Selama ribuan tahun, burung ini digunakan sebagai alat pengirim pesan tercepat di dunia. Sistem ini dikenal sebagai merpati pos atau carrier pigeon, dan pernah menjadi tulang punggung komunikasi di berbagai peradaban besar dunia.

Ket. Foto: Burung merpati terbang di langit di atas kota kembar ibu kota Mesir, Giza, dengan Piramida Khafre (Chephren) dan Menkaure (Menkheres) di latar belakang. — Sumber: Khaled DESOUKI / AFP

Sejarah penggunaan merpati sebagai alat komunikasi diperkirakan dimulai lebih dari 3.000 tahun lalu. Sejumlah catatan menyebut bangsa Mesir termasuk yang pertama memanfaatkan kemampuan navigasi alami merpati.

Ada sejumlah bukti sejarah dan arkeologis yang menunjukkan bahwa masyarakat Mesir kemungkinan telah menggunakan merpati sebagai alat komunikasi sejak lebih dari 3.000 tahun lalu, meski bukti tertulis langsung masih terbatas.

Salah satu bukti paling sering dikutip adalah relief Mesir kuno sekitar tahun 1350 SM pada masa Firaun Akhenaten yang memperlihatkan sekawanan merpati dilepaskan dari kandang. Para peneliti menilai adegan tersebut berkaitan dengan penggunaan merpati pembawa pesan.

Artikel sejarah dari Atlas Obscura menyebut, “There’s even evidence that ancient Egyptians used pigeons for communication around the same time Amarna was occupied.” Artikel itu juga menjelaskan adanya relief Mesir kuno yang menggambarkan merpati dilepas dari kandang untuk terbang lalu kembali lagi, pola yang identik dengan sistem merpati pos modern.

Selain relief, bukti lain berasal dari perkembangan dovecote atau menara kandang merpati di sepanjang Sungai Nil. Struktur ini menunjukkan bahwa masyarakat Mesir kuno telah membiakkan dan mengelola merpati secara sistematis.

Para ilmuwan juga menemukan penggambaran merpati yang sangat detail di “Green Room” Istana Amarna berusia sekitar 3.300 tahun. Lukisan itu menunjukkan bahwa merpati merupakan bagian penting kehidupan masyarakat Mesir saat itu.

Selain bukti visual, beberapa penelitian modern tentang ras merpati Mesir juga menyebut bahwa bangsa Mesir kuno memanfaatkan merpati “sebagai pembawa pesan karena kemampuan pulangnya yang kuat.”

Meski belum ditemukan arsip pesan merpati secara langsung seperti surat tertulis, kombinasi relief, lukisan, domestikasi merpati, dan catatan sejarah menunjukkan bahwa Mesir kuno kemungkinan termasuk salah satu peradaban paling awal yang menggunakan merpati sebagai sistem komunikasi jarak jauh.

Masyarakat kuno menyadari bahwa beberapa jenis merpati memiliki kemampuan luar biasa untuk kembali ke sarangnya meskipun dilepaskan dari lokasi yang sangat jauh. Kemampuan tersebut dikenal sebagai homing instinct atau naluri pulang.

Kemampuan ini kemudian dimanfaatkan untuk membawa pesan tertulis. Para pengirim pesan akan membawa merpati dari kandangnya menuju lokasi tertentu. Setelah itu, secarik pesan kecil diikatkan pada kaki merpati menggunakan tabung ringan atau gulungan kecil. Ketika dilepas, burung akan terbang kembali ke kandangnya sambil membawa pesan.

Bangsa Persia dan Romawi kemudian mengembangkan sistem komunikasi merpati secara lebih terorganisasi. Dalam Kekaisaran Romawi, merpati digunakan untuk mengirim informasi militer dan hasil pertandingan olahraga.

Ada sejumlah bukti sejarah yang menunjukkan bahwa Persia termasuk salah satu peradaban paling awal yang menggunakan merpati sebagai alat komunikasi jarak jauh, terutama untuk kepentingan pemerintahan dan militer.

Salah satu referensi sejarah paling sering dikutip berasal dari catatan mengenai pigeon post atau sistem surat merpati. Dalam catatan sejarah komunikasi kuno disebutkan bahwa metode ini “kemungkinan sudah digunakan sejak masa Persia kuno”, bahkan diyakini bangsa Persia menjadi pelopor seni melatih merpati pembawa pesan.

Sistem Pos Terorganisasi

Sejumlah kajian sejarah menyebut bangsa Persia tidak hanya memelihara merpati, tetapi juga mengembangkan sistem komunikasi yang terorganisasi untuk menyampaikan informasi militer dan administrasi kerajaan.

Situs sejarah Pigeons in Ancient Civilizations menjelaskan: “The Persians established one of the earliest organised pigeon post systems, utilising it to transmit military intelligence and uphold administrative authority across extensive regions.”

Artinya, Persia kuno diyakini telah menggunakan jaringan merpati untuk mengirim informasi militer, menyampaikan pesan pemerintahan, serta menjaga koordinasi wilayah kekaisaran yang sangat luas.

Hal ini masuk akal secara historis karena Kekaisaran Persia merupakan salah satu kekaisaran terbesar dunia kuno. Pada masa Cyrus the Great hingga Darius I, wilayah Persia membentang dari Asia Tengah hingga Mesir.

Wilayah sebesar itu membutuhkan sistem komunikasi cepat untuk pengiriman perintah kerajaan, laporan militer, pengawasan provinsi, dan distribusi informasi perdagangan. Selain jaringan jalan terkenal seperti Royal Road, para sejarawan meyakini merpati turut menjadi pelengkap sistem komunikasi cepat Persia.

Bukti fisik paling nyata berasal dari keberadaan ribuan dovecote atau menara merpati kuno di wilayah Iran, pewaris utama Persia kuno. hay

  • Merpati pos

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.