Sampah Sayur di Pasar Kramat Jati Kini Bisa Jadi Pupuk Cair dalam Hitungan Jam

Senin, 11 Mei 2026, 14:10 WIB

JAKARTA - Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, meninjau langsung pengolahan sampah organik di Pasar Area 7 Kramat Jati, Jakarta Timur, pada Senin (11/5). Dalam kunjungan tersebut, Pramono menyoroti penggunaan teknologi hidrotermal yang dinilai mampu mempercepat proses pengolahan sampah organik secara signifikan dibandingkan metode konvensional.

Teknologi hidrotermal bekerja dengan memanfaatkan uap panas bertekanan tinggi untuk mengurai sampah organik tanpa melalui proses pembakaran. Inovasi tersebut dinilai menjadi solusi baru dalam pengelolaan sampah pasar tradisional yang selama ini menghasilkan limbah organik dalam jumlah besar setiap harinya.

Ket. Foto: Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, meninjau langsung pengolahan sampah organik di Pasar Area 7 Kramat Jati, Jakarta Timur, pada Senin (11/5). Dalam kunjungan tersebut, Pramono menyoroti penggunaan teknologi hidrotermal yang dinilai mampu mempercepat proses pengolahan sampah organik secara signifikan dibandingkan metode konvensional. — Sumber: Pemprov DKI Jakarta

Pramono mengatakan metode konvensional biasanya membutuhkan waktu sekitar tujuh hingga 10 hari untuk mengolah sampah organik. Namun melalui teknologi hidrotermal, proses tersebut kini dapat diselesaikan hanya dalam waktu sekitar dua jam untuk setiap batch pengolahan.

"Dengan teknologi hidrotermal, waktu pengolahan sampah dapat dipangkas menjadi sekitar dua jam untuk setiap batch. Ini merupakan inovasi yang sangat baik karena mampu mempercepat proses pengolahan sekaligus menghasilkan produk yang bernilai ekonomis," ujar Pramono.

Berdasarkan hasil uji coba yang dilakukan pada April 2026, total sampah organik yang berhasil diolah di Pasar Kramat Jati mencapai 1.708,1 kilogram. Dari jumlah tersebut, proses pengolahan menghasilkan sekitar 936 liter pupuk cair.

Efisiensi waktu pengolahan melalui teknologi tersebut disebut mencapai 80 kali lebih cepat dibandingkan metode biasa. Selain menghasilkan pupuk cair, proses itu juga memproduksi residu padat yang masih dapat dimanfaatkan sebagai media tanam maupun pupuk organik.

Pramono menilai capaian tersebut membuktikan bahwa inovasi pengelolaan sampah dari sumber mampu memberikan hasil yang konkret. Menurutnya, langkah ini juga menjadi bagian penting dalam mengurangi volume sampah yang dikirim ke TPST Bantargebang.

"Capaian ini menunjukkan bahwa inovasi pengelolaan sampah dapat memberikan hasil nyata dan terukur. Ke depan, kami ingin implementasi di Pasar Kramat Jati menjadi percontohan bagi pasar-pasar lain di bawah naungan Perumda Pasar Jaya," katanya.

Pasar Kramat Jati sendiri memiliki sekitar 1.803 tempat usaha aktif. Setiap hari, pasar tersebut menghasilkan kurang lebih enam ton sampah.

Dari total sampah harian tersebut, sekitar 75 hingga 80 persen merupakan sampah organik berupa sisa sayuran, buah-buahan, daun, hingga sisa makanan. Jika tidak ditangani dengan baik, limbah tersebut berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan dan gangguan kesehatan bagi masyarakat sekitar.

Pramono menegaskan pasar tradisional memiliki peran strategis dalam menekan volume sampah perkotaan. Karena itu, sistem pengelolaan sampah di pasar perlu dibangun secara lebih modern dan terukur.

"Pengolahan sampah organik menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan pasar yang bersih, sehat, dan berkelanjutan. Kami ingin pasar-pasar di Jakarta tidak hanya menjadi pusat ekonomi, tetapi juga menjadi ruang publik yang nyaman dan ramah lingkungan," tuturnya.

Kunjungan tersebut juga menjadi tindak lanjut dari Gerakan Pilah Sampah yang telah diluncurkan Pemprov DKI Jakarta pada 10 Mei 2026. Program tersebut mendorong masyarakat untuk mulai memilah sampah sejak dari sumbernya.

Pramono menilai keberhasilan program pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada pemerintah. Menurut dia, keterlibatan pedagang, pengelola pasar, dan masyarakat luas menjadi faktor utama keberhasilan kebijakan tersebut.

"Gerakan pilah sampah membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Pengelolaan sampah dari sumber menjadi langkah penting agar permasalahan sampah di Jakarta dapat ditangani secara lebih efektif," ujarnya.

Ia menambahkan kolaborasi antara Pemprov DKI Jakarta dan Perumda Pasar Jaya akan terus diperkuat untuk memperluas penerapan konsep pasar hijau di ibu kota. Langkah tersebut diharapkan menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.

"Ini bukan sekadar upaya membuang sampah, melainkan mengubah limbah menjadi aset yang memiliki manfaat ekologis dan ekonomis. Pemprov DKI Jakarta berkomitmen terus menghadirkan inovasi pengelolaan lingkungan demi mewujudkan Jakarta yang lebih bersih dan berkelanjutan," pungkas Pramono.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.