- Home
-
- Luar Negeri
-
- Trump Ultimatum Iran Agar ...
Trump Ultimatum Iran Agar Terima Kesepakatan Guna Akhiri Perang
Jumat, 08 Mei 2026, 01:05 WIBWASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada hari Rabu (6/5) mengeluarkan ultimatum agar Iran menerima kesepakatan untuk mengakhiri perang atau menghadapi pemboman intensif. Pernyataan Trump itu merupakan perubahan kebijakan mendadak terbaru dari serangkaian pernyataannya.
âDengan asumsi Iran setuju untuk memberikan apa yang telah disepakati, yang mungkin merupakan asumsi besar, 'Epic Fury' yang sudah melegenda akan berakhir," tulis Trump di platform Truth Social miliknya, menggunakan nama AS untuk kampanye militernya melawan Iran.
âJika mereka tidak setuju, pemboman akan dimulai, dan sayangnya, akan jauh lebih tinggi dan lebih intens daripada sebelumnya,â kata Trump.
Dalam sebuah wawancara dengan Public Broadcasting Service, Trump optimistis mencapai kesepakatan dengan Iran sebelum perjalanannya yang dijadwalkan ke Tiongkok minggu depan.
âSaya pikir ada peluang yang sangat bagus untuk mengakhirinya, dan jika tidak berakhir, kita harus kembali membombardir mereka habis-habisan,â kata Trump kepada penyiar tersebut.
Dia juga ditanya tentang laporan bahwa berdasarkan kesepakatan yang diusulkan, Teheran akan mengekspor uranium yang diperkaya tinggi, mungkin ke Amerika Serikat.
âBukan tidak mungkin. Itu akan diberikan kepada Amerika Serikat,â kata Trump tanpa menjelaskan bagaimana poin perselisihan utama ini akan diselesaikan.
Bukan Bom Nuklir
Iran dengan tegas menolak untuk menyerahkan uranium yang telah diperkaya, yang menurut mereka bukan untuk membuat bom nuklir.
Unggahan media sosial Trump muncul setelah media berita AS Axios melaporkan bahwa Washington dan Teheran hampir menyepakati nota kesepahaman satu halaman untuk mengakhiri perang dan menetapkan kerangka kerja untuk negosiasi nuklir yang lebih rinci.
Namun, tak lama berselang, Presiden mengatakan kepada New York Post bahwa masih terlalu jauh dan terlalu berat untuk memikirkan pembicaraan tatap muka dengan Iran di Pakistan, yang telah menjadi mediator kesepakatan perdamaian antara kedua pihak.
Sulit untuk memahami sikap Trump tentang bagaimana mengakhiri perang.
Politisi Republik berusia 79 tahun itu berulang kali menegaskan bahwa ia memiliki "banyak waktu" untuk konflik yang berisiko tinggi ini, tetapi baru-baru ini juga memberi sinyal kepada Kongres bahwa perang, yang diluncurkan pada 28 Februari, sudah berakhir.
Trump dan pemerintahannya berupaya untuk keluar dari konflik tersebut, yang sangat tidak populer di kalangan publik Amerika dan telah menaikkan harga bensin, di antara biaya lainnya.
Redaktur: Vitto Budi
Penulis: AFP, Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Alarm Pangan Berbunyi! Perpres Penyelamatan Segera Diterbitkan
-
Menlu Marco Rubio Tegaskan Perang AS-Iran Telah Berakhir
-
Indonesia Usul Sidang Darurat DK PBB Gandeng Prancis Terkait Gugurnya Pasukan UNIFIL
-
Trump Mengaku Bicara dengan Hezbollah dan Netanyahu, Konflik Lebanon Memasuki Babak Baru
-
PDIP: Gugurnya 8 Prajurit TNI di Lebanon Momentum PBB untuk Bersikap Lebih Tegas
-
PAPPSI Diharapkan Menjadi Motor Penggerak Pembangunan Tabagsel
-
Potensi Terjadi Hujan Deras di Jakarta Saat Idul Fitri
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.