G7 Soroti Dominasi Mineral Tiongkok

Jumat, 08 Mei 2026, 01:00 WIB

Tokyo - Para menteri perdagangan negara-negara G7 pada Rabu (6/5), menyatakan kesiapan untuk menolak tindakan “pemaksaan ekonomi” terselubung yang merujuk pada kontrol Tiongkok terhadap ekspor mineral penting.

Usai pertemuan di Paris, Menteri Perdagangan Luar Negeri Prancis Nicolas Forissier mengatakan KTT G7 pada pertengahan Juni mendatang akan memfokuskan pembahasan pada penguatan rantai pasokan komoditas mineral strategis.

Ket. Foto: Para menteri perdagangan negara-negara G7 menyatakan kesiapan untuk menolak tindakan “pemaksaan ekonomi” terselubung yang merujuk pada kontrol Tiongkok terhadap ekspor mineral penting. — Sumber: istimewa

Prancis, kata dia, memiliki kekhawatiran terhadap dominasi Tiongkok di pasar logam tanah jarang (LTJ), yang menjadi bahan penting dalam industri semikonduktor dan teknologi tinggi.

Dikutip dari Antara, dalam pertemuan tersebut, Menteri Perdagangan Jepang Ryosei Akazawa menekankan pentingnya mempertahankan dan memperkuat sistem perdagangan multilateral, termasuk menekan praktik pembatasan ekspor yang dianggap tidak adil.

Akazawa menyebut sejumlah anggota G7 juga menyampaikan kekhawatiran terhadap kemungkinan perluasan kebijakan kontrol ekspor Tiongkok, yang sebelumnya diterapkan terhadap Jepang, ke negara-negara lain.

Dalam pernyataan bersama, para menteri perdagangan G7 menyampaikan keprihatinan serius terhadap praktik pemaksaan ekonomi, termasuk pembatasan ekspor secara sewenang-wenang yang berpotensi mengganggu rantai pasokan global.

Karena itu, negara-negara G7 menyatakan akan memperkuat kerja sama guna memastikan ancaman penggunaan ketergantungan ekonomi sebagai alat tekanan politik dapat dicegah.

Pertemuan tersebut turut dihadiri Perwakilan Dagang Amerika Serikat Jamieson Greer.

Sementara itu, Tiongkok tercatat sebagai negara dengan cadangan terbesar di dunia untuk 14 jenis mineral strategis, termasuk tanah jarang, tungsten, timah, molibdenum, antimonium, galium, germanium, indium, fluorit, dan grafit.

Berdasarkan data Kementerian Sumber Daya Alam Tiongkok, pada 2025 negara itu juga menempati posisi pertama dunia dalam produksi 17 jenis mineral, seperti batu bara, vanadium, titanium, seng, tanah jarang, emas, hingga telurium.

Nilai output industri pertambangan Tiongkok pada 2025 mencapai sekitar 32,7 triliun yuan atau setara 4,77 triliun dollar AS, menyumbang lebih dari 23 persen Produk Domestik Bruto (PDB) negara tersebut.

Pemerintah Tiongkok menyatakan dominasi sektor pertambangan dan pengolahan mineral itu berperan penting dalam menjaga stabilitas rantai industri domestik sekaligus mendukung pengembangan sektor-sektor baru dan kebutuhan pasar global.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.