Percepat Transisi Energi dan Pengembangan EBT

Kamis, 07 Mei 2026, 01:00 WIB

Pengembangan EBT seperti tenaga surya, bioenergi, dan panas bumi diharapkan mampu menjadi fondasi kemandirian energi Indonesia di masa depan.

Jakarta – Percepatan transisi energi dan pengembangan energi baru terbarukan (EBT) menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus menekan ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Ket. Foto: Norman Ginting Ketua METI - METI akan terus memperkuat perannya sebagai mitra strategis pemerintah dalam mendorong percepatan transisi energi nasional yang terarah dan berdampak nyata. — Sumber: antara

Ketua Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) Norman Ginting menegaskan komitmen organisasinya untuk memperkuat dan mengawal percepatan transisi energi serta pengembangan EBT nasional.

“METI akan terus memperkuat perannya sebagai mitra strategis pemerintah dalam mendorong percepatan transisi energi nasional yang terarah dan berdampak nyata,” kata Norman, sebagaimana diberitakan Antara, di Jakarta, Rabu (6/5).

Norman, yang juga menjabat sebagai Direktur Proyek & Operasi Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE), menyatakan pihaknya siap mempererat kolaborasi lintas pemangku kepentingan guna mendukung agenda energi bersih Indonesia. Ia menekankan, transisi energi bukan sekadar upaya menekan emisi, tetapi juga momentum memperkuat kemandirian energi dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

“Pengembangan energi baru terbarukan harus menjadi fondasi ketahanan dan kemandirian energi Indonesia, sekaligus membuka peluang pertumbuhan ekonomi baru, penciptaan lapangan kerja hijau, serta penguatan kapasitas industri dan teknologi nasional,” ujarnya.

Ke depan, METI diarahkan menjadi wadah kolaborasi untuk mengakselerasi berbagai program strategis, seperti pengembangan PLTS 100 GW, implementasi bioethanol E20, Sustainable Aviation Fuel (SAF), panas bumi, biomassa, cofiring, hingga waste to energy. Upaya tersebut dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Norman juga menegaskan pentingnya pengembangan ekosistem industri energi bersih dalam negeri agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar teknologi. “Melalui pendekatan tersebut, Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi pasar teknologi, tetapi juga mampu berkembang sebagai pengembang, produsen, operator, dan inovator teknologi energi bersih yang berdaya saing,” katanya.

Ia menambahkan, transisi energi harus memberi dampak ekonomi luas, termasuk penciptaan lapangan kerja hijau dan penguatan rantai pasok nasional. “Dengan pendekatan tersebut, transisi energi diharapkan tidak hanya berorientasi pada target lingkungan, tetapi juga mampu menciptakan nilai tambah bagi pertumbuhan ekonomi nasional,” ujarnya.

Penguatan Ekosistem

Sementara itu, Chief Executive Officer Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menilai percepatan transisi energi menjadi kunci untuk memperbaiki struktur energi nasional. Ia menegaskan ketahanan energi tidak lagi bisa bergantung pada pencarian sumber minyak baru.

Menurut Fabby, solusi utama adalah menurunkan konsumsi energi fosil melalui elektrifikasi transportasi, efisiensi energi, serta pengembangan energi terbarukan, termasuk program de-dieselisasi pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD).

Ia menilai sejumlah kebijakan pemerintah sudah mengarah ke solusi struktural, seperti rencana pembangunan PLTS 100 GW dan penggantian PLTD dengan PLTS yang dilengkapi sistem penyimpanan energi baterai (BESS). Namun, ia mengingatkan perlunya penguatan ekosistem agar target besar dapat tercapai.

“Ukuran keberhasilan tidak cukup hanya dari ambisi target, tetapi dari kesiapan ekosistem, biaya fiskal, dan dampak nyata terhadap pengurangan impor BBM,” ujar Fabby.

Fabby menekankan prioritas mendesak adalah konversi sekitar 5 GW PLTD menjadi PLTS+BESS di wilayah seperti Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Papua dalam tiga tahun ke depan. Langkah ini dinilai dapat menekan konsumsi diesel, mengurangi biaya logistik energi, serta meningkatkan ketahanan listrik daerah.

“Dengan kondisi sekarang, Pemerintah perlu melakukan transformasi struktural dalam rentang waktu 1–10 tahun. Caranya dengan mengkonversi 5 GW PLTD menjadi PLTS+BESS dalam 12–24 bulan ke depan, sebagai program penghematan BBM paling cepat dan terukur,” jelasnya.

  • Ketahanan Energi

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

Berita Terbaru

De Zerbi Minta Maaf atas Kekalahan Tottenham dari Brentford

IKM Fesyen & Kriya Tumbuh 2x Lipat! Kemenperin Genjot Digital Biar Naik Kelas

Bantu Warga Korban Kebakaran Desa Adat Sade, Kemenpar Siagakan Poltekpar Lombok

Tabrakan Beruntun di Tol Senayan, Dua Orang Alami Luka-luka

Dinas Pertanian Kabupaten Lebak: Panen Durian dan Manggis Serap Ribuan Tenaga Kerja 

Belajar Bisnis dari Kisah Yohanes Membangun PepperJo

Libur Panjang Bikin Stasiun Jakarta Padat, 38.842 Penumpang Berangkat Naik Kereta

Bupati Sintang Imbau Warga untuk Peduli dan Hentikan Bakar Hutan dan Lahan

Kerajinan Badui Banjir Pesanan di Bazar Harkop Harnas, UMKM Lokal Raup Omzet

Senangnya! Cerita Komik "Oki dan Nirmala dari Negeri Dongeng" akan Diangkat ke Layar Lebar!

'Perang Dagang' AS vs Kanada, PM Carney Umumkan Tarif Balasan untuk Produk-produk Amerika

Durian Melimpah di Lebak, Pedagang Raup Omzet hingga Rp50 Juta Sehari

Kampung Adat Sade Terbakar, Kemenpar Siapkan Dapur Umum dan Pemulihan Wisata

Karhutla Kalimantan Makin Mengkhawatirkan, BNPB Perkuat Operasi Modifikasi Cuaca dan Armada Pemadaman

Karhutla Makin Mengancam, Kemenhub Fasilitasi Pesawat Asing untuk Perkuat Penanganan

Aturan Baru Florida Bikin Geger! Ngebut Ditilang, Berkendara Lambat Juga Kena

Potensi Karhutla pada Musim Kemarau, BMKG Minta Masyarakat DIY Waspada

Karyawan Hyundai-Kia Mogok Besar-besaran, 40.000 Pekerja Khawatir Robot AI Gantikan Manusia

Kebakaran di Taman Nasional Way Kambas Berhasil Dipadamkan, Polda Lampung: Tim Pastikan Tak Ada Titik Api Lain

Fitur Canggih Mobil Ternyata Jarang Dipakai, Ada yang Tak Tahu Cara Menggunakannya

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.