Gejolak Global Jadi Peluang Perluas Mitra Dagang
Rabu, 06 Mei 2026, 01:00 WIBJAKARTA â Gejolak global yang dipicu konflik geopolitik dan ketidakpastian ekonomi seharusnya tidak hanya dipandang sebagai ancaman, tetapi juga peluang strategis bagi Indonesia.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto menilai gejolak geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat dapat menjadi peluang bagi Indonesia untuk memperluas mitra dagang strategis.
"Ini saatnya Indonesia melebarkan partner-partner dagang strategis, tidak hanya dengan Amerika Serikat," ujar Eko, sebagaimana diberitakan Antara di Jakarta, Selasa (5/5).
Menurut dia, langkah tersebut penting untuk menjaga neraca perdagangan Indonesia tetap surplus di tengah ketidakpastian global. Ia menilai perluasan kerja sama ke kawasan Asia dan Eropa menjadi opsi strategis karena kondisi yang relatif lebih stabil.
"Salah satu cara menurut saya ke depan yang bisa dilakukan dengan situasi ini supaya neraca dagang kita tetap bagus adalah memperlebar para mitra strategis, berkunjung ke banyak negara kawasan Eropa dan Asia," ujarnya.
"Itu sebetulnya yang harus didorong. Dan itu negara-negara (Asia dan Eropa) relatif tenang, sehingga itu memungkinkan menurut saya untuk mengembangkan perdagangan dari hasil diplomasi Presiden Prabowo ke berbagai negara tersebut," tambahnya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Indonesia mencatat surplus neraca perdagangan selama 71 bulan berturut-turut hingga Maret 2026. Pada periode tersebut, surplus mencapai 3,32 miliar dolar AS, ditopang sektor nonmigas seperti industri pengolahan.
Perluas Pasar
Sejalan dengan itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan pemerintah terus mendorong pembukaan pasar ekspor baru untuk menjaga pertumbuhan di tengah ketidakpastian global.
âLangkah-langkah pemerintah terkait dengan ekspor, dalam (situasi) ketidakpastian ini, salah satunya adalah membuka pasar lebih luas,â kata Airlangga.
Ia menjelaskan pemerintah tengah mempercepat penyelesaian perjanjian perdagangan dengan Uni Eropa. Proses tersebut saat ini masih dalam tahap teknis, termasuk penerjemahan dokumen ke berbagai bahasa.
âKalau ini bisa selesai, kita berharap 1 Januari tahun depan pasar Eropa bisa terbuka dengan bea masuk nol,â ujarnya.
Selain Eropa, pemerintah juga mendorong optimalisasi kerja sama dagang dengan Kanada serta penjajakan perjanjian ekonomi dengan Inggris. Di tingkat regional, Indonesia bersama negara Asean juga memperkuat ketahanan energi dan pangan sebagai respons terhadap krisis global dan potensi dampak fenomena El Nino.
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Eko S
Berita Terkait:
-
Lidah Warga Tiongkok Mulai Jatuh Hati pada Makanan Olahan RI
-
Rangkaian Paskah, Umat Katolik Kaltara visualisasikan Jalan Salib
-
Bantu Warga, Pemkab Bekasi Distribusikan Ribuan Paket Pangan Subsidi
-
Tanggung bagi Pegula, Siap Habis-habisan untuk Raih Juara
-
Gunung Marapi Meletus Sabtu Malam, Warga Diminta Waspadai Abu Vulkanik dan Lahar Dingin
-
Dampak Geopolitik Global, Harga Referensi CPO dan Biji Kakao Kompak Naik di Bulan Mei
-
Pasar Latin Nggak Bisa Diabaikan Lagi: Cili Buktiin Dagang RI Naik 12% Pasca CEPA
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.