Baterai Jadi Jantung Transisi EBT, Namun Sorotan Tertuju pada Dampak Lingkungan
Rabu, 06 Mei 2026, 00:00 WIBTransisi EBT yang ideal bukan hanya soal mengganti sumber energi, tetapi memastikan seluruh ekosistemnya selaras dengan prinsip ekonomi hijau dan berkelanjutan.
JAKARTA â Dorongan transisi energi baru terbarukan (EBT) tak cukup hanya berfokus pada pengurangan impor bahan bakar fosil, melainkan juga harus mencakup pembangunan ekosistem industri secara berkelanjutan. Pengembangan teknologi pendukung seperti baterai, menjadi krusial karena berperan dalam penyimpanan energi dan stabilitas pasokan.
Namun, tanpa pendekatan hijau dari hulu ke hilir, risiko perpindahan beban lingkungan justru meningkat dari sektor energi ke sektor industri. Pendekatan tersebut perlu dilakukan mulai dari penambangan bahan baku, proses produksi, hingga daur ulang.
Prinsip keberlanjutan dalam rantai nilai baterai menentukan kualitas transisi energi itu sendiri. Jika produksi baterai masih bergantung pada energi kotor atau praktik ekstraksi yang merusak lingkungan, maka manfaat dekarbonisasi menjadi tidak optimal. Selain itu, penguatan teknologi dan industri domestik juga penting untuk mengurangi ketergantungan impor serta meningkatkan nilai tambah.
Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda menekankan transisi EBT harus dijalankan secara menyeluruh dan berkelanjutan, tidak sekadar menggantikan bahan bakar fosil. Dia mengingatkan pengembangan teknologi pendukung, khususnya baterai, wajib menerapkan prinsip hijau dari hulu ke hilir agar tidak menimbulkan masalah lingkungan baru dari proses produksi hingga limbah.
âJangan sampai transisi ke energi listrik tapi pembuatan bahan baku energi atau penampung energinya merusak lingkungan,â kata Nailul, Selasa (5/5).
Menurutnya, percepatan transisi energi harus diimbangi dengan standar lingkungan yang ketat, termasuk dalam rantai pasok dan hilirisasi industri baterai. Tanpa itu, risiko yang muncul adalah pergeseran beban emisi dari sektor energi ke sektor manufaktur.
Di sisi lain, dia menilai kemandirian energi hanya bisa dicapai jika Indonesia mengoptimalkan potensi EBT dan mengurangi ketergantungan pada impor energi fosil. Kunci keberhasilan transisi energi terletak pada kombinasi antara peningkatan bauran EBT dan pembangunan industri pendukung yang berkelanjutan.
âDengan bauran EBT tinggi dan industri baterai yang hijau, Indonesia bisa lepas dari ketergantungan impor energi sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi jangka panjang,â ujarnya.
Bangun Kemandirian
Senada, Guru Besar Tetap Departemen Teknik Metalurgi dan Material, Fakultas Teknik UI (FTUI) dalam bidang Material Energi Baru dan Terbarukan, Bambang Priyono menegaskan kemandirian energi hanya dapat dicapai melalui pengembangan teknologi baterai berbasis bahan baku terbarukan yang melimpah di dalam negeri. Pendekatan ini dinilai penting agar transisi energi tidak hanya berkelanjutan, tetapi juga ramah lingkungan dan tidak bergantung pada sumber daya impor.
Dia juga menyoroti urgensi teknologi penyimpanan energi sebagai kunci dalam menjawab krisis energi, polusi udara, dan tantangan keberlanjutan. âPemanfaatan energi terbarukan seperti surya dan angin sangat bergantung pada sistem penyimpanan yang efisien, di mana baterai khususnya litium-ion memegang peran strategis sebagai battery energy storage (BES),â jelasnya.
Peneliti Sustainability Learning Center (SLC), Hafidz Arfandi menyoroti baterai masih menjadi komponen termahal dalam adopsi teknologi listrik, baik untuk kendaraan listrik maupun sistem panel surya rumah tangga. Karena itu, pengembangan bahan baku baterai di dalam negeri dinilai penting untuk menekan biaya dan mempercepat pemanfaatan energi listrik berbasis sumber terbarukan.
Namun, dia mengingatkan tantangan tidak hanya pada harga dan daya tahan, tetapi juga pada sistem daur ulang. âTanpa pengelolaan limbah yang memadai, peningkatan penggunaan baterai justru berpotensi menimbulkan masalah lingkungan baru, seperti penumpukan limbah berbahaya,â katanya.
Dijelaskannnya, penguatan ekosistem baterai mulai dari riset dan pengembangan (R&D), hilirisasi industri, hingga teknologi daur ulang menjadi kunci agar Indonesia tidak sekadar berpindah ketergantungan dari energi fosil ke impor bahan baku baterai. Dengan dukungan kebijakan dan insentif yang tepat, pengembangan baterai berbasis material lokal dapat memperkuat ketahanan energi, menekan defisit neraca dagang, serta menciptakan nilai tambah dan lapangan kerja dalam ekonomi hijau.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Transisi Energi Tak Boleh Abaikan Tarif dan Stabilitas Listrik
-
Biorefinery Cilacap, Menyulap Jelantah menjadi Bioavtur
-
Istana Gelar Ratas Bahas Pasokan Energi Imbas Perang di Timur Tengah
-
Dukung Energi Hijau, Pemkot Jambi Jajaki Biomassa dan Waste to Energy
-
Slot Soroti Performa Stabil Mac Allister Usai Kemenangan Tipis atas Forest
-
Bapanas Pastikan Pasokan Pangan Jabodetabek Aman Jelang Imlek dan Ramadan
-
Pemkab Sigi Benahi Infrastruktur dan Fasilitas Danau Lindu untuk Festival 2026
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.