Likuiditas Uang Beredar Maret 2026 Tumbuh 9,7 Persen Capai Rp10.355 Triliun

Jumat, 24 Apr 2026, 01:00 WIB

Jakarta – Bank Indonesia (BI) mencatat likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) pada Maret 2026 tumbuh lebih tinggi, yakni sebesar 9,7 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi 10.355,1 triliun rupiah.

“Pada Maret 2026, M2 tumbuh sebesar 9,7 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Februari 2026 sebesar 8,7 persen (yoy) sehingga mencapai Rp10.355,1 triliun,” kata Direktur Departemen Komunikasi BI Anton Pitono, sebagaimana diberitakan Antara, di Jakarta, Kamis (23/4).

Ket. Foto: Bank Indonesia (BI) — Sumber: antara

Bank Indonesia menjelaskan, pertumbuhan tersebut didorong oleh peningkatan uang beredar sempit (M1) yang tumbuh 14,4 persen (yoy) serta uang kuasi yang meningkat 5,2 persen (yoy).

Dari sisi faktor pendorong, perkembangan M2 pada Maret 2026 terutama dipengaruhi oleh tagihan bersih kepada pemerintah pusat (Pempus) dan penyaluran kredit. Tagihan bersih kepada Pempus tercatat tumbuh signifikan sebesar 39,2 persen (yoy), meningkat dari 25,6 persen (yoy) pada Februari 2026.

Sementara itu, penyaluran kredit pada Maret 2026 tumbuh sebesar 8,9 persen (yoy), relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya. BI menegaskan bahwa angka kredit tersebut hanya mencakup pinjaman (loans), dan tidak termasuk instrumen lain yang dipersamakan dengan pinjaman seperti surat berharga (debt securities), tagihan akseptasi (banker’s acceptances), maupun tagihan repo.

Selain itu, data kredit juga tidak mencakup pinjaman yang disalurkan oleh kantor bank umum di luar negeri, serta kredit kepada pemerintah pusat dan bukan penduduk.

Di sisi lain, BI melaporkan uang primer (M0) adjusted pada Maret 2026 tumbuh 16,8 persen (yoy), melanjutkan pertumbuhan Februari yang mencapai 18,3 persen (yoy), sehingga totalnya menjadi 2.396,5 triliun rupiah.

Pertumbuhan M0 adjusted ini didorong oleh peningkatan giro bank umum di Bank Indonesia sebesar 41,8 persen (yoy) serta pertumbuhan uang kartal yang beredar sebesar 8,6 persen (yoy).

Bank Indonesia menambahkan, perkembangan tersebut telah memperhitungkan dampak pemberian insentif likuiditas sebagai bagian dari kebijakan pengendalian moneter (adjusted).

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Eko S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.