28% Kemasan Mamin Sudah Pakai Kertas, Kemenperin: Saatnya Tinggalkan Plastik!
Jumat, 24 Apr 2026, 14:25 WIBJAKARTA â Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus berupaya memperkuat daya saing industri makanan dan minuman (mamin) nasional. Salah satu langkah strategisnya adalah mendorong penggunaan kemasan aseptik berbahan dasar kertas atau paperboard sebagai pengganti kemasan konvensional.
Kemasan jenis ini dinilai efisien dalam distribusi, mampu menjaga mutu produk tanpa bahan pengawet, sekaligus memangkas ketergantungan pada rantai pendingin.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan pihaknya mulai mendorong pemakaian kemasan non-plastik, terutama berbasis kertas. Menurutnya, kemasan kertas sudah cukup kompetitif dan porsinya mencapai sekitar 28% dari total kemasan di industri mamin.
âKemasan kertas banyak dipakai untuk produk seperti susu dan minuman. Kami berkomitmen terus memacu pengembangan alternatif bahan baku kemasan melalui business matching antara produsen dan pengguna,â kata Menperin di Jakarta, Jumat (24/4).
Langkah itu diharapkan meningkatkan penggunaan kemasan kertas sebagai substitusi plastik. Plt. Dirjen Industri Agro, Putu Juli Ardika, menambahkan pemanfaatan kemasan aseptik kertas sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk mendorong praktik industri yang lebih ramah lingkungan.
*Workshop dan Kunjungan ke LamiPak*Â Â
Dukungan Kemenperin diwujudkan lewat workshop dan kunjungan ke PT Lami Packaging Indonesia bersama pelaku usaha mamin anggota Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) beberapa waktu lalu.
Ketua Umum GAPMMI, Adhi S. Lukman, menyebut kegiatan itu penting untuk mencari alternatif agar industri mamin tetap tumbuh. âDalam menghadapi tantangan, ada dua aspek kunci: procurement dan divisi manufacturing. Manufacturing harus tingkatkan efisiensi agar kompetitif, sementara procurement perlu perluas sourcing. Kunjungan ini bagian dari upaya cari alternatif sumber kemasan,â jelas Adhi.
Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar, Merrijantij Punguan Pintaria, menegaskan Kemenperin mendukung industri minuman dalam negeri terus berinovasi dan beradaptasi, termasuk lewat kemasan berkelanjutan.Â
âHarga kemasan aseptik kertas memang tidak apple to apple dengan plastik. Tapi kalau dihitung menyeluruh, hasilnya bisa setara karena tidak butuh cold chain dan kulkas untuk penyimpanan, serta bahan baku kertasnya cukup stabil,â ujar Merrijantij.
Kapasitas ProduksiÂ
Kebutuhan kemasan aseptik nasional diperkirakan 8,3 miliar kemasan per tahun. Sebanyak 4,8 miliar di antaranya dari segmen susu dan produk dairy, sisanya dari minuman teh, kopi, serta produk plant based seperti santan, oat milk, dan kacang hijau.
Sebagai produsen kemasan aseptik pertama di Indonesia, LamiPak memiliki kapasitas produksi hingga 21 miliar kemasan per tahun â hampir tiga kali lipat kebutuhan nasional. Hal ini dinilai mampu menjaga pasokan domestik tetap stabil sekaligus menekan impor.
Ke depan, Kemenperin akan terus mendukung transformasi industri melalui kebijakan, termasuk insentif modernisasi teknologi dan pengembangan industri berkelanjutan. Pemanfaatan kemasan aseptik berbasis kertas menjadi langkah konkret mewujudkan industri mamin yang inovatif, efisien, dan ramah lingkungan.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Meski Melambat, Industri Tetap Ekspansi! Kemenperin: Ini 2 Sektor Paling Moncer
-
RI Eksportir Minyak Atsiri No.5 Dunia, Nilam Jadi Andalan Tembus Industri Kosmetik & Farmasi
-
4,45 Juta IKM Wajib Hijau Kalau Mau Tembus Rantai Pasok Global & Akses Pembiayaan
-
Bendera Merah Putih Terbentang Sepanjang 180 Meter di Bendung Gerak Babat
-
Dari Batik hingga Kriya! Produk Jogja Kini Dikemas Lebih Modern Biar Tembus Pasar Global
-
Kebakaran Pabrik di KEK Sei Mangkei Tewaskan 3 Pekerja, Kemenperin Soroti Lemahnya K3
-
Srikandi Merdeka Cup 2026: Timnas U16 Singapura Tundukkan Putri Nusantara 2-0
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.