Kesaksian Pilu Migran Ceuta: Demi Harapan, Diselamatkan dari Laut Lalu Dipukul di Daratan

Senin, 03 Agu 2026, 07:31 WIB

CEUTA – Bagi Youssef El Abbas, lima menit berenang menyeberangi laut bukan sekadar perjalanan menuju Spanyol. Itu adalah upaya merebut kembali kehidupan yang telah hilang selama tujuh tahun.

Dari The Guardian, pria 44 tahun asal Maroko itu pernah tinggal dan bekerja di Bilbao selama 14 tahun sebelum akhirnya dideportasi pada 2019 setelah kehilangan pekerjaan dan izin tinggalnya habis. Sejak saat itu, ia terpisah dari istri dan empat putrinya yang tetap tinggal di Spanyol.

Ket. Foto: Ketika kabar menyebar bahwa ribuan orang berhasil menyeberang ke wilayah kantong Spanyol di Ceuta, Youssef El Abbas tahu inilah kesempatan yang selama ini ia tunggu. — Sumber: Istimewa

Ketika kabar menyebar bahwa ribuan orang berhasil menyeberang ke wilayah kantong Spanyol di Ceuta, Youssef tahu inilah kesempatan yang selama ini ia tunggu.

"Saya tidak pernah berhenti memikirkan untuk kembali. Di Maroko, saya hidup, tetapi saya tidak benar-benar menjalani hidup," katanya.

Youssef segera menuju Tétouan, lalu melanjutkan perjalanan ke kota perbatasan Fnideq. Di sepanjang perjalanan, ia melihat sesuatu yang tak biasa. Pos pemeriksaan yang biasanya menghalangi warga Maroko mendekati perbatasan tiba-tiba menghilang.

"Polisi Maroko meneriakkan kepada kami, 'Pergi... pergi... lari ke Spanyol!' Malam sebelumnya mereka memukuli orang-orang, tetapi pagi itu mereka membiarkan kami lewat. Tidak ada yang masuk akal," kenangnya.

Ia mengatakan polisi hanya membiarkan warga Maroko melintas, sementara para migran dari Afrika sub-Sahara dipaksa mundur.

Pukul 14.45 Youssef tiba di perbatasan. Lima belas menit kemudian, setelah berenang sekitar lima menit, ia sudah menginjakkan kaki di wilayah Spanyol.

Namun perjalanan itu dibayar mahal.

"Hanya dalam sekitar 10 menit di air, saya melihat empat orang mengambang dalam keadaan tewas. Orang-orang menarik tubuh mereka ke darat," ujarnya.

Mereka menjadi bagian dari sedikitnya 72 orang yang dilaporkan meninggal karena tenggelam atau terinjak-injak saat berusaha mencapai Ceuta.

Gelombang migrasi kali ini merupakan salah satu yang terbesar dalam sejarah wilayah tersebut. Lebih dari 50.000 orang memasuki Ceuta hanya dalam beberapa hari. Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez menyebutnya sebagai "pelanggaran terhadap integritas teritorial Spanyol."

Pemerintah Spanyol menuding jaringan penyelundup manusia memanfaatkan putusan Mahkamah Agung yang membatasi pengembalian langsung migran yang dicegat di laut menuju Ceuta dan Melilla. Di sisi lain, muncul spekulasi bahwa Maroko sengaja melonggarkan pengawasan perbatasan sebagai bentuk ketidakpuasan atas kunjungan Sánchez ke Aljazair, negara yang mendukung kemerdekaan Sahara Barat.

Meski demikian, Duta Besar Maroko untuk Spanyol Karima Benyaich Millán membantah tudingan tersebut dan mengatakan Rabat berharap para migran segera kembali. Pemerintah Maroko juga menyalahkan kelompok kriminal sebagai penyebab lonjakan penyeberangan massal.

Bagi Youssef, tantangan ternyata belum berakhir setelah berhasil mencapai daratan Spanyol.

Ia mengaku sempat ditolong seorang anggota Guardia Civil saat keluar dari laut. Namun beberapa hari kemudian, aparat yang sama justru melakukan tindakan kekerasan terhadap kelompok migran.

"Tangan yang sama yang membantu saya keluar dari air adalah tangan yang kemudian memukul saya," katanya.

Di tengah ribuan orang yang masih bertahan di Ceuta, kisah serupa juga dialami Said, remaja 17 tahun asal Casablanca.

Ia datang setelah mendengar kabar bahwa perbatasan dibuka. Namun harapan itu segera berubah menjadi kenyataan pahit.

Kini ia hanya memiliki sebotol air dan sekotak yogurt yang diberikan warga setempat.

Said sempat dibawa ke pusat penampungan anak tanpa pendamping. Namun karena kapasitas penuh, ia kembali tidur di jalanan.

Menurut seorang tentara Spanyol yang identitasnya dirahasiakan, protokol sementara yang diterapkan membuat anak-anak tanpa pendamping diperlakukan seperti migran dewasa dan dikembalikan ke Maroko.

Said juga mengaku kesulitan mendapatkan makanan.

Ia dan remaja lain mengatakan banyak toko maupun restoran menolak melayani mereka karena tidak bisa berbahasa Spanyol.

Hingga Jumat malam, lebih dari 48.000 migran telah dikembalikan ke Maroko. Namun ratusan lainnya masih bertahan di taman, trotoar, dan alun-alun Ceuta, berharap mendapat kesempatan menuju daratan utama Spanyol.

Di tengah krisis, solidaritas warga Ceuta mulai terlihat. Banyak penduduk membagikan air minum, roti lapis, pakaian, hingga selimut kepada para migran. Sebagian bahkan menawarkan bantuan menghubungi keluarga mereka.

Namun suasana itu juga dibayangi kedatangan kelompok politik sayap kanan dan neo-Nazi yang mencoba memanfaatkan krisis tersebut.

"Mereka akan memanfaatkan situasi ini untuk mengklaim bahwa mereka telah membela Ceuta. Kami tidak menginginkan mereka di sini," kata seorang warga bernama Malika.

Menurut anggota Majelis Ceuta, Fatima Hamed Hossain, krisis ini telah memicu ketegangan di tengah masyarakat dan membuka ruang bagi kelompok ekstrem untuk memperkeruh keadaan.

Sementara itu, Said masih memegang satu harapan sederhana. Ia ingin mendapat tempat di pusat perlindungan, belajar bahasa Spanyol selama setahun, lalu bekerja sebagai tukang cukur ketika genap berusia 18 tahun.

Ia mengaku ketakutan terbesarnya adalah hidup tanpa dokumen resmi hingga seluruh mimpinya kandas sebelum sempat dimulai.

"Yang saya butuhkan hanyalah kesempatan."

  • Krisis Ceuta

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.