Delapan Pelari Dilarikan ke Rumah Sakit Usai Marathon di Korea Selatan dalam Suhu Hampir 30 Derajat Celcius
Selasa, 21 Apr 2026, 00:10 WIBSEOUL, KOREA SELATAN â Delapan pelari harus dilarikan ke rumah sakit akibat gangguan kesehatan terkait panas setelah mengikuti ajang marathon di dekat kawasan demiliterisasi (DMZ) Korea Selatan, di tengah suhu tinggi yang mendekati 30 derajat Celsius. Hal tersebut disampaikan otoritas setempat kepada AFP, Senin (20/4) waktu setempat.
Ajang DMZ Peace Marathon yang digelar di kota Paju memang dikenal menawarkan pengalaman unik bagi para peserta. Lintasan lomba berada dekat wilayah sensitif yang memisahkan Korea Selatan dan Korea Utara, menjadikannya salah satu marathon dengan nuansa geopolitik paling khas di dunia.
Namun, kondisi cuaca menjadi tantangan tersendiri pada lomba yang berlangsung Minggu lalu. Suhu di Semenanjung Korea melonjak tajam, lebih menyerupai musim panas ketimbang musim semi yang biasanya sejuk. Panas ekstrem ini berdampak langsung pada kondisi para pelari.
Pejabat setempat mengungkapkan bahwa setidaknya 12 peserta mengalami gangguan kesehatan, mulai dari kejang, pusing, hingga hiperventilasi. Dari jumlah tersebut, delapan orang harus mendapatkan perawatan di rumah sakit, termasuk seorang pelari berusia 43 tahun yang sempat dirawat di unit perawatan intensif.
Menurut pihak berwenang, sejumlah pelari diduga tetap memaksakan diri untuk melanjutkan lomba meskipun suhu terus meningkat. Kondisi tersebut memperbesar risiko terjadinya heatstroke atau serangan panas.
Seorang pejabat pemadam kebakaran mengimbau masyarakat untuk lebih waspada terhadap tanda-tanda heatstroke. âJika gejala muncul, segera hentikan aktivitas fisik dan lakukan pendinginan tubuh,â ujarnya.
Sementara itu di ibu kota Seoul, yang berjarak sekitar 30 kilometer dari Paju, suhu tercatat mencapai 29,4 derajat Celsius selama akhir pekan. Angka tersebut menjadi yang tertinggi untuk pertengahan April sejak pencatatan modern dimulai pada tahun 1907.
Badan Meteorologi Korea (Korea Meteorological Administration) menjelaskan bahwa lonjakan suhu ini kemungkinan dipicu oleh sistem cuaca sementara yang membawa udara hangat ke arah utara, fenomena yang sesekali terjadi pada musim semi.
Meski demikian, para ilmuwan juga mengingatkan bahwa perubahan iklim akibat aktivitas manusia turut berkontribusi terhadap peningkatan suhu global dan semakin seringnya kejadian cuaca ekstrem di berbagai belahan dunia.
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: AFP, Benny Mudesta Putra
Berita Terkait:
-
Gass, Tiket Lebaran Masih Tersedia 98 Ribu Kursi
-
Panglima TNI Hadiri Silaturahmi Nasional Ormas Islam dan Halal Bihalal Idul Fitri 1447 H MUI
-
Pemkot Singkawang Perkuat Tata Ruang untuk Dukung Program 4.000 Rumah Subsidi
-
Film “Na Willa” Sukses Besar, Berhasil Lampaui 1 Juta Penonton di Bioskop
-
Perkuat Kemitraan Global, Kemenag Gandeng Empat Lembaga di Mesir
-
Dari Euforia ke Koreksi Dalam: IHSG Masuk Zona Rawan Volatilitas, Indeks Ambruk 11,71 Persen Sepanjang 2026
-
Oriflame Indonesia Rayakan 40 Tahun lewat “Year of Stars”, Angkat Komunitas hingga Kolaborasi Pop Culture
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.