Kopi Kuningan Makin Dilirik, Pemkab Sebut Siap Go Global

Minggu, 19 Apr 2026, 20:40 WIB

KUNINGAN – Kopi dari Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, lagi punya peluang besar buat naik kelas ke pasar global. Kualitasnya yang khas, ditambah tren kopi spesialti yang terus naik, jadi modal kuat buat bersaing di luar negeri.

Tinggal bagaimana petani, pelaku usaha, dan pemerintah bisa kompak menjaga kualitas, memperkuat branding, dan membuka akses pasar. Kalau itu jalan, bukan nggak mungkin kopi Kuningan bisa makin dikenal dan jadi kebanggaan di kancah internasional.

Ket. Foto: Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar (kiri) saat menghadiri kegiatan panen kopi di Desa Karangsari, Kuningan, Jawa Barat, Minggu (19/4/2026). — Sumber: ANTARA/HO-Pemkab Kuningan.

Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar menyebutkan komoditas kopi asal daerahnya berpeluang menembus pasar global, seiring peningkatan kualitas dan penguatan ekosistem produksi.

Ia mengatakan kopi asal daerahnya telah menunjukkan kualitas yang mampu bersaing di tingkat internasional, termasuk dari Desa Karangsari, Kecamatan Darma.

“Kopi dari Karangsari telah lolos kurasi untuk tampil pada pameran internasional, serta kembali berpartisipasi dalam ajang World of Coffee 2026 di Bangkok pada 7-9 Mei 2026,” katanya di Kuningan, Minggu (19/4).

Menurut dia, capaian tersebut menunjukkan mutu kopi Kuningan mampu bersaing di tingkat internasional sekaligus membuka peluang perluasan pasar ekspor.

Dian mengatakan keberhasilan itu tidak lepas dari peran petani, dalam menjaga produktivitas dan mengembangkan inovasi budidaya.

Ia menilai kopi tidak hanya menjadi komoditas ekonomi, namun telah bagian dari ekosistem kreativitas masyarakat di Kabupaten Kuningan.

Dian pun menekankan pentingnya menjaga kualitas sejak proses pemetikan hingga pengolahan, guna mempertahankan cita rasa dan nilai jual.

“Jangan memetik yang masih hijau. Kualitas harus dijaga, termasuk proses pengolahan yang bersih agar cita rasa kopi tetap terjaga,” ujarnya.

Selain itu, ia mengingatkan pentingnya kejujuran dalam pemasaran karena kepercayaan menjadi kunci dalam membangun usaha berkelanjutan.

Dian menegaskan sektor pertanian, termasuk kopi, menjadi prioritas pembangunan daerah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pihaknya pun mendata produksi kopi pada 2025 menunjukkan tren positif, dengan robusta seluas sekitar 1.500 hektare menghasilkan 1.173 ton dan arabika seluas 236 hektare mencapai 63 ton.

Sementara itu, penanggung jawab Merta Kopi Karangsari Dede Rokanda mengatakan perkembangan kopi di wilayahnya didorong sinergi antara petani, pemerintah, dan dukungan berbagai pihak.

Ia menyebut komunitas kopi Karangsari bermula dari inisiatif pemuda saat pandemi, yang berkembang menjadi kelompok tani hingga koperasi.

“Tantangan saat ini adalah keterbatasan produksi, sehingga diperlukan dukungan perluasan lahan dan penguatan kapasitas petani agar mampu memenuhi permintaan pasar,” katanya.

  • kopi kuningan

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.