G7 Bersatu Lawan Dominasi Tiongkok, Indonesia Ikut dalam Strategi Rantai Pasok Mineral Dunia

Minggu, 19 Apr 2026, 20:00 WIB

Washington - Para menteri keuangan G7 sepakat meningkatkan kerja sama dengan negara-negara kaya sumber daya dan bank-bank pembangunan multilateral guna mengurangi ketergantungan pada mineral kritis Tiongkok.

Kesepakatan itu dicapai dalam pertemuan di Washington bersama negara-negara mitra dan produsen mineral, termasuk Indonesia, India, Australia, dan Argentina.

Ket. Foto: Sebuah mesin penambangan terlihat di tambang Bayan Obo yang mengandung mineral tanah jarang, di Mongolia Dalam, China, 16 Juli 2011. — Sumber: Antara

"Kami membahas penguatan rantai pasok mineral kritis. Ini situasi saling menguntungkan karena pasokan dapat diamankan dari berbagai negara," kata Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama.

Ia menambahkan kerja sama tersebut membuka peluang bisnis dan pertumbuhan baru bagi negara-negara penghasil sumber daya.

"Mengingat potensi kolaborasi, saya percaya ini memiliki prospek yang signifikan," katanya. 

Pertemuan yang dipimpin bersama oleh Prancis dan Jepang itu juga dihadiri pimpinan Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia (ADB).

Seorang pejabat Jepang mengatakan inisiatif ini bertujuan mendiversifikasi rantai pasok dan mengurangi ketergantungan global yang berlebihan pada Tiongkok.

Berbeda dengan usulan AS untuk membentuk "zona perdagangan preferensial," pendekatan Prancis dinilai lebih realistis karena berfokus pada proyek bisnis yang saling menguntungkan.

Tiongkok saat ini menambang sekitar 70 persen logam tanah jarang dunia, 90 persen di antaranya dimurnikan. Mineral tersebut diperlukan dalam industri teknologi tinggi.

Katayama menekankan pentingnya mengurangi ketergantungan pada Tiongkok, yang ia nilai bisa memanfaatkan pasokan mineral kritis sebagai "senjata."

  • Logam Tanah jarang

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Antara, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.