Krisis Pupuk Global Membayangi Negara Berkembang

Kamis, 16 Apr 2026, 01:00 WIB

BRUSSELS – Badan perdagangan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Selasa (14/4), menyatakan kelangkaan pupuk akibat konflik Iran menjadi persoalan mendesak bagi negara-negara berkembang. Sementara itu, keuntungan dari kenaikan harga minyak dan gas bagi negara produsen di dunia berkembang diperkirakan hanya bersifat sementara.

Dikutip dari The Straits Times, Direktur Eksekutif International Trade Centre, Pamela Coke-Hamilton, mengatakan dampak terbesar saat ini justru berasal dari gangguan pasokan pupuk yang berpengaruh langsung terhadap ketahanan pangan.

Ket. Foto: Pupuk dimuat ke dalam mesin untuk persiapan penyebaran di lahan pertanian Andy Corriher di China Grove, North Carolina, pekan lalu. — Sumber: AFP/Grant Baldwin

“Masalah yang lebih mendesak adalah pupuk, karena hal itu kemudian memengaruhi ketahanan pangan dan ketahanan pangan selalu menjadi dasar stabilitas,” ujarnya.

Ia menambahkan, meskipun pasokan minyak dan gas masih dapat diperoleh dari sumber lain sehingga situasinya “tidak terlalu buruk”, kenaikan harga tetap menjadi tantangan bagi banyak negara.

Coke-Hamilton menjelaskan sekitar sepertiga pasokan urea global biasanya melewati Selat Hormuz, yang kini terdampak blokade oleh Iran dan Amerika Serikat. Kondisi ini mengganggu distribusi pupuk dunia dan meningkatkan risiko keterlambatan pasokan untuk musim tanam.

“Ada masalah signifikan terkait ketersediaan pupuk dan juga ada tenggat waktu untuk pertanian dalam hal memastikan ketersediaan yang cukup untuk panen berikutnya, yang saat ini terlewatkan,” katanya.

PBB sebelumnya menyatakan tengah melakukan upaya diplomatik untuk membuka jalur aman bagi pengiriman pupuk melalui Selat Hormuz.

Penurunan Panen

ITC mencatat ketergantungan terhadap pupuk nitrogen dari kawasan Teluk paling tinggi terjadi di sejumlah negara berkembang di Asia dan Afrika, seperti Kenya, Uganda, Afrika Selatan, Thailand, dan Sri Lanka.

Kekurangan pupuk, menurut ITC, umumnya berdampak pada penurunan penggunaan dan hasil panen, bukan perubahan waktu tanam. Dampak ini lebih terasa di wilayah seperti Afrika sub-Sahara dan Asia Selatan, yang sangat bergantung pada curah hujan dan memiliki jendela tanam yang lebih sempit.

Sebagai alternatif, ITC menilai negara-negara di Afrika Utara berpotensi mengisi kekosongan pasokan. Mesir memiliki potensi ekspor pupuk yang belum dimanfaatkan hingga 1,6 miliar dollar AS, sementara Aljazair sekitar 1,3 miliar dollar AS.

Di sisi lain, negara-negara seperti Nigeria, Kazakhstan, Brasil, Angola, dan Libya diperkirakan mendapat manfaat dari kenaikan harga minyak. Namun, keuntungan tersebut dinilai terbatas karena sebagian besar negara tersebut masih bergantung pada impor produk energi olahan.

ITC juga menyebut kenaikan harga gas alam berpotensi menguntungkan negara seperti Aljazair, Malaysia, Turkmenistan, dan Azerbaijan. Meski demikian, peningkatan pasokan diperkirakan tidak akan signifikan dalam jangka pendek.

Dengan kondisi ini, kelangkaan pupuk dinilai menjadi ancaman serius bagi ketahanan pangan global, terutama bagi negara berkembang yang sangat bergantung pada pasokan impor dan stabilitas harga komoditas.

  • Ketahanan pangan

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.