• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Studi IHDC: Stunting dan A...

Studi IHDC: Stunting dan Anemia Berisiko 3 Kali Lipat Alami Gangguan Daya Ingat Pada Anak

Rabu, 15 Apr 2026, 16:20 WIB

JAKARTA - Masalah stunting masih menjadi tantangan serius di Indonesia karena tidak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik anak. Kondisi ini juga berpotensi mengganggu perkembangan kognitif, termasuk kemampuan belajar dan kesiapan akademik sejak usia dini.

Selain stunting, anemia defisiensi besi juga masih banyak ditemukan pada anak usia sekolah. Kondisi ini berisiko memengaruhi fungsi otak, khususnya working memory yang berperan penting dalam menyimpan dan mengolah informasi.

Ket. Foto: Masalah stunting masih menjadi tantangan serius di Indonesia karena tidak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik anak. Kondisi ini juga berpotensi mengganggu perkembangan kognitif, termasuk kemampuan belajar dan kesiapan akademik sejak usia dini. — Sumber: Istimewa

Indonesia Health Development Center (IHDC) bersama dukungan Danone Indonesia merilis studi terbaru berbasis data lokal terkait isu tersebut. Penelitian ini melibatkan sekitar 335 siswa sekolah dasar di Jakarta untuk menganalisis hubungan antara status gizi dan kemampuan kognitif anak.

Ketua Dewan Pembina IHDC, Prof. Nila Djuwita F. Moeloek, menegaskan bahwa kualitas sumber daya manusia sangat ditentukan sejak usia dini. Ia menyebut faktor gizi dan perkembangan kognitif menjadi fondasi penting dalam menyongsong bonus demografi Indonesia.

"Status gizi, tumbuh kembang, dan kemampuan kognitif anak menjadi fondasi utama dalam membentuk generasi yang unggul," ujar Prof. Nila Djuwita F. Moeloek.

Ia menambahkan bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan besar seperti stunting, kekurangan gizi, dan anemia yang berdampak pada kemampuan belajar anak. Kondisi tersebut dinilai dapat menurunkan fungsi working memory yang penting dalam proses pendidikan.

Hasil studi IHDC menunjukkan sekitar 19,7 persen anak mengalami anemia, sementara 22,1 persen mengalami gangguan working memory. Temuan ini juga mengungkap bahwa kadar hemoglobin yang rendah berkaitan dengan kemampuan kognitif yang lebih rendah.

Executive Director IHDC, dr. Ray Wagiu Basrowi, menjelaskan adanya hubungan kuat antara status gizi dengan fungsi otak anak. Ia menyebut anak dengan anemia memiliki risiko hampir dua kali lipat mengalami gangguan dalam memproses informasi.

"Anak dengan anemia memiliki risiko hampir dua kali lebih tinggi mengalami kesulitan dalam memproses dan menyimpan informasi," ujar dr. Ray Wagiu Basrowi.

Ia juga menambahkan bahwa anak dengan stunting memiliki risiko hingga tiga kali lebih tinggi mengalami defisit working memory. Selain itu, asupan protein dan zat besi yang belum optimal menjadi faktor yang turut memperparah kondisi tersebut.

Dari sisi nutrisi, anak dengan anemia diketahui hanya memenuhi sekitar 46 persen kebutuhan protein harian yang direkomendasikan. Hal ini menunjukkan pentingnya pemenuhan gizi seimbang dalam mendukung fungsi kognitif dan kesehatan secara keseluruhan.

President Indonesian Nutrition Association, dr. Luciana B. Sutanto, menekankan pentingnya asupan gizi yang lengkap bagi anak. Ia menyebut protein dan zat besi memiliki peran penting dalam mendukung perkembangan otak, konsentrasi, dan daya ingat.

"Protein dan zat besi menjadi dua zat gizi penting karena berperan dalam pembentukan jaringan tubuh serta mendukung perkembangan otak," ujar dr. Luciana B. Sutanto.

Peran keluarga dan sekolah juga dinilai krusial dalam membentuk kebiasaan makan sehat sejak dini. Banyak orang tua yang belum menyadari bahwa kesulitan fokus atau mudah lupa pada anak bisa berkaitan dengan pola makan sehari-hari.

Selebritas sekaligus ibu, Putri Titian, mengaku lebih memahami pentingnya gizi setelah mengetahui hasil studi tersebut. Ia menilai kesadaran orang tua perlu ditingkatkan agar anak dapat tumbuh optimal.

"Sebagai ibu, tentu ada kekhawatiran saat melihat anak sulit fokus atau mudah lupa saat belajar," ujar Putri Titian.

Melalui temuan ini, IHDC menegaskan pentingnya pendekatan komprehensif dalam pemenuhan gizi anak. Upaya tersebut diharapkan dapat mendorong perbaikan kualitas generasi masa depan menuju Indonesia Emas 2045.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.