RI Bidik Minyak Rusia—Pertamina Siap Eksekusi Arahan Pemerintah

Selasa, 14 Apr 2026, 18:25 WIB

JAKARTA – Rencana Indonesia untuk membeli minyak dari Rusia mencerminkan upaya diversifikasi sumber energi di tengah ketidakpastian geopolitik dan fluktuasi harga global.

Langkah ini dinilai strategis untuk menjaga stabilitas pasokan domestik sekaligus membuka peluang memperoleh harga yang lebih kompetitif, terutama ketika pasar energi global tengah tertekan oleh konflik dan disrupsi distribusi.

Ket. Foto: Presiden RI Prabowo Subianto (kiri) dan Presiden Rusia Vladimir Putin ketika berada Istana Kremlin, Moskow, Rusia, Senin (13/4/2026). — Sumber: ANTARA/HO-Bakom RI

Namun secara analitis, kebijakan ini juga membawa konsekuensi kompleks, terutama dalam aspek diplomasi dan risiko sanksi sekunder dari negara-negara Barat.

Selain itu, penyesuaian teknis seperti spesifikasi kilang dan skema pembayaran menjadi faktor krusial yang menentukan kelayakan implementasi.

Dengan demikian, keputusan ini tidak hanya bersifat ekonomis, tetapi juga mencerminkan keseimbangan antara kepentingan energi nasional dan dinamika politik global.

Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron menyampaikan PT Pertamina (Persero) akan menindaklanjuti sesuai arahan dan regulasi yang ditetapkan oleh pemerintah terkait rencana Indonesia membeli minyak dari Rusia.

“Saat ini, penjajakan masih di level pemerintah. Sebagai BUMN yang mengelola energi nasional, Pertamina akan menindaklanjuti sesuai arahan dan regulasi yang ditetapkan,” ujar Baron saat dihubungi dari Jakarta, Selasa (14/4).

Lebih lanjut, Baron menyampaikan bahwa pada dasarnya, Pertamina terbuka terhadap berbagai peluang kerja sama untuk memastikan ketahanan dan keberlanjutan pasokan energi nasional.

Dalam menyikapi peluang kerja sama tersebut, Baron mengatakan Pertamina tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian, kepatuhan, serta aspek komersial dan operasional.

Terkait dengan kecocokan spesifikasi minyak mentah atau crude dari Rusia untuk diolah di kilang milik Pertamina, Baron menyampaikan akan mempelajari lebih lanjut.

“Kami akan pelajari atas jenis crude (minyak mentah) tersebut. Dengan modernisasi kilang, ke depan diharapkan kilang Pertamina memiliki fleksibilitas untuk mengolah beberapa jenis crude,” ucap Baron.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan pertemuan antara Presiden RI Prabowo Subianto dengan Presiden Rusia Vladimir Putin membahas kerja sama energi secara konkret dan berorientasi pada kepentingan nasional.

Berdasarkan keterangan resminya yang dikonfirmasi ANTARA dari Jakarta, Selasa, kerja sama tersebut mencakup pengembangan kilang minyak, penguatan perdagangan minyak, serta peningkatan pemanfaatan teknologi energi.

“Dalam jangka panjang, Indonesia turut membuka peluang kolaborasi di sektor energi bersih. Sebagai upaya yang diarahkan untuk mendukung diversifikasi energi,” ujar Bahlil.

Gejolak pasar energi global yang masih mengalami tekanan turut memberi dampak pada stabilitas pasokan energi di banyak negara, termasuk Indonesia.

Untuk menjaga ketahanan pasokan energi nasional, pemerintah terus mencari langkah-langkah strategis, salah satunya melalui penjajakan kerja sama dengan Rusia sebagai salah satu negara produsen energi dunia.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.