• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • El Nino Godzilla Mengancam...

El Nino Godzilla Mengancam, Ini Tips dari Dokter Agar Anak Tak Gampang Sakit.

Selasa, 14 Apr 2026, 17:35 WIB

JAKARTA - Ancaman fenomena iklim El Nino "Godzilla" yang diprediksi membawa musim kemarau lebih panjang dan kering pada tahun 2026 mulai memicu kekhawatiran terhadap kesehatan anak-anak.

Dokter spesialis anak, dr. Lucky Yogasatria Sp.A, menekankan bahwa pemenuhan mikronutrisi spesifik seperti vitamin C, vitamin D, dan zinc menjadi fondasi utama untuk membentengi sistem imun anak dari serangan virus penyebab batuk pilek di tengah cuaca ekstrem.

Ket. Foto: Dokter spesialis anak dan konselor laktasi lulusan Universitas Sebelas Maret (UNS) dr. Lucky Yogasatria Sp.A (kanan) dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (14/4). — Sumber: ANTARA/Hreeloita Dharma Shanti

"Sebenarnya yang utama itu anak istirahat yang cukup dan mendapatkan nutrisi seperti vitamin D, vitamin C, Zink dan itu adalah mikronutrisi yang penting untuk pertahanan tubuh,” kata Lucky saat ditemui ANTARA di Jakarta, Selasa.

Lucky menyebut salah satu penyakit yang sering ditemukan ketika cuaca sedang ekstrem adalah batuk pilek, yang mudah menular di kalangan anak-anak. Sehingga pemenuhan gizi anak menjadi hal yang sangat penting guna meningkatkan imunitas tubuhnya.

Dalam memenuhi gizi anak, orang tua dapat memastikan anak mendapatkan cairan yang cukup seperti mengonsumsi air putih atau susu dengan batas maksimal 500 mili liter per hari.

Orang tua juga diminta untuk memenuhi kebutuhan mikronutrisi berupa vitamin C, vitamin D dan Zinc yang bisa didapat melalui konsumsi buah dan sayur, serta protein hewani seperti daging ayam, daging sapi dan hati ayam.

"Batuk pilek itu paling sering disebabkan oleh virus seperti adenovirus, itu enggak ada obatnya sebenarnya tapi virus akan mati oleh imunitas (yang baik)," ujar dia.

Selain itu, pastikan lingkungan sekitar tetap bersih dan anak mendapatkan istirahat yang cukup.

Sebelumnya, nama "Godzilla" dipopulerkan oleh seorang ilmuwan NASA bernama Bill Patzert pada tahun 2015 untuk menggambarkan El Nino yang sangat kuat dan berdampak luas.

Sedangkan di Indonesia, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebut penggunaan istilah itu untuk menggambarkan potensi variasi El Nino yang kuat, sehingga muncul prediksi musim kemarau yang lebih panjang dan kering.

Indonesia dapat mengalami keadaan minim awan dan hujan. Namun, dampaknya bisa saja tidak seragam terjadi di seluruh wilayah Indonesia.

Oleh karenanya, BRIN mengajak kementerian/lembaga yang terkait untuk dapat memitigasi dengan mempertimbangkan dampak kekeringan di bagian selatan Indonesia dan dampak banjir di timur laut Indonesia (Sulawesi, Halmahera, Maluku).

Sementara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut kondisi iklim tahun 2026 berpotensi lebih kering dibandingkan normal. Terdapat indikasi musim kemarau akan datang lebih awal dan berlangsung lebih panjang.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani pada Selasa (7/4) menyampaikan kondisi ENSO masih berada pada fase netral, namun pada semester kedua 2026 diprediksi berkembang menuju El Nino lemah hingga moderat dengan peluang sekitar 50–80 persen.

“Perlu dipahami bahwa kemarau dan El Nino adalah dua fenomena berbeda. Kemarau merupakan siklus klimatologis, namun jika terjadi bersamaan dengan El Nino, curah hujan akan jauh berkurang dan kondisi menjadi lebih kering,” katanya.

  • cuaca ekstrem
  • imunitas anak
  • kesehatan anak
  • el nino godzilla
  • batuk pilek anak

Redaktur: alfred

Penulis: Alfred, Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.