Perlu Langkah Lebih Agresif Jaga Pertumbuhan Ekonomi

Senin, 13 Apr 2026, 01:10 WIB

Jakarta – Pemangkasan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,7 persen oleh Bank Dunia perlu dijadikan momentum bagi pemerintah untuk segera memperkuat mesin pertumbuhan ekonomi melalui langkah yang lebih terarah dan konkret.

Guru Besar Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, menilai pemangkasan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh Bank Dunia dari 4,8 persen menjadi 4,7 persen sebagai sinyal peringatan untuk memperkuat mesin pertumbuhan nasional.

Ket. Foto: Rahma Gafmi Guru Besar Universitas Airlangga - Pemangkasan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh Bank Dunia menjadi 4,7 persen merupakan sinyal ‘kuning’ yang cukup serius, namun perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas. — Sumber: antara

“Pemangkasan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh Bank Dunia menjadi 4,7 persen merupakan sinyal ‘kuning’ yang cukup serius, namun perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas. Prediksi ini memang mencerminkan beberapa realitas pahit yang sedang dihadapi ekonomi domestik saat ini. Terutama dengan adanya eskalasi geopolitik Iran-Israel Amerika,” kata Rahma di Jakarta, Minggu (12/4).

Ia menjelaskan perlambatan konsumsi rumah tangga menjadi faktor utama, terutama karena melemahnya daya beli kelas menengah. Hal ini tercermin dari penjualan ritel dan kendaraan yang stagnan di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok yang tidak diimbangi peningkatan upah riil.

Selain itu, kebijakan suku bunga tinggi untuk menjaga stabilitas nilai tukar turut menekan aktivitas ekonomi karena meningkatkan biaya pinjaman bagi pelaku usaha dan masyarakat.

“Angka (pertumbuhan ekonomi) 4,7 persen lebih mendekati realitas psikologis dan lapangan saat ini dibandingkan target optimis 5 persen ke atas. Meskipun secara makro angka inflasi terlihat terkendali, secara mikro banyak sektor usaha terutama manufaktur dan tekstil yang sedang mengalami kesulitan,” jelasnya.

Rahma menambahkan faktor eksternal seperti perlambatan ekonomi global dan melemahnya permintaan dari mitra dagang utama, termasuk Tiongkok, juga berdampak pada kinerja ekspor.

“Pemangkasan ini adalah ‘peringatan’ bagi pemerintah bahwa mesin pertumbuhan konvensional mulai kehabisan bensin, dan diperlukan stimulus baru atau penguatan daya beli masyarakat bawah dan menengah untuk kembali ke jalur 5 persen.”

“Jadi, jika Anda merasa dompet lebih tipis atau bisnis lebih sepi meski berita-berita bilang ekonomi 'aman', proyeksi Bank Dunia ini memvalidasi perasaan tersebut,” tambahnya.

Meski demikian, ia menilai pertumbuhan di atas 5 persen masih dapat dikejar melalui penguatan sektor strategis, seperti industri pengolahan melalui hilirisasi, sektor pertanian sebagai motor baru, serta peningkatan konsumsi rumah tangga.

Selain itu, investasi asing langsung dinilai penting untuk menciptakan lapangan kerja, didukung percepatan belanja pemerintah melalui proyek infrastruktur padat karya.

Rahma juga menyoroti peluang sektor energi hijau dan ekonomi digital sebagai sumber pertumbuhan baru, termasuk program biodiesel.

“Proyek seperti Biodiesel B50 yang dijadwalkan mulai Juli 2026 diproyeksikan bisa menghemat anggaran hingga Rp48 triliun, jadi harus ada skala prioritas. Mendorong investasi di bidang teknologi dan ekonomi digital yang memiliki potensi pertumbuhan eksponensial,” tutupnya.

  • Strategi Pertumbuhan

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.