Tragedi Longsor TPST Bantargebang Telan Korban Jiwa, Malapetaka Sampah Menanti
Sabtu, 11 Apr 2026, 10:25 WIBOleh Bagong Suyoto, Ketua Koalisi Persampahan Nasional (KPNas)
Tragedi gunung sampah longsor sudah menjadi langganan dan dianggap lumrah. Situasi ini sungguh ironis, boleh jadi karena kondisi terdesak dan opsi lain sulit dijalankan. Gunung-gunung sampah longsor mengindikasikan kondisi riil kedaruratan dan kegagalan.
Saya sudah memperingatkan akan terjadi Malapetaka Sampah sejak tahun 2003/2004-an. Hal ini berdasar hasil advokasi, riset dan sejumlah tulisan dan presentasi di sejumlah forum resmi. Saya mengungkapkan potensi besar Malapetaka Sampah akan terjadi akibat semakin buruknya pengelolaan sampah di Indonesia.
Kasus gunung sampah terbakar dan longsor terjadi di sejumlah tempat di republik ini. Salah satu yang jadi catatan sejarah adalah berulangnya kejadian longsor gunung sampah di TPST Bantargebang. Kita masih ingat, Tragedi Jumat nahas pada 2005, zona III TPST Bantargebang longsor memakan 3 korban nyawa. Zona III TPST beberapa kali longsor skala kecil dan tak terekspos media massa.
Hal ini juga terjadi di daerah lain, TPA Sumurbatu milik Kota Bekasi beberapa kali longsor, misal tahun 2016 memakan korban suami istri. Belakangan pada 10 Oktober 2025 TPA tersebut longsor menutup jalan operasional zona III dan IV. Pun TPA Burangkeng longsor berulangkali, TPA Cipeucang Tangsel longsor tumpah ke Kali Cisadane, dll. Tragedi gunung-gunung sampah longsor itu indikasi nyata Malapetaka Sampah.
Beberapa Kali Longsor
Pada 31 Desember 2025 sekitar pukul 14.45 WIB zona IV gunung sampah TPST Bantargebang longsor menimbun 3 truk sampah ke dalam kali. Sebulan sebelumnya pada 7 November 2025 zona II TPST longsor menghempaskan 3 truk sampah.
Longsor gunung sampah terbaru terjadi di zona IV TPST pada Minggu, 8 Maret 2026. Posisinya sama di sebelah selatannya.Gunung sampah longsor itu menelan 8 korban, 4 di antaranya meninggal dunia. Korban-korban dan 8 truk terhempas ke dalam Kali Ciketing sedalam 4-5 meter.
Kronologi kejadian dilaporkan Posko SAR. Pada pukul 14.30 WIB terjadi longsor di TPST dan bertepatan dengan truk sampah yang sedang mengantri untuk membuang sampah. Untuk sementara dugaan korban berjumlah 10 orang; 5 orang sopir dan 5 pemulung dan pemilik warung di pinggir zona.
Ketika ada informasi gunung sampah TPST longsor pada pukul 14.43 WIB, saya langsung menuju TKP. Seorang pemulung mengatakan, sampah longsor dimulai pukul 14.00 WIB. Ratusan orang, aparat, jurnalis, dll berdatangan. Saya memantau hingga pukul 17.30 WIB.
Kemudian saya kembali ke tempat itu pada malam hari. Saya mendampingi staf Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) RI memantau evakuasi korban dari pukul 23.30 sampai 03.10 WIB dini hari. Evakuasi dimulai pada pukul 12.00 WIB, sebab para operator, security dan jajaran TPST istirahat dan makan untuk memulihkan stamina.
Pada pukul 03.15 WIB kami meninggalkan TKP untuk makan saur, masih ada dua atau tiga truk yang terurug sampah sudah tampak bodinya. Evakuasi masih berlangsung. Sebanyak 13 alat berat dikerahkan untuk mengangkat sampah dari kali agar korban ditemukan secepatnya.
Longsoran sampah itu menguruk kali sepanjang hampir 100 meteran, sehingga airnya menggenangi jalan dan pabrik biji plastik di sebelahnya. Sejumlah pohon tumbang dan turap kali hancur tertekan sampah.
Orangtua, saudara dan teman-teman korban kelihatan sedih, dan sebagian meneteskan air mata menunggu evakuasi. Karena mulai sore (Minggu, 8/3/2026) hingga pagi dini hari (Senin, 9/3/2026) jasat sopir truk sampah belum ditemukan. Seperti nasib sopir truk sampah dari Kembangan Jakarta Barat, salah satu korban tragedi tersebut. Orang tuanya (lelaki) mukanya tampak pucat, sedih, lemas dan hanya diam menunggu di pinggir zona longsor itu.
Karena 6 orang korban sudah ditemukan, 2 perempuan dan 4 lelaki sopir truk sampah.Sedang 2 orang yang belum diketemukan itu juga sopir truk sampah, termasuk sopir dari Kembangan Jakbar itu.
Luas TPST Bantargebang sekitar 120 hektar, dioperasikan sejak 1989. TPST milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, berada di wilayah administrasi Kota Bekasi. Lahan TPST meliputi wilayah Kelurahan Sumurbatu (paling luas), Ciketingudik dan Cikiwul Kecamatan Bantargebang. Sampah Jakarta yang dibuang ke TPST Bantargebang sekitar 7.500-7.800 ton per hari.
Mengapa gunung sampah di Bantargebang berulangkali longsor? Mungkin karena musim hujan. Sebelum terjadi longsor semalam turun hujan cukup lama. Mungkin, tumpukan sampah di zona IV itu sudah tinggi dan labil akibat penataan kurang baik. Mungkin juga, ada faktor lain semacam âpenyakit kronisâ sistemik yang perlu didalami.
Gunung-gunung sampah di TPST Bantargebang mencapai ketinggian 40-50 meter. Tentu, rawan longsor, apalagi dikelola secara open dumping. Jangan selalu menyalahkan hujan! Lalu, bagaimana dengan beberapa teknologi pengolahan sampah yang ada? Berapa besar kemampuanteknologi-teknologi tersebut mengolah dan mereduksi sampah di TPST?
Betapa sulitnya mengurus gunung-gunung sampah di TPST Bantargebang? Wilayah Jakarta yang penting bersih dengan kemampuan memindahkan kotorannya ke Bekasi. Sampai saat ini belum ada teknologi yang mampu menaklukannya? Mungkin gunung-gunung sampah di Bantargebang paling menakutkan di dunia? Potensi Malapetaka Sampah sangat besar bak magma gunung berapi.
Bencana Ekologis
Mengapa TPST/TPA sampah longsor? Sebab dikelola secara open dumping. Sampah hanya ditumpuk dan ditumpuk saja menjadi gunung-gunung sampah. TPST/TPA menjadi andalan utama. Ketergantungan itu akan menimbulkan persoalan baru lebih kompleks dan rumit. Merupakan kegagalan kronis sistemik pengelolaan sampah?
TPST Bantargebang belakangan memiliki belasan permasalahan. Salah satu yang sangat riskan adalah bertambahnya gunung-gunung sampah. Gunung-gunung sampah itu berisi berbagai jenis sampah dan ketika musim hujan rawan longsor. Sampah tersebut sulit diolah.
Kedua, persoalan air lindi (leachate) semakin massif sementara IPAS TPST hanya satu yang berfungsi atau tidak beroperasi sama sekali. Pasti akan menimbulkan pencemaran air tanah dan permukaan semakin massif. Tentu mengancam kesehatan warga sekitar. Sepanjang tahun 2025 situasi buruk ini berlangsung tanpa solusi komprehensif dan riil.
Paparan pencemaran lingkungan pada air tanah. (1) Pencemaran air tanah dapat terpajan ke manusia melalui konsumsi air tanah baik diminum maupun dimasak, yang masih banyak dijumpai berdasar data Puskesmas. (2) Pencemaran air permukaan, dapat terpajan ke manusia melalui infiltrasi air sungai ke tanah dan melalui penyerapan oleh tanaman pertanian maupun tambak. (3) Pajanan paling krusial dari data air permukaan adalah Logam Berat Krom Heksavalen (Cr6+) yang dapat dikategorikan âinvisible pollutionâ tidak memiliki warna, tidak berbau, tidak berasa, tetapi beracun berpotensi kanker.
Laporan Tim Monev TPST Bantargebang dan TPA Sumurbatu (Pusat Penelitian Sumber Daya dan Lingkungan UI & Dinas LH Kota Bekasi, 2025) menyebutkan, kondisi kualitas dan dampak lingkungan hidup kualitas air permukaan. Hasil pengukuran kualitas air permukaan untuk 52 parameter pada 9 lokasi di dua periode menunjukkan, bahwa sebagian besar lokasi berada dalam kondisi Cemar Berat menurut Perhitungan Indeks Pencemaran sesuai KepmenLH No 115 tahun2003 tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air.
Parameter-parameter seperti TDS, TSS, Sampah, Amonia, DO, COD, BOD, Nitrit, Klorida, Zn terlarut, Deterjen Total, H2S, Minyak Lemak, Nitrogen Total, Total Fosfat, Total Coliform, Fecal Coliform dan Krom Heksavalen (Cr6+) secara konsisten melampaui baku mutu. Hasil pengukuran kualitas air permukaan untuk 52 parameter pada 9 lokasi di dua periode menunjukkan bahwa sebagian besar lokasi berada dalam kondisi Cemar Berat menurut Perhitungan Indeks Pencemaran sesuai KepmenLH No 115/2003 tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air.
Kondisi buruk ini memperberat pencemaran Kali Asem, yang airnya mengalir ke Pedurenan, Perumahan Regency, Dukuh Zamrut, Perumahan Niagara, Mutiara Gading, crossing tol Jatimulya, kali Bekasi, Kali CBL hingga pesisir Muaragembong dan laut Jawa. Pencemaran air ini sudah berlangsung belasan tahun tanpa solusi memadai. Merupakan satu faktor penyebar berbagai penyakit terhadap manusia dan melenyapkan biota air.
Bencana Kemanusiaan
Tragedi gunung sampah longsor itu menelan korban nyawa manusia. Berapa besar harga satu jiwa manusia? Sungguh tidak ternilai harganya. Jika yang mati jadi korban ratusan manusia, seperti kasus TPA Leuwigajah Cimahi, sungguh sangat mengenaskan? Pun korban mati tertimbun sampah merupakan tragedi kemanusian yang menyayat hati.
Ketika gunung sampah longsor yang paling terdampak adalah para pekerja di lapangan, seperti pemulung, operator, sopir, pengawas, pedagang kecil. Terutama pemulung dan pedagang kecil itu hanya mencari sesuap nasi untuk bisa makan sehari. Jika besok tidak bekerja belum tentu bisa makan, kecuali cari pinjaman.
Situasi pengelolaan sampah sekarang sangat miris. Semua sampah dibuang ke TPST. Padahal, sampah makanan, sampah organik, sampah hotel, restouran, apartemen, gedung perkantoran, mall harus dikelola secara mandiri di dalam kota. Sampah itu tidak boleh dibuang ke TPST, kecuali residunya.
Terus terang kita tidak boleh menyepelekan masalah sampah. Selayaknya pengelolaan sampah harus diprioritaskan dalam pembangunan tingkat nasional maupun daerah. Kita tidak bisa lagi memandang sampah dengan sebelah mata.
Ketika timbulan sampah sudah mencapai ribuan ton, konsekuensinya harus ditangani secara serius, berkelanjutan dan profesional. Pengelolaan sampah harus melaksanakan mandat UU No. 18/2008 tentang Pengelolaan Sampah, PP No. 81/2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga, Perda DKI Jakarta tentang Pengelolaan Sampah, dan peraturan terkait.
Pengelolaan sampah harus dilakukan dari sumber sesuai hierarkhinya. Aktivitas itu melibatkan multi-stakholders secara kolaboratif dengan dukungan multi-teknologi ramah lingkungan. Jika semua bergerak, hasilnya tidak akan muncul gunung-gunung sampah.
Dengan kasus gunung sampah longsor di TPST Bantargebang hendaknya jadi pelajaran berharga. Berhati-hatilah mengelola gunung-gunung sampah, potensi Malapetaka Sampah menanti.
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: Koran Jakarta
Berita Terkait:
-
Kemacetan Kendaraan di Puncak Bogor
-
Akhiri TPA Open Dumping, Tuntaskan Kedaruratan Sampah
-
Mudik Gratis Kejagung 2026: 15 Bus Meluncur ke Jalur Favorit Jawa dan Lampung
-
Mulai dari Rumah! Warga Jakarta Wajib Pilah Sampah
-
Biaya Angkut Melonjak, Pengiriman Beras Vietnam ke Pasar Global Terhambat
-
Pembatasan Kuota di TPST Menjadi Penyebab Penumpukan Sampah
-
Alat Berat akan Dikerahkan untuk Membersihkan Sampah di Muara Angke
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.