Kabupaten Lumajang Terapkan Strategi Pertanian Berbasis Efisiensi Air Hadapi Musim Kemarau
Rabu, 08 Apr 2026, 13:28 WIBLUMAJANG - Wakil Bupati (Wagub) Lumajang Yudha Adji Kusuma mengatakan pertanian berbasis efisiensi air menjadi strategi Kabupaten Lumajang untuk menghadapi kemarau tahun 2026.
"Pertanian harus bergerak menuju sistem yang adaptif dan efisien, mulai dari penyesuaian pola tanam, pemilihan varietas tahan kekeringan, hingga optimalisasi penggunaan air," kata Yudha dalam keterangannya di Lumajang, Rabu (8/4).
Menurut diaperlindungan sektor pertanian dan penguatan tata kelola lingkungan menjadi pilar utama dalam strategi adaptasi menghadapi potensi musim kemarau tahun 2026, sehingga langkah itu dinilai krusial untuk menjaga stabilitas pangan sekaligus memastikan keberlanjutan ekosistem di tengah tekanan perubahan iklim.
"Sektor pertanian tidak hanya berperan sebagai penyokong ekonomi masyarakat, tetapi juga menjadi garda terdepan dalam menjaga ketahanan pangan daerah. Oleh karena itu, pendekatan adaptasi tidak lagi bersifat konvensional, melainkan harus berbasis risiko, data iklim, dan inovasi," tuturnya.
Mengacu pada prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) periode kemarau diperkirakan berlangsung pada pertengahan hingga akhir tahun 2026, dengan potensi peningkatan intensitas kekeringan di sejumlah wilayah.
"Kondisi itu menjadi dasar bagi Pemerintah Kabupaten Lumajang untuk memperkuat strategi mitigasi yang lebih terarah dan terukur," katanya.
Upaya yang dilakukan tidak hanya terbatas pada optimalisasi jaringan irigasi, tetapi juga mencakup modernisasi sistem pertanian melalui pemanfaatan teknologi, seperti irigasi hemat air dan pengelolaan lahan berbasis efisiensi. Dengan pendekatan ini, produktivitas pertanian diharapkan tetap terjaga meskipun menghadapi keterbatasan sumber daya air.
Di sisi lain, pengelolaan lingkungan diperkuat sebagai bagian integral dari strategi adaptasi. Pemerintah daerah meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi degradasi lahan, kebakaran hutan, serta penurunan kualitas ekosistem yang dapat memperburuk dampak kemarau.
"Pendekatan ini dilakukan melalui koordinasi lintas sektor serta penguatan peran masyarakat dalam menjaga lingkungan secara berkelanjutan," katanya.
Yudha mengatakan keseimbangan antara kebutuhan pembangunan dan kelestarian lingkungan menjadi kunci dalam menjaga daya dukung wilayah. Tanpa pengelolaan lingkungan yang baik, tekanan terhadap sumber daya alam justru akan memperbesar risiko yang dihadapi masyarakat.
"Adaptasi bukan hanya soal bertahan, tetapi bagaimana kita memastikan lingkungan tetap terjaga dan masyarakat tetap sejahtera dalam jangka panjang," ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya membangun kesadaran kolektif bahwa pengelolaan sumber daya alam merupakan tanggung jawab bersama. Partisipasi aktif masyarakat menjadi faktor penentu dalam memperkuat efektivitas kebijakan di tingkat lapangan.
"Dengan strategi yang terintegrasi antara sektor pertanian dan lingkungan, Pemerintah Kabupaten Lumajang optimistis mampu membangun ketahanan daerah yang lebih tangguh," katanya.
Menurutnya kebijakan itu tidak hanya responsif terhadap ancaman kemarau, tetapi juga berorientasi pada keberlanjutan, sehingga mampu menjaga produktivitas masyarakat sekaligus melindungi warisan lingkungan bagi generasi mendatang.
- Musim Kemarau
- Kabupaten Lumajang
- Pertanian Berbasis Efisiensi Air
- Hadapi Kemarau
Redaktur: Sriyono
Penulis: Sriyono
Berita Terkait:
-
Bulu Tangkis Bisa Apa di Kejuaraan Asia dan Thomas Cup
-
Mahakarya Goa Kreo dan Sesaji Rewanda 2026, Perpaduan Seni Modern dan Ritual Sakral di Semarang
-
Harga Emas di Pegadaian Rabu Pagi: UBS Rp2,958 Juta/Gr dan Galeri24 Rp2,943 Juta/Gr
-
Korps Lalu Lintas Polri Berlakukan One Way Nasional KM 70–KM 414 Mulai Rabu Siang
-
Menjemput Rindu di Jalur Ssunyi Lintas Timur Sumatera
-
Super Mario Galaxy Movie: Bowser Jr. Jadi Villain Utama, Tapi ke Mana Para Koopalings?
-
Hadapi El Nino, Pemerintah Perkuat Cadangan Pangan Pusat dan Daerah
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.