Platform Investasi Baru Disiapkan, Danantara Serius Garap Energi dari Sampah

Selasa, 07 Apr 2026, 18:20 WIB

BANYUMAS – Investasi energi berbasis sampah (waste-to-energy) semakin relevan sebagai solusi atas dua tekanan sekaligus: krisis pengelolaan limbah dan kebutuhan energi yang terus meningkat.

Dengan mengonversi sampah menjadi listrik atau bahan bakar alternatif, proyek ini menawarkan nilai tambah ekonomi dari sesuatu yang sebelumnya dianggap beban lingkungan.

Ket. Foto: Ilustrasi - Instalasi Pengolah Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Benowo, Kota Surabaya, Jawa Timur. — Sumber: ANTARA/ HO-Humas Pemkot Surabaya.

Namun, dari sisi investasi, proyek waste-to-energy memiliki karakteristik padat modal dengan periode pengembalian yang relatif panjang.

Kepastian regulasi, skema tarif listrik yang menarik, serta jaminan pasokan sampah menjadi faktor kunci yang menentukan kelayakan proyek. Tanpa dukungan kebijakan yang konsisten, minat investor cenderung terbatas karena tingginya risiko operasional dan finansial.

Di sisi lain, jika dirancang dengan baik, investasi ini dapat menciptakan ekosistem baru yang melibatkan pemerintah daerah, swasta, dan masyarakat dalam pengelolaan sampah terpadu.

Dengan demikian, waste-to-energy tidak hanya menjadi proyek energi, tetapi juga instrumen transformasi menuju ekonomi sirkular dan pembangunan berkelanjutan.

Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) menyiapkan platform investasi untuk pengembangan energi berbasis sampah (waste-to-energy/ WtE) guna mendukung ketahanan energi nasional sekaligus mengatasi persoalan pengelolaan sampah di Indonesia.

Saat menjadi pembicara kunci dalam ISEI Industry Matching dan diskusi kelompok terpumpun (focus group discussion/FGD) bertajuk "Proyek Waste-to-Energy terhadap Ketahanan Energi Nasional" di Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Selasa (7/4), Wakil Ketua Dewan Pengawas Danantara Muliaman Darmansyah Hadad mengatakan pengembangan WtE menjadi salah satu prioritas karena Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan sampah yang belum optimal dari hulu hingga hilir.

"Persoalan sampah di Indonesia tidak sederhana. Salah satu masalah utamanya adalah belum adanya pemilahan sejak dari rumah tangga, sehingga di hilir membutuhkan teknologi yang lebih kompleks," katanya dalam kegiatan yang diselenggarakan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) bekerja sama dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto serta Bank Indonesia itu.

Ia mengatakan masyarakat di negara maju telah terbiasa memilah sampah sejak dari sumber, sehingga proses pengolahan menjadi lebih efisien dan menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi.

Sebaliknya di Indonesia, sampah yang tercampur menyebabkan kualitas bahan baku energi menjadi rendah. Bahkan, sebagian material dengan nilai kalor tinggi telah diambil lebih dulu di tingkat pengumpul, sehingga menyisakan sampah dengan daya bakar rendah di tempat pemrosesan akhir (TPA).

"Kondisi ini membuat efisiensi pengolahan menjadi rendah dan biaya menjadi lebih tinggi karena perlu proses tambahan seperti pengeringan," katanya.

Selain aspek teknis, ia juga menyoroti faktor sosial dalam rantai pengelolaan sampah yang cukup kompleks karena melibatkan banyak pihak, mulai dari pemulung hingga pengelola TPA.

Oleh karena itu, edukasi masyarakat untuk memilah sampah sejak awal menjadi kunci penting dalam meningkatkan efektivitas program WtE.

Dalam upaya mendorong percepatan pengembangan WtE, Danantara menyiapkan platform investasi yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, sektor swasta, dan perguruan tinggi.

Melalui platform tersebut, Danantara akan berperan sebagai co-investor guna meningkatkan kepercayaan investor lain untuk berpartisipasi dalam proyek-proyek strategis, termasuk pengolahan sampah menjadi energi.

"Danantara hadir untuk memfasilitasi kolaborasi. Dengan adanya platform ini, kota-kota lain bisa ikut bergabung sehingga pengembangan proyek dapat lebih cepat," katanya.

Ia mengatakan proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) ditargetkan dapat dikembangkan di puluhan kota di Indonesia sebagai bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN).

Secara keseluruhan, proyek tersebut diperkirakan membutuhkan investasi hingga puluhan triliun rupiah dengan potensi kapasitas listrik ratusan megawatt, serta mampu memberikan dampak ekonomi yang luas.

Selain menghasilkan energi, proyek ini juga berpotensi menekan emisi karbon, mengurangi volume sampah di TPA, serta menciptakan lapangan kerja baru.

Namun demikian, ia mengakui biaya produksi energi dari WtE masih relatif lebih tinggi dibandingkan energi konvensional, sehingga diperlukan dukungan kebijakan, termasuk skema harga listrik dan pembiayaan yang menarik bagi investor.

"Ini perlu dukungan bersama, baik dari sisi kebijakan maupun kolaborasi antarpemangku kepentingan agar proyeknya bisa berjalan secara berkelanjutan," katanya.

Lebih lanjut, ia mengatakan Danantara sebagai sovereign wealth fund Indonesia memiliki peran dalam mengelola aset negara, khususnya dari badan usaha milik negara (BUMN), untuk diinvestasikan pada sektor-sektor strategis.

Pengelolaan aset yang lebih produktif tersebut diharapkan dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru, termasuk dalam mendukung transisi energi menuju bauran energi baru terbarukan (EBT) yang lebih besar.

"Tujuannya adalah menciptakan mesin pertumbuhan baru melalui investasi yang produktif, termasuk di sektor energi berbasis sampah," kata Muliaman.

Pengembangan WtE juga dinilai sejalan dengan target Indonesia untuk meningkatkan porsi EBT serta mencapai net zero emission pada 2060, sehingga membutuhkan dukungan investasi yang kuat dan berkelanjutan.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.