Enam dari 100 Bayi di Indonesia Berisiko “Stunting”

Senin, 06 Apr 2026, 03:17 WIB

BEKASI – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia menyatakan setidaknya 6 dari 100 bayi di Indonesia terlahir dengan kondisi berat badan lahir rendah, yang menjadi salah satu ciri-ciri risiko anak mengalami stunting karena indikasi berat badan di bawah rata-rata anak seusianya.

Melengkapi data Kemenkes pada 2025 tersebut, tren kesehatan Indonesia turut menunjukkan bahwa anak pada usia 0 hingga 24 bulan memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap kondisi stunting, dengan prevalensi tertinggi terjadi pada kelompok usia 12–23 bulan mencapai 19,9 persen.

Ket. Foto: Bantuan paket makanan gizi tambahan dan pemeriksaan kesehatan gratis untuk menekan stunting oleh PT ­Hankook Tire Indonesia di Desa Hegarmukti, Kecamatan Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi. — Sumber: Istimewa

Mendukung target pemerintah untuk menurunkan angka stunting nasional hingga 14,2 persen pada tahun 2029, Pemkab Bekasi menerima bantuan 17.500 paket makanan gizi tambahan untuk menekan stunting yang disalurkan kepada ibu hamil, calon ibu, dan anak-anak usia 0 hingga 3 tahun.

Bantuan paket berisi susu, telur, biskuit hingga kudapan berprotein itu berasal dari program Tanggung Jawab Sosial Lingkungan Perusahaan (TJSLP) produsen ban Korea Selatan, PT. Hankook Tire Indonesia yang beroperasi di Desa Hegarmukti, Kecamatan Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi.

“Bantuan ini sebagai bagian dari penguatan kolaborasi lintas sektor, khususnya antara pemerintah daerah dengan swasta,” kata Sekretaris Daerah Kabupaten Bekasi Endin Samsudin di Cikarang, kemarin.

Selain ibu hamil dan anak stunting di Desa Hegarmukti, bantuan juga menjangkau masyarakat yang tinggal di Desa Jayamukti, Cicau, Pasirranji, Pasir Tanjung dan Sukamahi. Seluruhnya berada di Kecamatan Cikarang Pusat.

Pihaknya menegaskan upaya penanganan penyakit tumbuh kembang anak atau stunting membutuhkan kolaborasi lintas sektor terkait, sehingga pemerintah daerah terus mendorong penguatan sinergi, termasuk dengan dunia usaha.

Presiden Direktur PT Hankook Tire Indonesia, Jung Jinkyun menyampaikan, sejalan dengan upaya pemerintah dalam menekan angka stunting secara nasional, diharapkan program ini dapat menjadi wujud nyata kontribusi dalam mendukung kesejahteraan masyarakat, khususnya dalam bidang kesehatan. Pemilihan Desa Hegarmukti dilakukan berdasarkan data yang menunjukkan bahwa wilayah ini memiliki persentase stunting yang relatif lebih tinggi dibandingkan desa lain di Kabupaten Bekasi. “Melalui program ini, kami tidak hanya menghadirkan penyuluhan sebagai sarana edukasi bagi calon ibu dan para ibu, tetapi juga melakukan pemberdayaan melalui sesi demo masak yang memperkenalkan cara memasak yang tepat untuk menghasilkan menu sehat dan bernutrisi sebagai solusi praktis untuk memperbaiki permasalahan gizi anak dan keluarga,” jelasnya.

Selain kegiatan edukasi dan pemberdayaan, rangkaian program PT Hankook juga disertai dengan pemeriksaan kesehatan gratis bagi anak-anak, termasuk pengukuran berat dan tinggi badan untuk mendukung pemantauan tumbuh kembang serta deteksi dini risiko stunting. Inisiatif ini sekaligus sejalan dengan agenda nasional Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dalam memperluas akses pemeriksaan kesehatan sebagai bagian dari upaya pencegahan masalah kesehatan pada usia dini dan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat secara nyata.

Tumbuh Kembang Anak

Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Wamen PPPA) Veronica Tan menekankan pentingnya memperkuat sinergi dan kolaborasi multi-pihak dalam mendukung tumbuh kembang anak usia dini secara optimal sebagai fondasi strategis pembangunan Indonesia.

“Saya mengajak seluruh pihak, mulai dari pemerintah, masyarakat, dunia usaha, hingga filantropi, untuk memperkuat kolaborasi dalam membangun ekosistem pengembangan anak,” katanya.

Ia mengatakan upaya peningkatan kualitas anak tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus terintegrasi lintas sektor, mulai dari pengasuhan, kesehatan, pendidikan, hingga perlindungan.

Menurut dia, masa awal kehidupan merupakan fase penting karena hingga 90 persen perkembangan otak anak terjadi sebelum usia lima tahun. ion/Ant/S-2

  • Stunting

Redaktur: Sriyono

Penulis: Antara, Sriyono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.