Mangrove Desa Sugian Jadi Perhatian, Warga Lombok Timur Diminta Ikut Menjaga

Minggu, 05 Apr 2026, 17:40 WIB

LOMBOK TIMUR – Menjaga tanaman mangrove itu sebenarnya nggak seribet yang dibayangkan, tapi dampaknya besar banget—baik untuk lingkungan maupun kehidupan di sekitarnya. Di kawasan pesisir, hutan mangrove sering jadi “penjaga alami” yang melindungi daratan dari abrasi, gelombang besar, sampai intrusi air laut.

Mangrove juga punya peran penting sebagai rumah bagi berbagai biota laut. Ikan, kepiting, hingga burung-burung pesisir banyak yang bergantung pada ekosistem ini untuk berkembang biak. Jadi, kalau mangrove rusak, rantai kehidupan di sekitarnya ikut terdampak.

Ket. Foto: Peresmian ekowisata mangrove di Desa Sugian di Lombok Timur, Minggu (5/4/2026). — Sumber: ANTARA/HO-Humas Pemkab Lombok Timur.

Menjaganya bisa dimulai dari hal-hal sederhana. Misalnya, tidak menebang sembarangan, ikut kegiatan penanaman mangrove, atau sekadar tidak membuang sampah di area pesisir.

Sekarang juga mulai banyak komunitas yang aktif mengajak masyarakat untuk lebih peduli, bahkan menjadikan penanaman mangrove sebagai bagian dari kegiatan wisata edukasi.

Yang menarik, kesadaran ini pelan-pelan tumbuh. Banyak orang mulai melihat mangrove bukan lagi sekadar “pohon di pinggir laut”, tapi sebagai investasi jangka panjang untuk lingkungan.

Selain melindungi garis pantai, mangrove juga membantu menyerap karbon, yang artinya ikut berkontribusi dalam menghadapi perubahan iklim.

Intinya, menjaga mangrove itu soal kebiasaan dan kepedulian. Nggak harus langsung besar, tapi kalau dilakukan bareng-bareng dan konsisten, dampaknya bisa terasa jauh ke depan.

Pemerintah Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mengingatkan warga untuk tetap menjaga tanaman pohon mangrove yang telah tumbuh di Desa Sugian Kecamatan Sambelia, guna menjaga ekosistem kawasan.

"Rimbunnya hutan mangrove sebagai refleksi kehidupan," kata Sekretaris Daerah Kabupaten Lombok Timur Muhammad Juaini Taofik dalam peluncuran Ekowisata Mangrove di Taman Wisata Alam Keramat Suci Ekowisata Desa Sugian di Lombok Timur, Minggu (.

Ia mengatakan, rimbunnya mangrove mengajarkan kesederhanaan membawa pesan bahwa cinta yang tulus adalah tentang menjaga dan melindungi, bukan sekadar memiliki.

Ini juga disebutnya sebagai sebuah filosofi yang menjadi fondasi kuat dalam membangun rumah tangga yang harmonis dan bebas dari kekerasan.

”Dibalik rimbunnya mangrove, ada kesan sederhana. Cinta yang baik adalah melindungi bukan memiliki," katanya.

Ia mengatakan bahwa prinsip utama dalam menjaga alam, halnya membina keluarga adalah kesadaran untuk melindungi, bukan sekadar memiliki.

Dengan semangat perlindungan tersebut, keberlanjutan ekosistem akan terjaga, sebagaimana rumah tangga yang harmonis akan jauh dari KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) karena landasannya adalah saling menjaga satu sama lain.

Lebih lanjut, Sekda menyampaikan apresiasi kepada Wahana Visi Indonesia (WVI) yang telah membuktikan komitmen awal untuk mewujudkan destinasi ini.

Baginya, langkah ini adalah pintu pembuka kolaborasi yang lebih luas; karena tujuan akhirnya bukan sekadar merestorasi hutan mangrove.

"Melainkan memastikan denyut ekonomi masyarakat Desa Sugian terus berputar melalui variasi ekonomi yang kuat di wilayah Sambelia," katanya.

Mengingat peran penting mangrove mencegah abrasi, Sekda mengapresiasi pendekatan pembangunan ekowisata ini yang begitu menyatu dengan masyarakat.

"Kami menitipkan pesan agar para pengelola tidak seperti anak yang lupa akan induknya ketika sudah besar nanti," katanya.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.