Waspada Godzilla El Nino 2026, Jambi Terancam Kemarau Lebih Panjang dan Kekeringan Ekstrem
Jumat, 03 Apr 2026, 19:04 WIBKOTA JAMBI -Â Provinsi Jambi bersiap menghadapi ancaman fenomena iklim ekstrem "Godzilla El Nino" yang diprediksi akan memicu musim kemarau lebih awal dan lebih panjang pada tahun 2026.
BMKG Stasiun Meteorologi Sultan Thaha melaporkan bahwa meskipun saat ini masih terjadi hujan fluktuatif, penurunan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik mulai mengurangi suplai uap air secara signifikan ke wilayah Jambi. Prakirawan BMKG, Jaya Martua Sinaga, Jumat (3/4), memperingatkan bahwa awal kemarau diperkirakan maju ke dasarian ketiga Mei dengan puncak pada Juni hingga Juli, yang berpotensi memicu kekeringan ekstrem di kawasan hutan dan lahan gambut hingga September mendatang.
"Kondisi cuaca di Provinsi Jambi saat ini masih berada pada masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau dengan pola yang fluktuatif," kata Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Sultan Thaha Jambi Jaya Martua Sinaga, di Jambi, Jumat.
Hal itu ditandai cuaca cerah berawan pada pagi hingga siang hari serta potensi hujan sporadis pada sore hingga malam atau dini hari.
Menurut dia, meskipun dalam beberapa hari terakhir hujan terjadi berturut-turut, ke depan diperkirakan kembali cerah berawan.
Berdasarkan hasil pemantauan terbaru BMKG wilayah setempat, nilai El Nino pada periode Mei hingga Juni menunjukkan angka minus 0,5.
Hal itu mengindikasikan terjadi penurunan curah hujan akibat perubahan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik, sehingga mempengaruhi pola angin di wilayah Indonesia.
"Kondisi ini menyebabkan berkurangnya suplai uap air ke wilayah Jambi, sehingga mendukung terjadinya musim kemarau yang datang lebih awal dan lebih panjang dibandingkan kondisi normal," katanya.
Menurut dia, awal musim kemarau yang umum terjadi pada Juni, tahun ini diperkirakan akan maju ke dasarian ketiga Mei.
Sedangkan puncak musim kemarau diprediksi berlangsung pada Juni hingga Juli dan berpotensi berlanjut hingga Agustus, bahkan September 2026.
Jaya mengatakan, fenomena El Nino juga berdampak pada sifat hujan yang berada di bawah normal.
Sebab, curah hujan saat kemarau yang umum berkisar 100 milimeter per bulan, diperkirakan tidak akan tercapai dalam kurun waktu satu hingga tiga bulan.
Kondisi tersebut meningkatkan potensi kekeringan, terutama di kawasan hutan dan lahan gambut yang menjadi lebih rentan terhadap kebakaran hutan dan lahan.
"Kami mengimbau masyarakat serta pemerintah daerah agar meningkatkan kewaspadaan dan melakukan langkah antisipasi sejak dini, guna meminimalisir dampak kemarau panjang di wilayah Jambi," kata dia.
- perubahan iklim
- godzilla el nino
- bmkg jambi
- kemarau panjang 2026
- karhutla jambi
- kekeringan jambi
Redaktur: alfred
Penulis: Alfred, Antara
Berita Terkait:
-
Modus Baru Edarkan Narkoba Terbongkar di Tangerang: Paket Online Berisi 2,3 Kg Ganja
-
Penugasan Misi Perdamaian Dunia Bukan Hanya Menjaga Citra TNI Tetapi Juga Harumnya Negara Indonesia
-
Hasil FIFA Series 2026: Bulgaria Bantai Kepulauan Solomon 10-2
-
Pemkab Kudus Memastikan Tidak Naikkan PBB meskipun NJOP Disesuaikan Harga Pasar
-
Selain Sudewo, KPK Selidiki Anggota Komisi V DPR Terkait Suap Jalur KA
-
PWI Daerah Ikut Berkontribusi, Promosi HPN 2026 Banten Semarak se-Indonesia
-
Bundesliga Jerman: Bayern Tahan Imbang Leverkusen 1-1 Meski Bermain dengan Sembilan Orang
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.