Libur Lebaran Bikin Bandung Kebanjiran Duit, Perputaran Wisata Tembus Rp31,6 Miliar

Jumat, 03 Apr 2026, 22:00 WIB

BANDUNG – Libur Lebaran 2026 jadi momen yang benar-benar terasa “hidup” buat sektor pariwisata. Pergerakan orang yang tinggi—mulai dari mudik, liburan keluarga, sampai wisata dadakan—ikut mendorong perputaran uang yang nggak kecil.

Hotel, restoran, tempat wisata, hingga pelaku UMKM di sekitar destinasi ikut kecipratan berkah. Dari yang jualan makanan khas, oleh-oleh, sampai jasa transportasi lokal, semuanya ikut merasakan peningkatan aktivitas. Bahkan di beberapa daerah, lonjakannya terasa cukup signifikan dibanding hari-hari biasa.

Ket. Foto: Sejumlah wisatawan mengunjungi Kawah Putih di Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, saat libur Lebaran. — Sumber: ANTARA/ Ilham Nugraha.

Menariknya, pola belanja wisatawan juga makin beragam. Nggak cuma fokus ke tiket masuk atau penginapan, tapi juga pengalaman—kuliner lokal, atraksi budaya, hingga aktivitas outdoor. Ini yang bikin uang berputar lebih luas dan menyentuh banyak lapisan usaha.

Meski begitu, tingginya perputaran uang ini juga jadi pengingat pentingnya kesiapan destinasi. Mulai dari infrastruktur, kebersihan, sampai pelayanan, semua ikut diuji saat jumlah pengunjung membludak.

Singkatnya, libur Lebaran bukan cuma soal silaturahmi, tapi juga jadi “mesin penggerak” ekonomi daerah. Ketika wisata ramai, roda ekonomi ikut berputar kencang—dan dampaknya bisa terasa jauh setelah liburan usai.

Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Kabupaten Bandung, Jawa Barat, mencatat perputaran uang dari sektor pariwisata selama periode libur Lebaran 2026 mencapai sekitar Rp31,6 miliar.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bandung Wawan A. Ridwan di Bandung, Jumat (3/4), mengatakan perputaran uang tersebut berasal dari total kunjungan 146.564 wisatawan dengan rata-rata pengeluaran sekitar Rp215 ribu per orang.

“Perputaran uang hampir Rp31,650 miliar, ini dihitung dari rata-rata belanja wisatawan sekitar Rp215 ribu per orang,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa angka tersebut merupakan estimasi belanja langsung wisatawan untuk konsumsi, oleh-oleh, serta kebutuhan lainnya di lokasi wisata dan belum termasuk biaya penginapan dan tiket wisata.

“Belanja ini belum termasuk biaya penginapan dan tiket masuk objek wisata, sehingga potensi sebenarnya bisa lebih besar,” ujarnya.

Selain itu, tingkat hunian akomodasi di kawasan wisata tercatat mengalami kenaikan antara 30 hingga 40 persen selama periode libur Lebaran.

“Hunian hotel, glamping, hingga resort yang kami pantau di 15 titik mengalami peningkatan cukup signifikan,” katanya.

Ia menambahkan, rata-rata lama tinggal wisatawan di Kabupaten Bandung masih berkisar 1,5 hari, lebih rendah dibandingkan Kota Bandung yang mencapai 2 hingga 3 hari.

Pemerintah daerah menilai capaian tersebut menunjukkan kontribusi sektor pariwisata terhadap ekonomi lokal, sekaligus menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan lama tinggal dan kualitas layanan wisata.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Bandung sendiri menyebut akan terus meningkatkan kualitas destinasi dan promosi guna mendorong lama tinggal serta belanja wisatawan selama berlibur.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.