Rupiah Masih Rawan Tertekan, 1 April 2026

Rabu, 01 Apr 2026, 08:57 WIB

JAKARTA – Rupiah berpotensi melanjutkan pelemahan­nya karena dipengaruhi kombinasi sentimen internal dam eksternal, seperti arah kebijakan pemerintah di tengah gejolak global dan masih memanasnya konflik di Timur Tengah. Kombinasi sentimen tersebut meningkatkan per­mintaan valuta asing dan memperbesar potensi arus ke­luar modal, sehingga menekan nilai tukar rupiah. 

Pengamat pasar uang dari Doo Financial Futures, Luk­man Leong melihat lonjakan risiko geopolitik berpotensi mendorong kenaikan harga energi global, yang pada akhir­nya meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Selain itu, investor bakal mencermati sejumlah sentimen domestik penting, seperti rilis data inflasi dan neraca perdagangan Indonesia.

Ket. Foto: — Sumber: istimewa

Karenanya, Lukman memproyeksikan kurs rupiah ter­hadap dollar AS dalam perdagangan di pasar uang antar­bank, Rabu (1/4), bergerak fluktuatif dalam tekanan di 17.000-17.150 rupiah per dollar AS.

Sebelumnya, nilai tukar rupiah pada penutupan perda­gangan, Selasa (31/3), melemah 39 poin atau 0,23 persen dari sehari sebelumnya menjadi 17.041 rupiah per dollar AS. Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi me­nilai pelemahan rupiah dipengaruhi kenaikan harga minyak dunia jenis Brent dan West Texas Intermediate (WTI) hingga melebihi 57 persen pascapenutupan Selat Hormuz.

“Penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran, yang biasa­nya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global dan sejumlah besar kapal tanker gas alam cair, telah mendo­rong harga Brent berjangka naik 59 persen sejauh ini pada bulan Maret, kenaikan bulanan tertinggi yang pernah ada. Sementara WTI naik 58 persen bulan ini, yang tertinggi se­jak Mei 2020,” ucapnya dalam keterangan tertulis di Jakar­ta.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara, Muchamad Ismail

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.