Inflasi pada Maret Capai 3,48 Persen: Efek Statistik atau Sinyal Harga Mulai Panas?
Rabu, 01 Apr 2026, 19:45 WIBJAKARTA â Inflasi pada Maret 2026 memang menunjukkan tanda-tanda pelonggaran, tetapi levelnya masih relatif tinggi karena berada dekat dengan batas atas target tahunan 3,5 persen.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa tekanan harga belum sepenuhnya mereda, terutama dari komponen yang bersifat volatil maupun harga yang diatur pemerintah.
Fenomena low base effect turut berperan dalam membentuk angka inflasi tersebut, di mana perbandingan dengan periode sebelumnya yang relatif rendah membuat kenaikan saat ini tampak lebih menonjol.
Artinya, secara fundamental, tekanan inflasi belum sepenuhnya mencerminkan lonjakan permintaan yang kuat, melainkan juga efek statistik dari basis perhitungan yang rendah.
Dengan demikian, meskipun ada sinyal moderasi, kewaspadaan tetap diperlukan karena inflasi masih berada di zona atas target, sehingga ruang pelonggaran kebijakan moneter kemungkinan tetap terbatas dalam jangka pendek.
Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan inflasi tahunan pada Maret 2026 sebesar 3,48 persen (year-on-year/yoy) atau lebih tinggi dibandingkan inflasi tahunan pada Maret 2025 sebesar 1,03 persen (yoy), disebabkan masih adanya pengaruh efek basis rendah atau low base effect.
"Seperti di bulan lalu, inflasi Maret 2026 ini sedikit dipengaruhi oleh low base effect. Kalau di Januari dan Februari pengaruhnya cukup lumayan, Maret ini pengaruh low base effect mulai sedikit," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam konferensi pers Rilis BPS di Jakarta, Rabu (1/4).
Ateng menjelaskan pada Januari-Februari 2025, pemerintah menerapkan kebijakan diskon tarif listrik, sehingga level harga pada periode tersebut berada di bawah tren normal dan menekan Indeks Harga Konsumen (IHK).
Meski tarif listrik prabayar kembali normal pada Maret 2025, diskon untuk pascabayar masih berlanjut. Akibatnya, inflasi pada Maret 2026 terlihat lebih tinggi meskipun dinamika harga secara umum tetap sejalan dengan tren fundamental.
Ateng menambahkan masih adanya efek basis rendah terlihat dari angka inflasi tahunan kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga pada Maret 2026 yang mencapai 7,24 persen, dengan andil inflasi sebesar 1,08 persen.
Lebih lanjut, BPS melaporkan bahwa kelompok makanan, minuman dan tembakau mengalami inflasi tahunan sebesar 3,34 persen atau memberikan andil inflasi sebesar 0,99 persen.
Sementara itu, kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan tercatat mengalami deflasi sebesar 0,03 persen atau memberikan andil deflasi hampir nol persen.
Menurut sebaran wilayah, secara tahunan seluruh provinsi mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Aceh, yaitu sebesar 5,31 persen, dan inflasi terendah terjadi di Lampung, yaitu sebesar 1,16 persen.
Sebagai catatan, terjadi peningkatan IHK tahunan dari 107,22 pada Maret 2025 menjadi 110,95 pada Maret 2026.
Sementara inflasi bulanan pada Maret tercatat sebesar 0,41 persen (month-to-month/mtm) dan inflasi tahun kalender 0,94 persen (year-to-date/ytd). Sebagai perbandingan, tingkat inflasi nasional secara bulanan pada Februari 2026 sebesar 0,68 persen (yoy).
- BPS
- inflasi
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Telin Siap Gelar BATIC 2026 di Bali, Fokus pada Inovasi AI
-
Resmi Naik, Tarif Bus Transjakarta Rute Blok M–Bandara Soetta Ditetapkan Rp15.000
-
Pemprov Jabar Kembali Gelar Pekan Kerajinan Jawa Barat PKJB 2026
-
Perkuat Persaudaraan, Festival Golo Koe Perayaan Pertemukan Iman dan Tradisi di Labuan Bajo
-
Mengapa Pengobatan Kanker Mengancam Kesuburan Laki-laki?
-
Bea Cukai Soekarno-Hatta Gagalkan Pemasukan 350 Ribu Dolar AS Tanpa Izin
-
Seiko Hadirkan Power Design Project 2026 di Jakarta, Eksplorasi Detail dan Craftsmanship Watchmaking Jepang
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.