- Home
-
- Luar Negeri
-
- AI Picu Kelelahan Otak Pen...
AI Picu Kelelahan Otak Pengguna
Selasa, 31 Mar 2026, 01:00 WIBNEW YORK CITY â Para pengguna berat kecerdasan buatan (AI) melaporkan mengalami kelelahan mental saat berupaya mengikuti dan menguasai teknologi yang justru dirancang untuk mempermudah pekerjaan.
Keluhan yang muncul antara lain banyaknya baris kode yang harus dianalisis, beragam asisten AI yang perlu dikelola, hingga penyusunan perintah (prompt) yang semakin kompleks.
Dikutip dari AFP, konsultan di Boston Consulting Group (BCG) menyebut fenomena ini sebagai âAI brain fryâ, yakni kondisi kelelahan mental yang timbul âdari penggunaan atau pengawasan berlebihan terhadap perangkat kecerdasan buatan, yang didorong melampaui batas kognitif kita.â
Kemunculan agen AI yang mampu menjalankan tugas komputer secara otomatis membuat pengguna kini berperan sebagai pengelola âpekerja digitalâ, alih-alih mengerjakan tugas secara langsung.
âIni adalah jenis beban kognitif yang benar-benar baru,â kata Ben Wigler, salah satu pendiri LoveMind AI. âAnda harus benar-benar mengawasi model-model ini.â
Menurut Tim Norton, pendiri konsultan integrasi AI nouvreLabs, kelelahan ini bukan dialami pengguna biasa, melainkan mereka yang menciptakan banyak agen AI yang harus dikelola terus-menerus. âItulah yang menyebabkan kelelahan,â tulisnya di platform X.
Meski demikian, BCG menilai fenomena ini bukan berarti AI meningkatkan burnout secara umum. Studi terhadap 1.488 profesional di Amerika Serikat justru menunjukkan penurunan kelelahan kerja saat AI mengambil alih tugas-tugas repetitif.
Namun, âkelelahan otakâ ini paling banyak dirasakan oleh pengembang perangkat lunak. Agen AI yang unggul dalam menulis kode justru menuntut pengawasan lebih ketat.
âIronisnya, kode yang dihasilkan AI membutuhkan peninjauan yang lebih cermat daripada kode yang ditulis manusia,â tulis insinyur perangkat lunak Siddhant Khare.
Hal serupa disampaikan programmer asal Kanada, Adam Mackintosh. âSangat menakutkan untuk mengerjakan ratusan baris kode yang ditulis oleh AI karena ada risiko kelemahan keamanan atau sekadar tidak memahami seluruh basis kode,â ujarnya.
Selain itu, agen AI yang tidak diawasi berpotensi salah memahami instruksi dan menyimpang, sehingga menyebabkan pemborosan sumber daya komputasi.
Wigler menambahkan, peningkatan produktivitas dari AI juga mendorong pola kerja berlebihan, terutama di kalangan startup teknologi.
âAda jenis peretasan imbalan unik yang dapat terjadi ketika Anda memiliki produktivitas dalam skala yang mendorong jam kerja lebih larut,â katanya.
Mackintosh bahkan mengaku pernah bekerja hingga 15 jam berturut-turut untuk menyempurnakan puluhan ribu baris kode. âPada akhirnya, saya merasa tidak mampu lagi melakukan pemrograman,â ujarnya.
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: AFP, Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Trump Perpanjang Gencatan Senjata dengan Iran Tanpa Batas, Diplomasi Dimaksimalkan
-
1.201 Jamaah Haji Serang Siap Berangkat 2026, Semua Lolos Tes Kesehatan
-
OJK Dorong Pasar Modal Berkelanjutan Berbasis ESG
-
AI Sebagai "Penyebab Munculnya" Celah Keamanan Siber
-
Swiatek Mundur, Sabalenka Tetap Unggulan Utama
-
Menteri Pertanian: Stok Cadangan Beras Pemerintah di Bulog Tembus 5,19 Juta Ton
-
Belum Jalan, UU Perkeretaapian Meminta Operator Infrastruktur dan Sarana Terpisah
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.