Kondisi Pangan Global dalam Ancaman Serius
Senin, 30 Mar 2026, 00:00 WIBJAKARTA - Kondisi pangan global dalam ancaman serius, akibat perang Iran melawan Israel dan Amerika Serikat yang membuat tekanan harga pangan dunia akan terus naik. Tekanan perang Ukraina dan Rusia belum reda pengaruhnya. Dua perang ini membuat âbencanaâ serius dalam hal keseimbangan pangan global.
Program MDGs (Millennium Development Goals atau Tujuan Pembangunan Milenium) pun dinilai gagal mengatasi kelaparan pangan global. Ada 1 miliar penduduk bumi yang terancam kelaparan dan bahkan banyak kematian karena kelaparan global.
Target SDGs (Sustainable Development Goals) ke-2 pada 2030, yaitu mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan perbaikan gizi, serta mendorong pertanian berkelanjutan, tampaknya akan terancam gagal untuk kali kedua karena perubahan ekstrem peta pangan global.
âArtinya dunia gagal mengatur perputaran pangan global. Adanya perang Iran, Amerika Serikat, dan Israel membuat semakin tinggi ketidakpastian global sehingga negara produsen pangan berprinsip menahan pangan untuk mereka sendiri,â papar Anggota Komisi IV DPR RI Riyono di Jakarta, Minggu (29/3).
Menurut Riyono, kegagalan global dalam distribusi pangan mengakibatkan harga pangan dunia naik, ketersediaan menurun, dan permintaan tinggi. Komoditas pangan berubah menjadi komoditas politik yang sering merugikan petani.
âPangan dan energi sebagai instrumen dasar manusia berubah menjadi senjata mematikan untuk menguasai bahkan âmenjajahâ suatu negara atas nama impor, sedangkan produsen utamanya, yaitu petani dan negaranya, masih tetap miskin dan menderita,â tambah Politisi Fraksi PKS ini.
Dalam rangka memastikan pangan di Indonesia aman, Riyono menyampaikan tiga poin strategis guna mewujudkan hal tersebut. Pertama, menghadapi kondisi global saat ini yang cenderung menuju krisis, maka Indonesia harus memfokuskan ketersediaan pangan sebagai fondasi utama kedaulatan pangan.
âCadangan pangan berupa beras yang sudah tembus 4 juta ton harus dijaga kualitas dan manajemen pengelolaannya,â tegasnya.
Kedua, perlindungan kepada petani sebagai produsen pangan utama dengan skema insentif harga produk pertanian yang baik. Harga GKP dan jagung yang sudah baik harus tetap dipertahankan, kalau perlu ditambah dengan asuransi hasil pertanian karena menghadapi risiko kemarau panjang.
Ketiga, menjaga politik anggaran sektor pertanian dan perikanan agar tidak dikenakan efisiensi. Riyono menegaskan anggaran pertanian sebesar Rp60 triliun jangan sampai dipotong. Hal ini dikarenakan ketahanan pangan dan protein ada di sektor ini. Jika diperlukan, maka anggarannya harus ditambah untuk mengantisipasi krisis pangan dunia.
âKetiga langkah di atas akan mampu melindungi Indonesia dari krisis pangan. Rakyat jangan sampai mendapatkan harga pangan mahal karena imbas perang dan ketidakpastian global ini. Tugas negara hadir dan memastikan pangan sampai ke meja makan rakyat di pedesaan dan pelosok terluar bangsa ini,â tutup Riyono.
Pangan Lokal
Akademisi Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi Universitas Warmadewa (Unwar), Denpasar, Bali, I Nengah Muliarta menegaskannya kerentanan sistem ini memang sangat terasa ketika konflik besar terjadi, seperti ketegangan di Timur Tengah yang mengganggu pasokan energi dan jalur pengiriman barang.
Secara teknis terang dia, pertanian modern sangat bergantung pada bahan bakar dan gas alam, karena gas merupakan bahan baku utama untuk pembuatan pupuk. "Ketika konflik di wilayah penghasil energi memanas, harga pupuk dunia akan melonjak, yang secara otomatis menaikkan biaya tanam petani dan berujung pada mahalnya harga makanan di meja makan masyarakat,"jelas Muliarta.
Dia menegaskan, memperkuat ketahanan pangan tidak seharusnya diartikan sebagai menutup diri dari dunia luar, melainkan membangun sistem dalam negeri yang tahan banting. Langkah ini bisa dilakukan dengan mengoptimalkan konsumsi pangan lokal yang lebih kuat menghadapi iklim setempat, serta membangun gudang penyimpanan raksasa dengan teknologi modern untuk menjaga stok saat harga dunia tidak stabil.
Ketahanan Pangan
Kepala Badan Pangan Nasional yang juga Menteri Pertanian Amran Sulaiman menegaskan bahwa penguatan produksi menjadi kunci utama dalam menjaga ketahanan pangan nasional.
âProduksi kita meningkat, panen raya terjadi di banyak daerah, Februari, Maret, dan April banyak panen di berbagai daerah, sehingga stok beras nasional sangat kuat. Produksi kita sudah berada di atas kebutuhan konsumsi nasional,â ujar Amran.
Ia menambahkan, keseimbangan antara produksi dan distribusi menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas harga pangan di masyarakat.
âKalau produksi surplus dan distribusi lancar, maka harga akan stabil. Itu yang kita jaga terus, dari hulu sampai hilir,â kata Amran.
Dengan dukungan cadangan pangan pemerintah yang kuat, stok beras yang terjaga, serta proyeksi produksi yang positif sepanjang tahun, pemerintah memastikan ketahanan pangan nasional tetap terjaga dan masyarakat dapat menjalankan aktivitas dengan tenang.
Redaktur: M. Selamet Susanto
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
PM Inggris Bertekad Selesaikan Masa Jabatannya
-
Harry Styles Umumkan Single Baru Berjudul “Aperture”
-
KI DKI Jakarta Terima Studi Banding DPRD Jambi
-
Rotasi ASN di Bogor Berbasis Merit, Wali Kota Tegaskan Tanpa Kepentingan
-
Bupati Tulungangung Hanya Mengeluarkan Dua Kata Saat Jadi Tersangka Bersama Ajudan
-
Putri KW Andalan di Tunggal Wanita All England
-
Puncak Arus Mudik pada H-4 Lebaran 2026 di Terminal Leuwipanjang Bandung
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.