Banyak Kecelakaan di Laut, Hati-hati Gelombang Tinggi 2,5 Meter di Nias
Sabtu, 28 Mar 2026, 21:05 WIBNIAS - Â Cuaca di laut sedang tidak ramah. Banyak kecelakaan di laut, semua harus berhati-hati. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan gelombang laut setinggi 1,25 hingga 2,5 meter berpeluang terjadi di sejumlah perairan di Kepulauan Nias, Sumatera Utara dari 29 Maret hingga 1 April 2026.
"Gelombang tinggi tersebut dapat terjadi di perairan timur Kepulauan Nias, perairan barat Kepulauan Batu, perairan barat Kepulauan Nias dan Samudra Hindia barat Kepulauan Nias," kata Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Maritim Belawan Rizki Fadhillah Pratama Putra di Medan, Sabtu.
Pola angin di wilayah Indonesia bagian utara umumnya bergerak dari barat laut hingga timur laut dengan kecepatan angin berkisar 7 - 25 knot, sedangkan di wilayah Indonesia bagian selatan umumnya bergerak dari tenggara hingga barat daya dengan kecepatan angin berkisar 5 - 25 knot.
Kepada nelayan yang menggunakan perahu diimbau waspada jika kecepatan angin mencapai 15 knot dan tinggi gelombang mencapai 1,25 meter dan kapal tongkang jika kecepatan angin mencapai 16 knot dan tinggi gelombang mencapai 1,5 meter.
Sementara Prakirawan BMKG Wilayah I Medan Christin Mori menyebutkan cuaca di Sumatera Utara pada Minggu (29/3) pagi secara umum berawan, namun berpotenai hujan dengan intensitas sedang di Padang Lawas, Labuhanbatu Utara, Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Asahan, Labuhanbatu Selatan, dan Kepulauan Nias.
Siang hingga sore berawan secara merata di hampir seluruh wilayah dan pada malam hari berpotensi hujan ringan di Samosir, Padanglawas Utara, Simalungun, Labuhanbatu Utara, Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Langkat, Padang Lawas, dan Labuhanbatu Selatan.
Tak Melaut
Sementara itu, sebagian besar nelayan di Kota Jayapura, Papua khususnya di RT 02 Pulo Kosong, Kampung Kayo Pulo, Distrik Jayapura Selatan tidak melaut sejak Februari 2026 karena cuaca ekstrem.
Koordinator Nelayan RT 02 Pulo Kosong Hariman di Jayapura, Sabtu, mengatakan para nelayan menghentikan aktivitas melaut akibat tingginya risiko keselamatan di laut.
"Nelayan mulai berhenti melaut sejak Februari 2026. Tentunya ini sangat berdampak terhadap perekonomian keluarga mereka," katanya.
Menurut Hariman, Kampung Kayo Pulo, RT 02 Pulau Kosong, Distrik Jayapura Selatan ditempati sekitar 150 kepala keluarga (KK) di mana 99,9 persen penduduknya merupakan nelayan.
"Di Pulo Kosong ini terdapat 20 kelompok nelayan," ujarnya. Dia menjelaskan sekitar 30 persen nelayan di Pulo Kosong terpaksa melakukan aktivitas melaut untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Aloysius Widiyatmaka
Berita Terkait:
-
Potensi Gelombang Tinggi di Wilayah Sulawesi Utara
-
Seleksi Akpol Jateng 2026: Wakapolda Pantau Tes Kesehatan Tahap I Gelombang Kedua
-
Euforia IPO Meledak! Mirae Asset Ingatkan Risiko di Balik Serbuan Investor Ritel
-
Ribuan Warga Lokal Padati Bukit Merese Mandalika di Libur Lebaran
-
Suasana yang Tenang Tiba-tiba Berubah Riuh Ketika Laut Bergelombang Tinggi Lalu Menghantam Rumah-rumah yang Penghuninya Terlelap
-
Sesosok Mayat Laki-laki dengan Luka di Leher di Jombang
-
BMKG Ingatkan Warga untuk Waspada Gelombang Tinggi di Perairan Sulut
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.