Waspadai Ancaman Lonjakan Harga Pangan

Jumat, 27 Mar 2026, 00:00 WIB

Fenomena iklim Godzilla El Nino dan Indian Ocean Dipole yang akan terjadi bersamaan mulai April hingga Oktober mendatang menjadi ancaman serius terkait lonjakan harga pangan dan menggerus daya beli.

JAKARTA - Pemerintah bakal menghadapi double tekanan seusai lebaran. Selain masih berkutat di masalah harga energi, regulator harus bersiap untuk menghadapi tekanan harga pangan imbas kemarau panjang.

Ket. Foto: Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebutkan fenomena iklim Godzilla El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) kemungkinan akan terjadi bersamaan mulai April hingga Oktober mendatang. — Sumber: istimewa

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebutkan fenomena iklim Godzilla El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) kemungkinan akan terjadi bersamaan mulai April hingga Oktober mendatang.

Godzilla El Nino merupakan istilah populer untuk menggambarkan fenomena El Nino dengan intensitas sangat kuat. Sementara IOD berdampak pada kekeringan berkepanjangan di wilayah Asia Tenggara dan Australia.

Fenomena ini, menurut Dosen Magister Ekonomi Terapan Unika Atma Jaya, YB. Suhartoko, akan menimbulkan tekanan di sektor riil yang menggerus daya beli masyarakat. Boleh dibilang tantangan yang dihadapi pasca lebaran tidaklah mudah karena langsung menyentuh kehidupan riil masyatakat.

Risiko kenaikan harga pangan akibat gangguan distribusi dan cuaca. Fenomena El Nino, khususnya yang diprediksi sebagai Godzilla El Nino (ekstrem), diperkirakan akan terjadi di Indonesia mulai April hingga Oktober 2026.

“Fenomena ini bertepatan dengan musim kemarau, menyebabkan pengurangan hujan yang signifikan, suhu panas, serta risiko kekeringan terutama di wilayah Jawa hingga NTT (Nusa Tenggara Timur),” jelas Suhartoko, Kamis (26/3).

Usai Lebaran, papar dia, bakal terjadi normalisasi konsumsi, bahkan setelah terjadi peningkatan konsumsi pada masa puasa dan lebaran bisa terjadi penurunan daya beli, sehingga ancaman konsumsi menurun dan akibatnya pertumbuhan ekonomi akan menurun.

Daya beli bakal makin tertekan ketika musim kemarau karena berkurangnya produkitivitas masyarakat. Karena itu dia menegaskan, pemerintah harus menyiapkan pilihan kebijakan sebagai antisipasi menghadapi tekanan daya beli masyarakat.

“Pemerintah perlu menjaga stabilitas harga pangan, memastikan ketersediaan pasokan, dan mendorong konsumsi kelas menengah agar roda ekonomi tetap berputar,” tandas Suhartoko.

Adapun Pemerintah menyiapkan sejumlah langkah strategis menghadapifenomena iklim Godzilla El Nino yang diprediksi akan diperkuat dengan adanya fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif diperkirakan dapat mengakibatkan musim kemarau di Indonesia menjadi lebih panjang dan kering.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) I Gusti Ketut Astawa menuturkan, sebagai antisipasi di sektor pangan, pemerintah memastikan ketahanan stok Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) terus diperkuat.

Dia berujar, dengan kokohnya stok CPP yang mengutamakan penyerapan produksi dalam negeri, tatkala terjadi anomali cuaca maka program intervensi pangan dapat dijalankan pada kesempatan pertama.

“Adanya prediksi Godzilla El Nino telah menjadi perhatian pemerintah. Kami di Badan Pangan Nasional (Bapanas) sesuai arahan Kepala Bapanas Bapak Andi Amran Sulaiman, memastikan ketahanan stok CPP terus diperkuat agar nanti saat diperlukan, bisa segera disalurkan untuk membantu masyarakat,” kata Ketut.

Terkait itu, dalam laporan Bapanas per 25 Maret, stok pangan pokok strategis yang merupakan CPP dan dikelola oleh BUMN pangan, baik Perum Bulog maupun ID FOOD, masih memadai dengan beras sebagai CPP dengan stok terbesar. Sementara CPP lainnya juga terus diperkuat seperti jagung, minyak goreng, gula konsumsi, daging sapi/kerbau, daging ayam dan telur ayam.

Stok CPP beras di Bulog saat ini total telah mencapai 4,08 juta ton. Capaian ini meningkat pesat sebesar 77,8 persen dibandingkan kondisi stok CPP beras pada akhir Maret tahun lalu yang saat itu masih berada 2,29 juta ton. Sebagian besar pasokan pun bersumber dari produksi dalam negeri dikarenakan Bulog telah melaksanakan penyerapan setara beras sejak awal 2026 hingga hari ini mencapai 1,24 juta ton.

Kemudian stok CPP jagung berada di kisaran 144 ribu ton yang sebagian besar bersumber dari penyerapan panen jagung dalam negeri. Realisasi penyerapan jagung produksi dalam negeri di tahun 2026 ini telah mencapai 101,96 ribu ton. Patut diketahui, Indonesia sudah tidak melakukan impor jagung pakan sejak tahun 2025.

Sementara kondisi stok CPP lainnya antara lain minyak goreng berada di angka total 95 ribu kiloliter. Lalu gula konsumsi ada 50 ribu ton dengan sebagian besar ada di ID FOOD sebagai pengelolanya. Kemudian stok CPP daging sapi/kerbau ada 11 ribu ton yang juga sebagian besar dikelola ID FOOD. Daging ayam 39 ton pun ada di ID FOOD. Sementara CPP telur ayam 62 ton dikelola Bulog.

Ketahanan Pangan

Kepala Bapanas yang juga Menteri Pertanian Amran Sulaiman menekankan ketahanan pangan nasional sejalan dengan visi swasembada pangan yang diusung Presiden Prabowo Subianto. Indonesia harus mampu berdiri di atas kaki sendiri, tanpa bergantung terhadap negara lain.

“Dunia sedang menghadapi ancaman krisis pangan yang serius. Oleh karena itu setiap negara harus memperkuat ketahanan pangannya dan tidak boleh bergantung pada negara lain. Kita tidak boleh takut,” ajak Amran.

Baginya Indonesia saat ini sudah berada di jalur yang tepat. Kebutuhan konsumsi pangan pokok strategis harus mampu ditopang dari hasil kerja keras petani dan peternak dari negeri sendiri. Itu yang menjadi indikator ketahanan pangan nasional yang kuat.

“Yang paling aman adalah negara yang bisa memproduksi pangannya sendiri. Itu sebabnya kita harus memperkuat produksi dalam negeri. Kita harus optimistis,” tambah Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman.

Lebih lanjut, stok CPP tersebut akan disalurkan ke masyarakat melalui berbagai program intervensi pangan. Misalnya program bantuan pangan beras dan minyak goreng yang kembali digulirkan pemerintah mulai Maret ini. Bapanas mencatat realisasi penyalurannya sampai 25 Maret telah mencapai 378.666 penerima di 24 provinsi.

Sementara realisasi penjualan beras SPHP selama bulan Maret tahun ini telah menyentuh angka 43,17 ribu ton. Program intervensi pangan lainnya masih terus dilaksanakan pemerintah bersama seluruh mitra dalam bentuk Gerakan Pangan Murah (GPM) di berbagai daerah.

Adapun penjelasan terkait Godzilla El Nino, BRIN menyebut menggunakan istilah ini untuk menggambarkan potensi variasi El Nino yang kuat, sehingga muncul prediksi musim kemarau yang lebih panjang dan kering. Indonesia dapat mengalami keadaan minim awam dan hujan.

Namun, dampaknya bisa saja tidak seragam terjadi di seluruh wilayah Indonesia. BRIN mengajak kementerian/lembaga yang terkait untuk dapat memitigasi dengan mempertimbangkan dampak kekeringan di bagian selatan Indonesia dan dampak banjir di timur laut Indonesia (Sulawesi, Halmahera, Maluku).(ers/S-2)

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.