Sungai dan Waduk Terus Dikeruk

Jumat, 27 Mar 2026, 03:48 WIB

JAKARTA - Pemerintah Provinsi Jakarta memprioritaskan percepatan pengerukan sungai dan waduk sebagai langkah utama mengantisipasi banjir di tengah potensi cuaca ekstrem. Upaya ini dilakukan untuk meningkatkan kapasitas tampung air sekaligus memperlancar aliran di berbagai badan air.

Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta, Ika Agustin Ningrum, mengatakan pengerukan menjadi strategi penting dalam pengendalian banjir, terutama selama periode curah hujan tinggi. Kegiatan tersebut dilakukan secara intensif di lima wilayah kota administrasi.

Ket. Foto: Petugas Suku Dinas Sumber Daya Air Jakarta Timur membuat turap sementara di bantaran kali yang longsor di Jalan Kali Baru, Kramat Jati, Jakarta Timur, Kamis (26/3). Longsor sepanjang 15 meter mengakibatkan dua bangunan kios terperosok pada hari Minggu (22/3). — Sumber: ANTARA/Sulthony Hasanuddin

“Kami memastikan seluruh perangkat pengendalian banjir dapat berfungsi optimal, baik sebelum, saat, maupun setelah terjadi hujan intensitas tinggi,” kata Ika di Jakarta, Kamis (26/3). Dia menjelaskan, hingga 13 Maret, volume pengerukan yang telah dilakukan mencapai 123.000 meter kubik. Kegiatan ini mencakup sungai, waduk, situ, dan embung yang tersebar di berbagai titik rawan genangan.

Menurutnya, pengerukan dilakukan untuk mengembalikan kapasitas saluran air yang berkurang akibat sedimentasi. Dengan kapasitas yang optimal, aliran air diharapkan dapat mengalir lebih lancar saat terjadi hujan deras. “Kegiatan ini akan terus diperluas ke berbagai badan air lainnya guna meningkatkan daya tampung,” ujarnya.

Pengerukan sendiri telah dimulai sejak 2 Januari dan menjadi salah satu program prioritas Dinas SDA tahun ini. Langkah tersebut juga menjadi kelanjutan dari upaya serupa yang dilakukan sepanjang tahun sebelumnya.

Sepanjang 2025, total volume pengerukan tercatat mencapai 919.000 meter kubik. Untuk mendukung kegiatan tersebut, Dinas SDA mengerahkan 260 unit excavator serta 465 unit dump truck di lapangan.

Selain pengerukan, Dinas SDA juga menyiagakan Satuan Tugas (Satgas) atau Pasukan Biru yang bertugas memantau rutin di lapangan. Tim ini memastikan kondisi saluran air tetap terjaga dan siap menangani potensi hambatan aliran. “Mitigasi banjir adalah kerja kolaboratif yang membutuhkan kecepatan, ketepatan, dan kesiapan infrastruktur,” tambah Ika.

Di sisi lain, pemerintah daerah tetap menyiagakan sarana pengendali banjir berupa pompa air sebagai langkah penanganan cepat saat genangan terjadi. Dinas SDA mencatat terdapat 668 unit pompa stasioner yang tersebar di 243 lokasi serta 537 unit pompa mobile di lima wilayah administrasi Jakarta. pdr/G-1

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.