BNPB Ungkap 3.176 Bencana Terjadi di Indonesia hingga 24 Desember
Kamis, 01 Jan 2026, 00:05 WIBJAKARTAÂ - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, sebanyak 3.176 kejadian bencana terjadi di Indonesia hingga 24 Desember 2025. Mayoritas bencana tersebut, didominasi oleh hidrometeorologi basah, seperti banjir, cuaca ekstrem, dan tanah longsor.
âTingginya jumlah bencana hidrometeorologi basah menunjukkan perlunya kesiapan dan kesiapsiagaan yang lebih serius di seluruh daerah. Dari 3.176 kejadian bencana di Indonesia, yang terbanyak dan terbesar adalah bencana hidrometeorologi basah,â kata Kepala BNPB Suharyanto dalam keterangan persnya, di Jakarta, Rabu (31/12).
Menurut Suharyanto, kondisi ini sejalan dengan paparan BMKG terkait dinamika cuaca dan iklim. Terutama, terkait hal-hal yang memicu peningkatan curah hujan di sejumlah wilayah di Indonesia.
Ia menegaskan, penanggulangan bencana tidak bisa lagi hanya bergantung pada pemerintah pusat. Dalam memitigasi bencana, disebutkannya, membutuhkan peran aktif pemerintah daerah.
âPenanggulangan bencana sudah tidak bisa lagi hanya menjadi urusan pemerintah pusat semata. Kami mengingatkan seluruh provinsi, kabupaten, dan kota agar memperkuat kesiapan dan kesiapsiagaan di wilayah masing-masing,â ucap Suharyanto.
Karena itu, Suharyanto menuturkan, BNPB bersama kementerian/lembaga terkait melakukan koordinasi lintas sektor guna memastikan langkah mitigasi dan kesiapsiagaan. Khususnya, dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi di akhir 2025 hingga awal 2026.
âKami bersama kementerian dan lembaga terus memperkuat koordinasi lintas sektor untuk memastikan langkah mitigasi dan kesiapsiagaan berjalan optimal. Terutama dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi hingga awal 2026,â ujar Suharyanto.
Sementara, Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengungkapkan, Indonesia saat ini berada dalam fase La Nina lemah. Fase tersebut, dibeberkannya berlangsung hingga awal 2026.
"Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan curah hujan di berbagai wilayah Tanah Air. Kondisi ini membuat uap air mudah terbentuk dan memicu pertumbuhan awan hujan secara intensif,â kata Faisal.
BMKG bahkan menyebut perairan Indonesia kini berperan layaknya mesin uap pembentuk awan. Dampaknya, puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada Januari 2026, dengan curah hujan sangat tinggi.
âMasuk Februari 2026, kami memprediksi sebagian wilayah mulai mengalami penurunan curah hujan. Khususnya di pesisir timur Aceh, Sumatera Utara, Riau, serta sebagian Jambi," ujar Faisal. ils/I-1Â
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: Ilham Sudrajat
Berita Terkait:
-
Eliano Reijnders: Persib Bertekad Kalahkan Borneo FC untuk Perlebar Jarak Klasemen
-
Inggris Lobi Arab Saudi Amankan Pasokan Minyak
-
Terminal Simpang Nangka Rejang Lebong Tambah Armada Hadapi Mudik
-
Dana Desa Lebih Banyak ke KDMP, Desa Didorong Jadi Mesin Ekonomi Lokal
-
Pengecekan Legalitas 1.085 Batang Kayu Bulat di Sungai Kapuas
-
Tembus Pasar Inggris, UMKM Kantongi Potensi Rp10,76 Miliar
-
Akhiri Ketergantungan Impor, Swasembada Garam Dikejar 2027
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.