Di Balik Riuh Lebaran Ketupat, Ada Dodol dan Nasi Bulu yang Dirindu dari Gorontalo

Jumat, 27 Mar 2026, 22:55 WIB

GORONTALO – Aroma manis dodol yang legit berpadu dengan wangi khas nasi bulu yang dimasak dalam bambu perlahan menyusup di antara riuh perayaan Lebaran Ketupat di Kabupaten Gorontalo.

Di sudut-sudut kampung, dapur-dapur warga seperti tak pernah benar-benar dingin—api terus menyala, menjaga tradisi tetap hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Ket. Foto: Dodol dan nasi bulu menjadi makanan khas yang banyak dicari saat perayaan tradisi lebaran ketupat di Gorontalo, Provinsi Gorontalo setiap 7 Syawal atau sepekan setelah Idul Fitri, Jumat (27/3/2026). — Sumber: ANTARA/HO-Lifka Ismail

Bagi masyarakat, dua sajian khas suku Jawa Tondano ini bukan sekadar hidangan pelengkap. Dodol yang diaduk perlahan dengan kesabaran, serta nasi bulu yang dimasak dalam bambu hingga pulen dan harum, menjadi simbol kebersamaan dan warisan budaya yang terus dirawat.

Tak heran, setiap Lebaran Ketupat tiba, keduanya selalu diburu—baik oleh warga lokal maupun pendatang yang rindu cita rasa khas kampung.

Di balik rasanya yang sederhana, tersimpan cerita panjang tentang perjumpaan budaya dan jejak sejarah komunitas Jawa Tondano di Gorontalo.

Momen ini pun menjadi pengingat bahwa tradisi bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga dirasakan—hangat, akrab, dan penuh makna di setiap suapannya.

Salah satu pelaku usaha Hartati yang merupakan warga Dusun Talikuran, Desa Reksonegoro, Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo, Jumat mengatakan persiapan produksi dodol dan nasi bulu telah dimulai sejak pertengahan bulan ramadhan untuk memenuhi permintaan pelanggan.

“Kami menerima pesanan dodol ukuran kecil 3.500 bungkus, ukuran besar 1.500 bungkus, sementara nasi bulu 500 ujung, kalau di sini kita menyebutnya dalam takaran per ujung bambu,” kata Hartati.

Ia mengatakan dodol dijual dengan harga Rp3.000 per bungkus kecil dan Rp5.000 untuk ukuran besar.

Sedangkan nasi bulu dijual Rp35.000 per bulu atau bambu khusus lemang.

Seluruh proses pembuatan masih dilakukan secara mandiri oleh anggota keluarga, tanpa melibatkan tenaga kerja tambahan.

Hal itu untuk menjaga cita rasa khas yang telah dipertahankan selama bertahun-tahun.

Hartati mengaku telah menjalankan usaha tersebut selama lebih dari 10 tahun dan tetap mempertahankan tradisi kuliner Jawa Tondano, yang identik saat perayaan lebaran ketupat setiap 7 Syawal atau sepekan setelah hari raya Idul Fitri.

Ia berharap ke depan usaha yang dijalankannya dapat terus berkembang dan semakin dikenal luas oleh masyarakat, serta mampu mempertahankan kepuasan pelanggan.

“Semoga pelanggan selalu puas dan ke depan jualan ini semakin laris dan dikenal banyak orang,” kata dia.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.