Bus Wisata Disingkirkan dari Sumbu Filosofi, Jogja Ubah Pola Kunjungan

Jumat, 09 Jan 2026, 23:30 WIB

YOGYAKARTA – Langkah Pemerintah Kota Yogyakarta menyiapkan skema pengalihan bus pariwisata dari Kawasan Sumbu Filosofi mencerminkan upaya menyeimbangkan kepentingan pelestarian kawasan warisan budaya dengan kebutuhan mobilitas pariwisata.

Penataan parkir dan pengembangan Terminal Giwangan diposisikan sebagai instrumen untuk mengurangi kepadatan lalu lintas dan tekanan kendaraan berat di jantung kota, yang berisiko mengganggu nilai historis dan kenyamanan kawasan.

Ket. Foto: Pengendara melintas di dekat Keraton Yogyakarta, DI Yogyakarta, Selasa (19/9/2023). UNESCO menetapkan Sumbu Filosofi Yogyakarta yang menghubungkan Gunung Merapi dan Samudera Hindia menjadi warisan dunia. — Sumber: ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah.

Kebijakan ini sekaligus menggeser pola pergerakan wisata menuju sistem transportasi yang lebih terkelola, meski keberhasilannya sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur pendukung, konektivitas angkutan lanjutan, serta kepatuhan pelaku wisata dalam mengikuti skema baru tersebut.

Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Yogyakarta Agus Tri Haryono mengatakan kebijakan tersebut untuk mengurangi tekanan lalu lintas kendaraan besar di kawasan warisan budaya dunia itu.

"Salah satu tekanan terbesar datang dari pergerakan lalu lintas, khususnya bus pariwisata. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada kelancaran mobilitas, tapi juga berpengaruh terhadap kualitas kawasan dan keberlanjutan aktivitas ekonomi pariwisata," ujar Agus di Yogyakarta, Jumat.

Seperti diketahui, Sumbu Filosofi Yogyakarta membentang dari Panggung Krapyak di sisi selatan, melintasi Keraton Yogyakarta, hingga Tugu Yogyakarta di sisi utara.

Dalam konteks pelestarian kawasan tersebut, Pemerintah Kota Yogyakarta menilai pengendalian pergerakan kendaraan, khususnya bus pariwisata, menjadi salah satu tantangan utama di Kawasan Sumbu Filosofi yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia.

Menurut dia, kawasan Yogyakarta bagian selatan dengan pusat di Terminal Giwangan memiliki peran strategis sebagai simpul transportasi dan pintu masuk kota.

Kawasan itu tidak hanya difungsikan sebagai terminal, tetapi juga diarahkan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi wilayah selatan Kota Yogyakarta.

Agus menyampaikan Terminal Giwangan telah ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Kota dan menjadi salah satu lokus pembangunan prioritas dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah tahun 2025–2029.

Penguatan peran terminal itu diharapkan mampu mendukung pengalihan bus pariwisata tanpa mengganggu aktivitas di kawasan inti Sumbu Filosofi.

Pengembangan kawasan Terminal Giwangan semakin terbuka setelah Pemerintah Kota Yogyakarta memperoleh hak pengelolaan lahan di sisi selatan terminal.

Menurut Agus, hal tersebut memberikan peluang optimalisasi aset daerah secara terintegrasi, baik untuk fungsi transportasi, ekonomi, maupun pelayanan publik.

"Pengelolaan Kawasan Terminal Giwangan pada dasarnya merupakan bagian integral dari perjalanan strategis dan prioritas pembangunan Kota Yogyakarta, khususnya untuk mendorong pemerataan pembangunan wilayah selatan dan penguatan struktur ekonomi kota," ujar dia.

Penyusunan kawasan induk Kawasan Terminal Giwangan telah dilakukan melalui proses kajian selama lebih dari empat bulan dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menegaskan bahwa pengurangan tekanan kendaraan di Kawasan Sumbu Filosofi menjadi fokus utama kebijakan pemerintah kota saat ini.

Menurutnya, langkah pengalihan bus harus didahului dengan perhitungan kapasitas dan skenario yang realistis.

"Kalau fokus kita adalah mengurangi beban di Sumbu Filosofi, maka langkah-langkahnya harus konkret ke arah sana. Yang pertama, tekanannya harus berkurang. Kalau tekanannya berkurang, otomatis bus tidak masuk ke kawasan inti," ujar Hasto.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.