Ekspor Beras Vietnam Hadapi Keterlambatan

Kamis, 26 Mar 2026, 00:00 WIB

HANOI - Ekspor beras Vietnam mengalami gangguan seiring ketegangan di Timur Tengah mendorong kenaikan biaya pengiriman dan premi asuransi, menurut laporan Vietnam News Agency (VNA) pada Rabu (25/3).

Waktu pengiriman bertambah panjang antara 10 hingga 15 hari, sementara biaya transportasi domestik meningkat sebesar 20.000 dong Vietnam (1 dong Vietnam = Rp0,64) hingga 30.000 dong Vietnam, menurut laporan tersebut yang mengutip Direktur Jenderal Badan Perdagangan Luar Negeri di bawah naungan Kementerian Industri dan Perdagangan Vietnam, Nguyen Anh Son.

Ket. Foto: Ekspor beras Vietnam mengalami gangguan seiring ketegangan di Timur Tengah — Sumber: istimewa

“Para pengekspor menghadapi krisis kontainer dan layanan pengiriman yang dialihkan, memaksa para pedagang untuk menegosiasikan ulang kontrak, menunda pengiriman, atau menahan pesanan baru,” ungkaplaporan tersebut.

Menurut Kementerian Pertanian dan Lingkungan Vietnam, output padi Vietnam pada 2026 diperkirakan akan mencapai sekitar 45,6 juta ton, dengan 7,73 juta ton tersedia untuk ekspor.

Peringatan WTO

Sementara itu Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/WTO) memperingatkan gangguan terhadap pasokan pupuk yang disebabkan oleh perang di Timur Tengah bisa menimbulkan ancaman ganda terhadap ketahanan pangan global melalui kelangkaan dan harga tinggi.

“Pupuk adalah masalah nomor 1 yang menjadi perhatian hari ini. Jika tidak ada lagi pupuk, maka akan berdampak pada kuantitas dan juga harga,” kata Wakil Direktur Jenderal WTO, Jean-Marie Paugam, kepada AFP dalam sebuah sesi wawancara di Yaounde. “Efeknya bertambah pada tahun berikutnya: panen menyusut dan harga naik,” imbuh dia.

Pasokan gas alam yang melimpah di Teluk yang merupakan bahan utama pupuk buatan, telah menjadikan kawasan ini sebagai produsen utama. Namun produksi sangat terhambat akibat perang dan beberapa fasilitas utama terpaksa ditutup.

Eksportir makanan besar seperti India, Thailand dan Brasil bergantung pada Teluk untuk mendapatkan urea, pupuk berbasis nitrogen, sehingga membuat mereka rentan.

Sejak Iran memblokir Selat Hormuz, jalur pengiriman pupuk terhambat. Sepertiga pupuk di dunia biasanya transit di selat tersebut dan gangguan tersebut telah memicu banyak peringatan mengenai dampaknya terhadap produksi pangan.

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP, Antara, Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.