Ekonomi Global Bergejolak, Daya Beli Jadi Kunci Stabilitas
Rabu, 18 Mar 2026, 00:00 WIBDaya beli masyarakat perlu diamankan karena perannya sangat dominan dalam menopang ekonomi Indonesia.
JAKARTA â Menjaga daya beli masyarakat menjadi krusial di tengah tekanan ekonomi global yang dipicu gejolak geopolitik dan lonjakan harga energi, karena konsumsi domestik masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi. Pelemahan daya beli tidak hanya menekan permintaan, tetapi juga berpotensi memperlambat aktivitas usaha dan mempersempit ruang pemulihan.
Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai daya beli masyarakat harus menjadi prioritas utama untuk dijaga di tengah meningkatnya tekanan ekonomi global yang dipicu gejolak geopolitik dan kenaikan harga energi.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman menegaskan daya beli masyarakat harus dijaga karena konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar 53 persen terhadap ekonomi Indonesia. Di tengah tekanan global yang dipicu kondisi fiskal dan kebijakan ekspansif Amerika Serikat (AS) serta potensi lonjakan harga minyak dunia, risiko inflasi, pelemahan rupiah, dan volatilitas pasar kian meningkat.
Dampak terbesar akan dirasakan kelompok menengah ke bawah, sehingga intervensi kebijakan untuk menjaga konsumsi menjadi krusial agar pertumbuhan ekonomi tidak ikut tertekan. âKebutuhan kebijakan tentu menuntut daya beli atau juga consumption rumah tangga ini diintervensi. Oleh karena itu, intervensi pemerintah diperlukan agar guncangan eksternal tidak langsung menghantam daya beli masyarakat,â ujarnya, seperti dikutip dari Antara, Selasa (17/3).
Seperti diketahui, pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan tarif tenaga listrik Triwulan II (April-Juni) tahun 2026 tidak akan naik. Kebijakan ini diambil sebagai upaya pemerintah menjaga daya beli masyarakat. Dengan itu, masyarakat tak perlu khawatir menghadapi periode Hari Raya Idulfitri 2026/1447 H.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Tri Winarno, menyampaikan pengambilan kebijakan tidak menaikkan tarif listrik mengacu pada ketentuan yang berlaku serta mempertimbangkan kondisi ekonomi masyarakat. "Masyarakat tidak perlu cemas, karena Pemerintah telah menetapkan tarif listrik periode triwulan II tahun 2026 tetap. Penetapan ini dilakukan untuk menjaga daya beli masyarakat jelang Hari Raya Idulfitri, setelah dilakukan perhitungan terhadap berbagai parameter ekonomi makro," ujar Tri di Jakarta, Senin (17/3).
Ketahanan Energi
Pemerintah juga mengimbau masyarakat untuk menggunakan listrik secara efisien dan bijak sebagai bagian dari upaya bersama dalam mendukung ketahanan energi nasional.
Sesuai Peraturan Menteri ESDM Nomor 7 Tahun 2024 tentang Tarif Tenaga Listrik yang Disediakan oleh PT PLN (Persero), evaluasi penyesuaian tarif tenaga listrik bagi bagi 13 golongan pelanggan non-subsidi dilakukan setiap tiga bulan berdasarkan perubahan realisasi parameter ekonomi makro, meliputi nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat, Harga Rata-Rata Minyak Mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ ICP), inflasi, serta Harga Batubara Acuan (HBA).
Untuk penetapan tarif Triwulan II tahun 2026, parameter ekonomi makro yang digunakan adalah realisasi pada periode November 2025 hingga Januari 2026, yaitu kurs sebesar 16.743,46 rupiah per dollar AS, ICP sebesar 62,78 dollar AS per barel, inflasi sebesar 0,22 persen, serta HBA sebesar 70 dollar AS per ton sesuai kebijakan DMO batu bara.
Berdasarkan perhitungan parameter tersebut, secara formula tarif tenaga listrik berpotensi mengalami perubahan. Namun untuk menjaga daya saing industri, daya beli masyarakat, serta stabilitas ekonomi nasional di tengah kondisi global, pemerintah memutuskan tarif listrik tidak berubah. Begitu pula untuk 25 golongan pelanggan bersubsidi juga tidak mengalami perubahan.
Selain itu, Kementerian ESDM mendorong PT PLN (Persero) untuk terus menjaga keandalan pasokan listrik, meningkatkan kualitas pelayanan kepada pelanggan, serta mengoptimalkan efisiensi operasional guna memastikan penyediaan tenaga listrik yang andal dan berkelanjutan.
Terkait keandalan dan pasokan listrik selama libur Hari Raya Idulfitri 1447 H/2026. Pemerintah memastikan kondisi sistem kelistrikan nasional, khususnya di wilayah Jawa-Bali, berada dalam keadaan aman dengan cadangan daya yang memadai untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Kepastian ini disampaikan setelah Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot meninjau langsung kesiapan operasional PLTA Saguling di Kabupaten Bandung Barat, Senin (16/3).
"Hari ini dari Posko Nasional Sektor ESDM melakukan kunjungan untuk melihat kesiapan kellistrikan. Jadi, untuk pasokan ketenagalistrikan, kita ingin melihat kesiapan secara keseluruhan dari PLTA Saguling memasok sistem Kelistristrikan Jawa-Bali," ujar Yuliot usai rapat dengan pimpinan PT PLN di lokasi.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Pemkab Bantul Siapkan Rp2,3 Miliar APBD 2026 untuk Perbaikan Infrastruktur Rusak
-
Jakarta Komit Jaga Stabilitas Ekonomi
-
Inggris Pilih Andalkan Armada Kapal Selam dan Menolak Memperluas Pencegahan Serangan Nuklir dengan Jet F-35A
-
Arus Mudik H-2 Lebaran 2026 Padat Merayap
-
Ribuan Pendaki Padati Dua Gunung di Kerinci Selama Libur Nataru
-
Sudinkes Jaksel: Kasus DBD Banyak Menyerang Remaja dan Dewasa Muda
-
Liga Champions: Arsenal di Atas Angin, Leverkusen Ditantang Bangkit di Emirates
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.