Riset: Bukan Cuma Gaji, Teman Kerja Jadi Faktor Kebahagiaan Pekerja Indonesia
Rabu, 05 Agu 2026, 18:02 WIBJAKARTAâ Persahabatan di tempat kerja ternyata memiliki kaitan erat dengan kebahagiaan pekerja Indonesia. Temuan tersebut tercermin dalam laporan Workplace Happiness Index yang dirilis Jobstreet by Seek pada Januari 2026.
Temuan ini menunjukkan bahwa kebahagiaan pekerja tidak hanya ditentukan oleh faktor finansial. Hubungan interpersonal yang kuat, keseimbangan kehidupan dan pekerjaan (work-life balance), serta rasa memiliki tujuan dalam pekerjaan (purpose) juga menjadi faktor yang berpengaruh.
Bagi pekerja yang menghabiskan sebagian besar waktunya di tempat kerja, hubungan dengan rekan kerja dapat berkembang menjadi salah satu sumber dukungan sosial. Interaksi tersebut dapat terbentuk melalui kolaborasi sehari-hari, diskusi di ruang kerja, hingga percakapan informal.
Dukungan Rekan Kerja Bantu Hadapi Tekanan
Kompensasi masih menjadi salah satu pertimbangan penting bagi pekerja. Berdasarkan riset Jobstreet, sebanyak 54 persen pekerja menyebut gaji yang lebih tinggi sebagai hal yang diinginkan ketika mempertimbangkan pekerjaan.
Namun, faktor finansial bukan satu-satunya yang menentukan kebahagiaan maupun keputusan pekerja untuk bertahan di sebuah perusahaan.
Ketika menghadapi beban pekerjaan, dukungan dari rekan kerja atau tim menjadi salah satu faktor penting. Sebanyak 77 persen pekerja Indonesia dalam riset tersebut menyebut tim yang suportif sebagai salah satu pemicu kebahagiaan.
Dukungan sosial di lingkungan kerja dapat membantu pekerja menghadapi tekanan dan menciptakan rasa memiliki terhadap organisasi. Hubungan yang positif dengan rekan kerja juga berpotensi mengurangi rasa terisolasi ketika menghadapi tuntutan pekerjaan.
Pertemanan Mendukung Kolaborasi
Hubungan yang baik antarpegawai juga dapat memengaruhi cara sebuah tim bekerja. Komunikasi yang lebih terbuka memungkinkan karyawan berbagi gagasan, memberikan masukan, dan mendiskusikan persoalan tanpa terlalu dibatasi kekhawatiran terhadap konflik personal.
Selain dukungan tim, kondisi lingkungan kerja turut menjadi perhatian. Sebanyak 76 persen pekerja Indonesia menilai lokasi dan atmosfer tempat kerja yang kondusif turut mendukung terciptanya lingkungan kerja yang nyaman.
Lingkungan yang ramah dan terbuka dapat membantu membangun kepercayaan antarpegawai. Dalam kondisi tersebut, proses bertukar ide maupun penyelesaian masalah dapat berlangsung lebih responsif.
Hubungan dengan Tujuan Pekerjaan
Persahabatan di tempat kerja juga dapat membantu pekerja melihat hubungan antara tugas sehari-hari dengan tujuan yang lebih besar. Dalam Workplace Happiness Index, rasa bahwa pekerjaan memiliki makna atau purpose disebut berkontribusi terhadap 75 persen faktor kebahagiaan pekerja.
Ketika sebuah tim memiliki hubungan yang solid, target perusahaan yang semula terasa abstrak dapat dipahami sebagai tujuan bersama. Kondisi tersebut dapat mendorong rasa memiliki dan membuat pekerja lebih memahami kontribusi mereka terhadap organisasi.
Membangun Psychological Safety
Hubungan interpersonal yang sehat juga berkaitan dengan terciptanya psychological safety, yakni kondisi ketika karyawan merasa aman untuk menyampaikan pendapat, bertanya, mengakui kesalahan, maupun mengemukakan gagasan tanpa takut mendapat konsekuensi sosial yang negatif.
Lingkungan kerja yang membuat karyawan merasa diterima dan dihargai dapat memberikan ruang bagi munculnya kreativitas dan inovasi. Karyawan juga dapat lebih berani mengambil risiko yang terukur, mengajukan gagasan baru, serta memberikan dukungan kepada rekan kerja ketika perusahaan menghadapi tantangan.
Tantangan bagi Perusahaan dan HR
Temuan Jobstreet tersebut memberikan gambaran bahwa kompensasi tetap memiliki peran penting dalam menarik talenta, tetapi bukan satu-satunya faktor yang menentukan pengalaman pekerja di perusahaan.
Relasi antarpegawai dan budaya organisasi menjadi bagian yang perlu diperhatikan perusahaan untuk menciptakan lingkungan kerja yang membuat karyawan ingin bertahan.
Momentum Hari Persahabatan Internasional juga dapat menjadi pengingat bagi perusahaan dan pengelola sumber daya manusia (HR) mengenai pentingnya membangun ruang interaksi yang sehat di tempat kerja.
Perusahaan tidak hanya dituntut mengejar target operasional dan Key Performance Indicators (KPI), tetapi juga perlu menciptakan lingkungan yang mendukung komunikasi dua arah, kolaborasi, serta hubungan profesional yang saling menghargai.
Budaya kerja yang inklusif, apresiatif, dan suportif pada akhirnya dapat menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk meningkatkan pengalaman kerja sekaligus memperkuat produktivitas dan retensi karyawan di tengah dinamika pasar tenaga kerja.
- dunia kerja
- sumber daya manusia
- Karyawan
- Pekerja Indonesia
- Jobstreet
- Karier
- Jobstreet by Seek
- lingkungan kerja
- psychological safety
- Workplace Happiness Index
- Budaya Kerja
- human resources (HR)
- HR
- produktivitas kerja
- kepuasan kerja
- Retensi Karyawan
- Kebahagiaan pekerja
- Teman kerja
- Work-life balance
- Turnover karyawan
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Urban Farming Hapus Citra Bertani Itu Kotor
-
Sprite Nipis Mint Hadir di Indonesia, Simak Varian Ukuran Kemasan dan Saluran Penjualannya
-
Libur Sekolah, Masyarakat Nikmati Diskon Tarif Transportasi
-
Festival Budaya Pantai Pasir Padi, Strategi Pangkalpinang Dongkrak Pariwisata Daerah
-
Ambisi Adopsi AI di Indonesia Terhambat Kesiapan Digital dan Pengalaman Karyawan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.