Israel Lancarkan Serangan Darat terhadap Hizbullah di Lebanon

Selasa, 17 Mar 2026, 01:00 WIB

YERUSALEM – Israel pada Senin (16/3), menyatakan telah melancarkan operasi darat terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon selatan, sementara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meningkatkan tekanan kepada negara-negara besar dunia untuk membantu membuka kembali jalur pelayaran strategis yang terganggu oleh serangan Iran.

Dikutip dari AFP, ketegangan meningkat setelah Iran menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz serta meluncurkan gelombang serangan rudal dan drone ke berbagai target di kawasan Teluk sebagai balasan atas operasi militer yang dilakukan AS dan Israel. Dampaknya, harga minyak dunia melonjak sekitar 40–50 persen karena kekhawatiran gangguan pasokan energi global.

Ket. Foto: Tentara Israel terlihat di antara kendaraan tempur di Galilea, di Israel utara dekat perbatasan Lebanon pada 16 Maret 2026. — Sumber: AFP/Odd Andersen

Pada akhir pekan lalu, Trump meminta sejumlah negara, termasuk China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris untuk mengirim kapal perang guna mengawal kapal tanker melewati Selat Hormuz yang lebarnya hanya sekitar 33 kilometer di titik tersempitnya.

Kepada Financial Times, Trump memperingatkan bahwa akan “sangat buruk bagi masa depan NATO” jika negara-negara tersebut menolak membantu. Ia bahkan mengancam menunda pertemuan puncak yang direncanakan dengan Presiden China Xi Jinping. Namun Jepang dan Australia telah menyatakan tidak berencana mengerahkan pasukan.

Lebih dari dua pekan sejak perang di Timur Tengah pecah, juru bicara militer Israel Brigadir Jenderal Effie Defrin mengatakan negaranya masih memiliki banyak target di Iran.

“Kami masih memiliki ribuan target di Iran, dan kami mengidentifikasi target baru setiap hari,” ujarnya.

Israel juga mengumumkan peluncuran “operasi darat terbatas” terhadap Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon selatan, yang menjadi salah satu front utama konflik regional.

“Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pertahanan yang lebih luas untuk membangun dan memperkuat postur pertahanan garis depan,” kata militer Israel.

Pengumuman tersebut disampaikan beberapa jam setelah Israel melancarkan serangan baru di pinggiran selatan Beirut, yang merupakan basis kuat Hizbullah dan biasanya dihuni ratusan ribu warga. Pada awal perang, Israel bahkan mengeluarkan peringatan evakuasi untuk wilayah tersebut, memicu gelombang pengungsian besar di Lebanon selatan.

Konflik telah meluas ke berbagai wilayah. Iran menanggapi serangan AS dan Israel dengan menyerang sedikitnya 10 negara yang menampung pasukan Amerika.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyerukan negara-negara lain untuk tidak memperluas konflik.

Ia meminta dunia internasional “menahan diri dari tindakan apa pun yang dapat menyebabkan eskalasi dan perluasan konflik” serta mendesak negara-negara tetangga “untuk mengusir agresor asing”.

Sementara itu, Garda Revolusi Iran menyatakan telah menembakkan sekitar 700 rudal dan 3.600 drone ke berbagai target AS dan Israel sejak konflik dimulai.

Serangan tersebut juga berdampak pada negara-negara Teluk. Bandara di Dubai, yang biasanya menjadi bandara internasional tersibuk di dunia, mulai memulihkan operasional secara bertahap setelah serangan drone memicu kebakaran tangki bahan bakar di dekat fasilitas bandara.

Uni Emirat Arab dilaporkan menerima sekitar 1.800 rudal dan drone Iran, meski sebagian besar berhasil dicegat sistem pertahanan udara.

Di tempat lain, Arab Saudi mencegat lebih dari 60 drone sejak tengah malam, sementara serangan roket di Baghdad melukai lima orang di area bandara yang juga menjadi lokasi fasilitas diplomatik AS.

Dampak Global

Blokade Selat Hormuz mulai terasa di seluruh dunia. International Energy Agency menyatakan negara-negara anggotanya akan melepaskan sekitar 400 juta barel minyak dari cadangan strategis untuk menstabilkan pasar energi global.

Negara-negara Asia dan Oseania akan menjadi pemasok pertama, diikuti Eropa dan Amerika dalam beberapa minggu ke depan.

Di Jepang, yang bergantung pada Timur Tengah untuk sekitar 95 persen impor minyaknya, pemerintah menurunkan tingkat cadangan nasional dan mulai melepas sebagian stok energi.

Sementara itu, pemerintah Australia mengimbau masyarakat tidak melakukan penimbunan atau spekulasi harga, sedangkan restoran di India mulai menyesuaikan menu mereka untuk menghemat penggunaan gas memasak akibat lonjakan harga energi.

  • Ketegangan Regional

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: AFP, Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.