Tolak Kirim Kapal Perang ke Iran, Jerman Tak Ingin Terseret Konflik

Senin, 16 Mar 2026, 19:15 WIB

JAKARTA - Pemerintah Jerman secara tegas menolak permintaan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang meminta dukungan militer sekutu dalam konflik melawan Iran. Penolakan tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius yang menilai perang tersebut bukan bagian dari kepentingan negaranya.

Pistorius menyampaikan sikap tersebut dalam pernyataan kepada media di Berlin pada Senin waktu setempat. Ia mempertanyakan urgensi keterlibatan negara-negara Eropa dalam konflik yang menurutnya tidak mereka mulai sejak awal.

Ket. Foto: Pemerintah Jerman secara tegas menolak permintaan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang meminta dukungan militer sekutu dalam konflik melawan Iran. Penolakan tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius yang menilai perang tersebut bukan bagian dari kepentingan negaranya. — Sumber: The Korea Times

Ketegangan geopolitik meningkat setelah Washington mengisyaratkan bahwa sekutu NATO diharapkan turut membantu operasi militer terhadap Iran. Namun Jerman justru mengambil posisi berbeda dengan menegaskan bahwa keterlibatan militer bukan pilihan yang realistis bagi negara-negara Eropa saat ini.

Menurut Pistorius, kontribusi militer kecil dari negara-negara Eropa tidak akan memberikan perubahan berarti terhadap operasi militer yang dipimpin Amerika Serikat. Ia menilai kemampuan angkatan laut Amerika Serikat jauh lebih besar dibandingkan dengan armada terbatas yang dimiliki negara-negara Eropa.

"Apa yang Donald Trump harapkan dari segelintir atau dua genggam kapal fregat Eropa di Selat Hormuz yang tidak dapat dilakukan oleh angkatan laut AS yang perkasa?" tuturnya

Pernyataan tersebut menggambarkan keraguan Berlin terhadap efektivitas kontribusi militer Eropa dalam konflik tersebut. Pistorius menegaskan bahwa kekuatan militer Amerika Serikat sudah jauh lebih dari cukup untuk menjalankan operasi di kawasan tersebut.

"Ini bukan perang kami, kami tidak memulainya," ujarnya.

Pernyataan itu menegaskan posisi politik Jerman yang tidak ingin terseret lebih jauh dalam konflik Timur Tengah yang semakin memanas. Pemerintah Jerman menilai bahwa keterlibatan militer langsung hanya akan memperluas eskalasi konflik dan meningkatkan risiko keamanan global.

Trump sebelumnya memperingatkan bahwa NATO dapat menghadapi masa depan yang sangat buruk jika para anggotanya menolak membantu Amerika Serikat dalam konflik tersebut. Pernyataan itu memicu kekhawatiran akan potensi perpecahan di dalam aliansi militer terbesar di dunia tersebut.

Namun Pistorius menilai kekhawatiran tersebut terlalu berlebihan dan tidak mencerminkan kondisi sebenarnya dalam hubungan antar anggota NATO. Ia menekankan bahwa perbedaan pandangan dalam sebuah aliansi internasional adalah hal yang wajar.

Menurutnya NATO telah menghadapi berbagai dinamika politik selama puluhan tahun dan tetap mampu bertahan. Aliansi tersebut dinilai cukup kuat untuk menghadapi perbedaan kebijakan tanpa harus berujung pada perpecahan.

Ketegangan antara Washington dan beberapa sekutu Eropa dalam isu kebijakan luar negeri memang bukan hal baru. Dalam sejumlah kesempatan sebelumnya, negara-negara Eropa juga kerap mengambil pendekatan yang berbeda terhadap konflik di Timur Tengah.

Bagi Jerman, keputusan untuk tidak terlibat secara militer merupakan langkah yang didasarkan pada kepentingan nasional dan stabilitas regional. Berlin menilai bahwa pendekatan diplomatik dan upaya deeskalasi konflik masih menjadi jalur yang lebih efektif dibandingkan aksi militer langsung.

Pernyataan Pistorius sekaligus menunjukkan bahwa Jerman tetap ingin menjaga hubungan dengan Amerika Serikat tanpa harus mengikuti seluruh kebijakan militernya. Sikap ini mencerminkan upaya Berlin untuk mempertahankan keseimbangan antara solidaritas NATO dan kepentingan strategis nasionalnya.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

Berita Terbaru

Telkom Dorong Kedaulatan Digital Nasional Lewat Penguatan Cloud, AI, dan Keamanan Siber

Sirene Meraung di IT Semarang, Simulasi Darurat Pertamina Uji Ketangguhan Hadapi Tumpahan Minyak dan Kebakaran Laut

Cermati Pengalihan Lalu Lintas Selama Jam Bebas Kendaraan di Jalan Rasuna Said  

Operasi Katarak Gratis di Kapuas Hulu Kembalikan Harapan Melalui Penglihatan

Buruan War Tiket Kereta Api, Ada Potongan 30 Persen

Jateng Kejar Target 970 Ribu Hektare Lahan Sawah Dilindungi, Gubernur Luthfi: Jangan Sampai Beralih Fungsi

Pemprov Jateng Raih Penghargaan Pengendalian Inflasi Terbaik Regional Jawa-Bali, Ahmad Luthfi Tekankan Kolaborasi Daerah

Sony Rilis Poster Spider-Man: Brand New Day Versi Tiongkok, Sinopsis Evolusi Peter Parker dan Atagonis Misterius

Kuasai 72 Persen Pasar Herbal Nasional, Perusahaan Jamu Terbesar ini Percepat Ekspansi ke China dan India

Mahasiswa Kedokteran UNNES Belajar Riset Herbal

85 Investor Global Lirik Proyek Sampah Jadi Listrik Rp3 Triliun, Wali Kota Agustina Dorong Semarang Jadi Magnet Investasi Hijau

Cimahi Berpeluang Jadi Kota Animasi Indonesia, Didukung DPR RI

Kota Semarang Raih Penghargaan Nasional Creative Financing, Bukti Inovasi Pembiayaan Pembangunan Kian Diakui

Kabar Baik! KAI Berikan Diskon 30 Persen Tiket KA Ekonomi saat Libur Sekolah

Semoga Dihemat Tidak Dihambur-hamburkan, Pemerintah Sedot Utang Lagi Rp386 Triliun

Mencari “Yesus yang Tersamar”, 35 Tahun Sinta Hidayat Melayani Pemulung dan Tunawisma Jakarta

Mau Liburan Keluarga? Pastikan Dana Darurat dan Biaya Sekolah Sudah Aman

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.